Halooo para pecinta Film dan terutama Fans JKT48,
kali ini gue mau coba Review Film VIVA JKT48 yang udah tayang serempak di
tanggal 5 JUNI 2014 lalu, So Check it out Guys.
Awi Suryadi salah seorang sutradara yang cukup ternama
di indonesia kali ini diberi tantangan untuk membuat salah satu Film dari Idol
Group Indonesia, yaitu JKT48. Film ini merupakan film ke-13 Awi Suryadi selama
berkiprah di dunia perfilman Indonesia setelah sebelumnya sang sutradara
merampungkan Film Street Society.
Oke, yang pertama mengenai genre yang diusung di
Film VIVA JKT48 ini adalah “DRAMA KOMEDI”. Disini setelah gue lihat sendiri
filmnya, Drama Komedi yang diusung di Film VIVA JKT ini bisa gue bilang sangat
sangat sangat ringan sekali, kalo bisa pake ditambahin kata “BANGET”
dibelakangnya bakalan gue tambahin deh nih. Kenapa begitu? Karena yang gue
lihat sepanjang film ini hanya mengandalkan “KOMEDI SLAPSTICK” tanpa ditunjang dengan cerita yang kuat. Apa itu
komedi slapstick? Komedi slapstick adalah jenis komedi yang mengandalkan adegan
lucu dengan gerak badan/gesture tubuh. Contohnya : ketika salah seorang wota
bertemu member di lawson secara tidak sengaja, dia gugup kemudian berlari
menuju apartemen untuk memberitahu 2 teman wota lainnya, atau saat “babe”
pegawai lawson ingin membersihkan lawson dipagi hari tapi masih mendapati
beberapa member tidur didalam lawson. Dan slapstick itu pun hanya terdapat di
awal film hingga kurang lebih di menit 30’.
Waduuuh, maaf ya kalo di review pertama udah kurang
menyenangkan. Tapi gue coba se-objective mungkin me-review film VIVA JKT48 ini,
karena sebenernya gue sendiri suka sama JKT48.
Lanjut review dibagian kedua, disini gue akan
membahas mengenai cerita/alur cerita yang disuguhkan di Film VIVA JKT48. Dan
lagi-lagi gue harus mengungkapkan rasa kecewa gue. Seperti gue bilang diawal,
cerita yang diangkat di film ini sangatlah ringan. Dengan premis “member JKT48
yang ingin merebut kembali theater JKT48 dari miss Kejora”. Ada beberapa bagian di film ini yang
konfliknya entah secara sengaja atau tidak “SENGAJA DI ADA-ADAIN” jadi
singkatnya, di Film ini konflik itu gampang banget muncul, dan gampang banget
selesai! Yang paling gue sorot adalah ketika member udah dapet uang untuk
konser, mendadak ingin disumbangkan buat anak takeshi-san, namun pada akhirnya
uang itu nggak jadi dipake. Please deh, kayak nggak ada konflik lain aja! Ini
Cuma konflik tempelan yang “emang sengaja di ada-adain” kenapa gue bilang gitu,
karena dari awal kita nggak pernah secara langsung dikasih lihat anak
takeshi-san yang sakit dan tiba-tiba dibelakang cerita mendadak muncul dengan
kondisi yang udah parah. Kalau emang ini mau di jadiin subplot, harusnya dari
awal anak takeshi-san harus dimunculkan, dan diperlihatkan juga bagaimana
perjuangan takeshi-san merawat anaknya. Bukan Cuma diperlihatkan dengan dialog
kalo anak takeshi-san sakit dan hanya “suara anak kecil nangis”. Kemudian alur
film ini juga gue bilang jomplang, hanya menarik di 30 menit awal, dan
lagi-lagi gue harus bilang ini terbantu dengan pemeran tambahan dari para
“stand up comedy” yang ambil bagian di film ini. Cara penyelesaian masalah yang
diperlihatkan di film ini terlalu bertele-tele, jadinya draging parah dan itu
yang membuat gue ngerasa “bosen” banget selama nonton film ini. Nggak ada
something yang buat greget disetiap PLOT ceritanya.
Fyuh....
Yang ketiga gue akan coba bahas sedikit mengenai
akting para member dalam Film Viva JKT48 ini. Secara keseluruhan sih akting
para member udah cukup bagus, terutama Shanju yang basicly waktu kecil dia
emang udah sering main ftv. Tapi kredit tersendiri harus gue kasih ke Yupi.
Yang gue lihat akting yupi ini mungkin nggak sebagus Shanju atau nabilah, tapi
gue nilai akting Yupi yang kelihatan paling Natural diantara yang lain J dan gue harus menyorot Achan nih, beberapa
kali saat ada di frame beberapa detik sebelum di CUT, achan kelihatan
senyum-senyum nahan ketawa, padahal itu lagi di scene yang serius. Yang gue
inget banget terutama waktu scene dirumah takeshi-san. Kalo kalian perhatiin
detail, beberapa detik sebelum frame kamera pindah, achan sempet senyum-senyum
nahan ketawa. Huuuh, tapi ya nggak apalah, mungkin itu luput dari editingnya.
Kalo dilihat secara sepintas nggak ketauan memang, tapi kalo kalian detail
pasti kelihatan achan lagi senyum-senyum nahan kayak yang nahan ketawa. Tapi
biar bagaimanapun apresiasi tersendiri harus diberikan ke semua member yang
udah berusaha untuk beradu akting di film perdana mereka.
Jujur gue sangat kecewa dengan film VIVA JKT48 ini,
entah kesalahan ini ada dimana gue nggak tau. Namun dari kabar yang gue terima
juga dari sumber yang bisa dipercaya, Film ini kurang laku dipasaran. Film ini
hanya ditonton kurang dari 100.000 penonton. Yang artinya, pihak PH pun mengalami
kerugian besar. Dengan pengerjaan Film hanya 13 Hari, sebenernya wajar aja
kalau Film ini jadi terlihat kurang maksimal, dan kalau gue boleh berpendapat,
VIVA JKT48 ini bisa lebih dibilang adalah FTV+ bila dilihat dari karakteristik
cerita dan prosesnya, bukan murni Film. Dan itu juga terbukti belum ada satu
bulan di bioskop, Film ini udah turun karena kurangnya minat dari masyarakat.
Overall, jujur gue kecewa banget sama Film ini.
Harusnya seorang Awi Suryadi bisa membuat Film ini bisa lebih greget, karena
kabarnya film ini juga akan tayang dibeberapa negara tetangga juga. So, mungkin
segini review yang bisa gue kasih untuk film VIVA JKT48, tapi yang paling
penting keep support Oshi kalian ya
guys.
By
: Rie
Haihaihaaaii setelah beberapa lama kalian udah berinteraksi sama beberapa admin di @QueenDanceJKT48 pasti belum pada tahu kan identitas kita? Sok misterius dengan cuma pake HT setiap ngadmin, ya sama kaya fanbase-fanbase lainnya. Nah “mungkin” buat yg kepo sama identitas kita bisa di cek disini. Tapi jangan terlalu serius bacanya, kita juga buatnya ga serius-serius banget :v Check it out!!
Nama : Rie
TTL : Kediri, 21 Juni
Domisili : Karawang
Umur : Alhamdulillah masih ada
HT Admin : #OwnRV
Status : Kerja
Acc Pribadi : @riezakaria
Oshi : Beby Chaesara Anadilla
Alasan mengidolakan Oshi : jatuh cinta pada pandangan pertama waktu liat mata sama senyumnya
Alasan jadi Fans JKT48 : karena ada sesuatu di bulan November di tahun 2013.
Nama : Djie
TTL : Di Bumi, Abad 20 Setelah Masehi. :v
Domisili : Depok
Umur : Masih Mudalah~. :3.
HT Admin : #J
Status : Kerja(in orang... :v)
Acc Pribadi : -Rahasia- (kebanyakan "nyampah" di TL. :v )
Oshi : Sendy~
Alasan Mengidolakan Oshi : "click" dari awal ngeliat. ._.
Alasan jadi Fans JKT48 : berawal karena "diracunin" temen. :v
Nama : Ayu Amelia Agustin
Panggilan : Ayu
TTL : Jakarta, 24 Agustus 1995
Domisili : Jakarta
Umur : hitung aja deh sendiri :p
HT admin : #ay
Status : Kerja
Acc Pribadi : @ayuameliags
Oshi : Beby!
Alasan mengidolakan oshi : ga pernah ada alasan buat gue suka sama seseorang #ciegitu
Alasan jadi Fans JKT48 : suka liat kekompakan fansnya sama bisa dapet temen baru sesama fans
Nama : Nanda Putra Kalih Suprapto
Panggilan : Condut
TL : Majalengka, 19 Oktober 1995
Domisili : Majalengka
Umur : 19
HT Admin : #CON
Status : Kerja
Acc Pribadi : @PutraKalih22
Oshi : Melody NL
Alasan mengidolakan oshi: Karena dia adalah seorang pecinta alam dan juga cantik :v
Alasan jadi Fans JKT48 : Karena Semangat juang yang ga pernah berhenti sampai mati kaya semangat taun 45
Nama: Muhammad Syifa Attawwabin
Panggilan: Sipa
TTL: Serang, 05 November 1998
Domisili: Serang – Banten
Umur: 15
HT: Admin #ROP
Status : Pelajar
Acc Pribadi : @M_Syifa48
Oshi : Nabilah & Beby
Nama : Ardian elia martesa
Panggilan: ardian
TTL: 01 Maret 1995
Domisili: Jakarta Utara
Umur: 19
HT Admin: #AEM
Status : Kuliah
Acc Pribadi: @ardianeliamart
Oshi: Beby Chaesara Anadila
Alasan mengidolakan Oshi: karena dia bisa ngedance (karna gua suka cewe yg bisa dance )
Alasan jadi fans jkt48 : karena dari sistem mereka IDOL YG BISA DI TEMUI SETIAP SAAT :), dan dari segi peraturan mereka :)
Nama : Thania Tan
Panggilan : Thania
TTL : 23 September 1993
Domisili : Jakarta Pusat
Umur : 14 Tahun
HT Admin : #Tan
Status : Sekolah
Acc Pribadi : @Thania_Sjnisme
Oshi : eNjuminten
Alasan Mengidolakan Oshi : dia gesrek & terkadang suka kayak anak kecil
Alasan jadi Fans JKT48 : Keturunan Bapak & Abang
Nama : Sandhika Dewa Pratama
Panggilan : Sandhika
TTL : Sukabumi 01 February 1998
Domisili : Jakarta Selatan
Umur : 16 tahun
HT admin : #San
Status (sekolah/kuliah/kerja) : Sekolah
Acc Pribadi : @Sandhika_Dewa
Oshi : Nabilah dan Beby
Alasan mengidolakan Oshi : karena suka
Alasan jadi fans JKT48 : karena ada member yang di idolakan
Nama : Jenni Felly Lee
Panggilan : Jenni
TTL : Jakarta,12 Juli 1999
Domisili : Belitung
Umur : 14 th
HT admin : #Jeje
Status : Sekolah
Acc Pribadi : @jeniflee99
Oshi : Nabilah
Alasan Mengidolakan Oshi : Keinget nabilah jd punya semangat berjuang,she's my motivationAlasan jadi Fans JKT48 : Pengen deket aja buat sesama Fans dan yg pastinya selalu support oshi
Nama : Rie
TTL : Kediri, 21 Juni
Domisili : Karawang
Umur : Alhamdulillah masih ada
HT Admin : #OwnRV
Status : Kerja
Acc Pribadi : @riezakaria
Oshi : Beby Chaesara Anadilla
Alasan mengidolakan Oshi : jatuh cinta pada pandangan pertama waktu liat mata sama senyumnya
Alasan jadi Fans JKT48 : karena ada sesuatu di bulan November di tahun 2013.
Nama : Djie
TTL : Di Bumi, Abad 20 Setelah Masehi. :v
Domisili : Depok
Umur : Masih Mudalah~. :3.
HT Admin : #J
Status : Kerja(in orang... :v)
Acc Pribadi : -Rahasia- (kebanyakan "nyampah" di TL. :v )
Oshi : Sendy~
Alasan Mengidolakan Oshi : "click" dari awal ngeliat. ._.
Alasan jadi Fans JKT48 : berawal karena "diracunin" temen. :v
Nama : Ayu Amelia Agustin
Panggilan : Ayu
TTL : Jakarta, 24 Agustus 1995
Domisili : Jakarta
Umur : hitung aja deh sendiri :p
HT admin : #ay
Status : Kerja
Acc Pribadi : @ayuameliags
Oshi : Beby!
Alasan mengidolakan oshi : ga pernah ada alasan buat gue suka sama seseorang #ciegitu
Alasan jadi Fans JKT48 : suka liat kekompakan fansnya sama bisa dapet temen baru sesama fans
Nama : Nanda Putra Kalih Suprapto
Panggilan : Condut
TL : Majalengka, 19 Oktober 1995
Domisili : Majalengka
Umur : 19
HT Admin : #CON
Status : Kerja
Acc Pribadi : @PutraKalih22
Oshi : Melody NL
Alasan mengidolakan oshi: Karena dia adalah seorang pecinta alam dan juga cantik :v
Alasan jadi Fans JKT48 : Karena Semangat juang yang ga pernah berhenti sampai mati kaya semangat taun 45
Nama: Muhammad Syifa Attawwabin
Panggilan: Sipa
TTL: Serang, 05 November 1998
Domisili: Serang – Banten
Umur: 15
HT: Admin #ROP
Status : Pelajar
Acc Pribadi : @M_Syifa48
Oshi : Nabilah & Beby
Nama : Ardian elia martesa
Panggilan: ardian
TTL: 01 Maret 1995
Domisili: Jakarta Utara
Umur: 19
HT Admin: #AEM
Status : Kuliah
Acc Pribadi: @ardianeliamart
Oshi: Beby Chaesara Anadila
Alasan mengidolakan Oshi: karena dia bisa ngedance (karna gua suka cewe yg bisa dance )
Alasan jadi fans jkt48 : karena dari sistem mereka IDOL YG BISA DI TEMUI SETIAP SAAT :), dan dari segi peraturan mereka :)
Nama : Thania Tan
Panggilan : Thania
TTL : 23 September 1993
Domisili : Jakarta Pusat
Umur : 14 Tahun
HT Admin : #Tan
Status : Sekolah
Acc Pribadi : @Thania_Sjnisme
Oshi : eNjuminten
Alasan Mengidolakan Oshi : dia gesrek & terkadang suka kayak anak kecil
Alasan jadi Fans JKT48 : Keturunan Bapak & Abang
Nama : Sandhika Dewa Pratama
Panggilan : Sandhika
TTL : Sukabumi 01 February 1998
Domisili : Jakarta Selatan
Umur : 16 tahun
HT admin : #San
Status (sekolah/kuliah/kerja) : Sekolah
Acc Pribadi : @Sandhika_Dewa
Oshi : Nabilah dan Beby
Alasan mengidolakan Oshi : karena suka
Alasan jadi fans JKT48 : karena ada member yang di idolakan
Nama : Jenni Felly Lee
Panggilan : Jenni
TTL : Jakarta,12 Juli 1999
Domisili : Belitung
Umur : 14 th
HT admin : #Jeje
Status : Sekolah
Acc Pribadi : @jeniflee99
Oshi : Nabilah
Alasan Mengidolakan Oshi : Keinget nabilah jd punya semangat berjuang,she's my motivationAlasan jadi Fans JKT48 : Pengen deket aja buat sesama Fans dan yg pastinya selalu support oshi
“............Dan Kini aku mengerti............”.
Sebelum aku menyelesaikan kalimat terakhir dalam buku diary milikku ini, sejenak aku melihat kearah fotoku yang aku simpan diatas meja tempat biasa aku menulis diary ini. wajahku yang tergambar dalam foto itu terlihat sangat berseri – seri dengan seorang laki – laki yang dulu dirinya pernah mengisi kekosongan dalam hatiku ini. Namanya Tyo. Dia laki – laki yang sangat setia dan yang terbaik yang pernah aku miliki semenjak aku mengenakan seragam putih abu – abu. Tapi perlu dicatat juga bahwa laki – laki yang terbaik itu juga belum tentu merupakan cinta pertama dan terakhir bagi seseorang, termasuk aku. Begitu juga tyo, dia bukan laki – laki yang pertama yang telah mengisi kekosongan hatiku, karena sebelum Tyo hadir didalam kehidupanku, sudah ada kurang lebih 12 orang laki – laki yang datang dan pergi dari kehidupanku selama aku memakai seragam putih – biru. Dulu disekolah aku cukup dikenal dengan julukan princess tomboy. Karena sifatku dan dandananku ini yang cenderung terlihat tomboy oleh teman – temanku, namun walaupun begitu aku juga masih menyandang gelar primadona sekolah semenjak SMP dan SMA. Kulihat lagi fotoku yang lain yang berada diatas mejaku ini. masih sama fotoku bersama Tyo namun dengan ekspresi keceriaan yang berbeda – beda. Senyum kecil mulai menghiasai bibirku. Dan seolah – olah semua kenangan diriku bersama Tyo ini baru saja kualami kemarin.
Dan perlu aku akui juga, bahwa aku ini masih tidak bisa meninggalkan kebiasaan burukku untuk mengoleksi laki – laki lebih dari satu untuk menjadi pacarku. Selama aku duduk dibangku SMA dan berpacaran dengan Tyo, aku juga menjalin hubungan juga dengan 3 orang laki – laki lainnya, yaitu Adrian, Roby, dan Seno. Tapi seperti yang telah aku tuliskan sebelumnya bahwa walaupun begitu Tyo adalah yang terbaik yang pernah aku miliki. Senyumanku ini makin lama makin kurasakan sangat nyaman saat kulakukan itu sambil mengingat – ingat semua kejadian yang aku alami semasa aku SMA. Di masa itu aku lebih sering mengalami hal – hal yang buruk.
Pertengkaran demi pertengkaran yang kudengar dari kedua orangtuaku membuat kepalaku serasa akan pecah. Tidak hanya omongan – omongan keras yang keluar dari mulut kedua orang tuaku, tapi terkadang juga sering terdengar benda – benda pecah belah seperti piring, gelas dll jatuh dilantai akibat dibanting oleh kedua orang tuaku karena masing masing dari emosi mereka sudah sangat meluap. Dan pada akhirnya aku juga lah yang akan menjadi sasaran kemarahan dari kedua orang tuaku. Karena aku merupakan anak satu – satunya yang ada dalam keluarga ini.
Kemudian belum lagi tekanan dari kedua orang tuaku yang selalu memaksaku untuk mengikuti kemauan mereka untuk selalu menjadi juara dikelas dan kuliah disalah satu perguruan tinggi ternama, masuk kedalam jurusan kedokteran untuk menjadi dokter. Awalnya memang aku selalu menuruti segala kemauan kedua orang tuaku, akan tetapi semakin kesini aku merasa bahwa kedua orang tuaku selalu memaksa aku untuk menuruti kemauannya, apabila aku tidak menuruti kemauan mereka, kedua orang tuaku selalu memarahi aku habis – habisan dan terkadang juga memukulku hingga wajahku mulai terlihat kebiruan dibagian ujung bibir akibat tamparan keras dari orang tuaku.
“kenapa akhir – akhir ini mama selalu tampar aku? Selalu aja melampiaskan kemarahan mama yang engga’ jelas itu sama aku? Kenapa ma? Apa karena kemarahan ini semua akibat kekesalan mama terhadap perlakuan papa terhadap mama?”. Ujarku agak keras kepada mamaku setelah menampar pipiku.
“diam kamu Ghaida. Mama tampar kamu karena akhir akhir ini juga kamu selalu bersikap kurang ajar terhadap mama”. Bentak mamaku.
“apa salah aku ma? Apa selama ini Ghaida engga’ pernah turutin kemauan mama sama papa? Semua udah Ghaida lakuin ma, tapi please Ghaida mohon satu hal sama mama dan papa untuk tidak memaksakan kehendak mama dan papa untuk sepenuhnya mengatur kehidupan Ghaida. Karena Ghaida bukan boneka mainan papa dan mama yang bisa seenaknya mama perlakuin semau mama termasuk nyiksa Ghaida seperti ini”. Ucapku lagi.
Tanpa basa – basi lagi aku langsung meninggalkan mamaku dan pergi keluar rumah. Dengan spontan aku berjalan entah kemana, hanya mengikuti langkah kakiku pergi sesukanya dan hal yang sudah pasti kusadari namun tidak aku perdulikan adalah aku semakin jauh meninggalkan rumah. Padahal pada saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Karena aku merasa bosan sendirian, aku segera menghubungi Tyo untuk menemaniku disini. Setelah beberapa lama menunggu kedatangan Tyo, akhirnya dia datang sambil membawakanku sebuah minuman hangat yang mungkin dibawanya dari rumah.
“kamu kenapa harus keluar dari rumah sih Ghaida? Kamu kan bisa masuk aja kedalam kamar dan ngunci pintu. Besok kan hari senin, harus berangkat pagi buat ikut upacara”. Kata Tyo perlahan.
“ya mana aku tau say, aku spontan gitu aja keluar dari rumah. Kan tengsin kalau sekarang aku balik lagi ke rumah”. Ucapku dengan wajah sedikit cemberut.
“Terus sekarang kamu gimana? Nunggu semua orang dirumah kamu tidur terus kamu baru pulang ke rumah kamu dan masuk ngendap ngendap kayak maling?”. Ledek Tyo.
Walaupun situasi yang aku rasakan kurang baik, tapi jujur aku merasa sangat nyaman dan mulai sedikit melupakan kejadian yang baru saja aku alami dirumah. Hari yang semakin larut membuatku dan Tyo tidak menyadari sudah berapa lama Tyo menemaniku disampingku.
“sekarang kamu pulang gih, udah malem banget. Besok kita harus berangkat pagi – pagi kesekolah kalau
engga’ mau disuruh bersihin taman karena telat datang ke sekolah”. Ujar Tyo sambil tersenyum padaku.
Setelah pada malam itu aku berpisah dengan Tyo, aku tidak lantas pulang ke rumah. Aku masih berjalan – jalan untuk bisa lebih menenangkan pikiranku. Karena jujur aku sempat merasa sedikit depresi dengan segala tekanan yang ada dirumah.
Dan akhirnya aku pulang kerumah disaat waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Dengan tidak banyak waktu untuk aku beristirahat lagi, aku segera bersiap siap untuk berangkat kesekolah.
“kemana saja kamu semalaman? Sudah jadi anak brandal kamu?”. Tanya papaku yang tiba – tiba keluar dari kamarnya disaat aku baru saja turun dari tangga.
“Ghaida engga’ ngerasa kalau Ghaida udah jadi brandalan kok. Ghaida Cuma engga’ betah dirumah”. Jawabku sedikit cuek.
“apa maksud kamu menjawab dengan nada seperti itu? Kamu sudah berani sama papa?”. Bentak papaku.
“tampar Ghaida pa ! papa engga’ perlu marah – marah kalau pada akhirnya Ghaida bakalan ditampar sama papa! Dan juga engga’ bikin cape papa, pagi – pagi gini udah teriak – teriak”. Ucapku.
Benar saja apa yang baru saja aku katakan kepada papa, aku langsung ditampar oleh papa karena nada bicaraku yang terlihat sedikit cuek.
“makasih pa atas tamparan papa untuk yang kesekian kalinya buat Ghaida”. Ujarku.
Dengan bibir yang semakin terasa sakit dan terlihat semakin biru pada kulit pipiku yang putih, aku segera berangkat ke sekolah tanpa memperdulikan luka yang membekas dipipiku. Mungkin juga teman – temanku disekolah juga akan menyangka kalau aku habis berkelahi. Karena berkelahi juga merupakan salah satu hal buruk yang sering aku lakukan, bagi seorang wanita khususnya.
Hal – hal yang buruk tidak hanya sampai disitu saja. Semenjak munculnya masalah diantara kedua orang tuaku, nilai – nilaiku disekolah menjadi turun semua. Disekolah aku menjadi murid yang sedikit nakal. Ada saja kenakalan – kenakalan yang sering aku lakukan disekolahan.hal itu aku lakukan semata – mata karena aku ingin menghilangkan rasa jenuhku dengan setiap permasalahan yang ada.
Selesai upacara bendera, aku pegi ke toilet sebentar untuk membasuh wajahku yang dari tadi terasa sangat tidak enak akibat terkena sinar matahari pagi saat upacara berlangsung. Dan setelah aku keluar dari toilet dan hendak kembali ke kelas, secara tidak sengaja aku membaca selebaran brosur yang ditempel dimading sekolah tentang adanya lomba penulisan novel yang diadakan oleh salah satu instansi terkait dalam rangka memperingati dan memeriahkan hari ibu. Aku begitu antusias untuk mengikuti lomba tersebut, mengingat hobbyku dari dulu adalah menulis, aku selalu menuangkan hal – hal yang ada dalam imajinasiku untuk kemudian aku jadikan beberapa macam tulisan seperti cerpen, lagu, puisi, dan novel.
Terhitung mulai dari hari itu setelah mengetahui tentang informasi lomba tersebut, fokus aku kini hanya tertuju pada lomba itu. Dan aku seakan tidak memperdulikan segala sesuatu yang kini sedang menjadi permasalahan didalam otakku.
“Ghaida, bapak perhatikan dari tadi kamu seperti tidak memperhatikan materi yang bapak sampaikan. Dan dari tadi kamu hanya menulis coretan – coretan yang tidak ada manfaatnya ini”. tegas pak guru yang tanpa aku sadari sudah ada disampingku.
Tanpa panjang basa – basi lagi pak guru mengambil paksa kertas yang ada dimejaku dan merobeknya hingga menjadi sobekan – sobekan kecil. Aku yang mengetahui hal itu langsung saja merasa kesal dan memukul meja dengan sedikit keras.
“apa maksud bapak menyobek kertas milik saya itu?”. Kataku dengan nada sedikit keras.
“karena kamu tidak pernah memperhatikan materi yang dari tadi bapak sampaikan. Kamu hanya mencoret – coret tulisan yang tidak ada manfaatnya”. Jawab pak guru.
“tau apa bapak tentang saya sehingga bapak bisa berbicara itu adalah tulisan yang tidak berguna?”.
“mungkin bagi bapak itu tulisan yang tidak berguna, tapi tidak buat saya”. Lanjutku.
“kalau begitu bapak akan berikan kamu tugas sebagai ganti dari kesalahan kamu ini yang sudah tidak memperhatikan materi yang bapak kasih selama pelajaran bapak”. Tegas pak guru itu lagi.
“saya tidak akan mengerjakan tugas yang bapak kasih!”. Sahutku segera.
“apa kamu bilang?”. Tanya pak guru dengan terkejut
“apa pelajaran bapak penting bagi saya?”. Tegasku yang langsung meninggalkan pak guru.
Setelah keluar dari kelas, aku harus kembali membuat rangka novel yang tadi sudah disobek – sobek oleh pak guru. Aku tetap berada ditaman untuk mulai membuat novel hingga waktunya pulang sekolah telah tiba tanpa pernah masuk kedalam kelas lagi.
Aku pulang menuju ke rumah dengan perasaan yang tenang tanpa sedikitpun merasa khawatir dengan masalah yang sedang aku alami beberapa hari ini. dan sesampainya dirumah, aku dikejutkan dengan kemarahan kedua orang tuaku yang sudah menungguku.
“apa – apaan kamu selama disekolah kamu pergi – pergi dari kelas? Sudah merasa pinter kamu?”.
“apa itu?”. lanjut papaku sambil melihat kertas yang ada ditanganku.
“bukan apa – apa kok”. Jawabku singkat.
“apa itu?”. Paksa papaku.
Kemudian papaku langsung mengambil kertas novel yang sudah sedikit aku buat dan membacanya.
“Apa – apaan kamu ini?”. tanya papaku dengan sangat marah.
Papaku langsung saja merobek robek kertas novel yang aku buat seharian disekolah tadi. rupanya kedua orang tuaku sudah menerima laporan dari guru disekolah tentang apa yang sudah aku lakukan seharian ini disekolah.
“papa! Kenapa papa sobek – sobek kertas punya Ghaida itu?” tanyaku.
“sampai kapanpun papa engga’ akan pernah mengizinkan kamu jadi penulis seperti apa yang kamu inginkan. Apa kamu pikir jadi penulis itu akan membuat kamu banyak uang dan kaya akan materi?”. Bentak papaku sambil menampar pipiku.
“papa juga akan buang semua novel, cerpen, puisi yang kamu buat, agar kamu engga’ mikirin untuk jadi seorang penulis lagi”. tegas papaku.
Dengan perasaan yang sangat marah, papaku berjalan menuju kamarku dan langsung mengambil semua koleksi novel, cerpen dan puisi buatanku. Pada saat itu emosiku sudah tidak bisa aku tahan – tahan lagi. akupun mencoba untuk menghalangi papaku untuk melanjutkan membuang semua koleksi cerpen dan novelku.
“apa – apaan papa? Kenapa papa lakuin semua ini? apa semua yang papa lakuin semua ini akan bikin Ghaida menjadi bahagia? Sama sekali engga’ pa! Ini akan semakin membuat Ghaida menjadi gila”. Tegasku.
“untuk apa kamu menjadi seorang penulis? Lebih baik juga kamu menjadi seorang dokter yang lebih jelas lagi masa depannya”. Bentak papaku.
“kalau kamu masih keras kepala, papa akan usir kamu dari rumah, dan papa engga’ akan pernah enggap kamu sebagai anak papa lagi!!”. bentak papaku dengan keras sambil sekali lagi menampar aku.
“sampai kapanpun Ghaida akan cinta dengan hobby Ghaida ini, Ghaida engga’ akan pernah maksa diri Ghaida untuk bukan jadi diri Ghaida”. Sampai kapanpun Ghaida akan tetep jadi diri Ghaida sendiri”. Ucapku dengan yakin.
“kalau begitu kamu keluar dari rumah papa, dan jangan pernah kembali ke rumah ini lagi, karena mulai detik ini, kamu bukan anak papa lagi!!”. usir papaku.
Karena pada saat itu aku sudah tidak ingin merasa tersiksa lagi dengan tekanan – tekanan yang ada, aku mau tidak mau harus memilih satu – satunya pilihan papaku yang diberikan oleh papaku. Pikiranku pada saat itu semakin kacau, dan tidak tau harus berbuat apa dan tinggal dimana. Karena pada saat itu aku sudah memilih jalan hidupku sendiri untuk menjadi sorang penulis handal yang aku impikan, aku harus menjalani kehidupanku dengan apa adanya. Fokusku hanya satu, yaitu menjadi seorang penulis. Aku harus terus menjalani kehidupanku demi satu impianku. Karena aku yakin aku harus tetap berjalan kedepan untuk menghadapi keadaan yang lebih buruk, daripada harus berjalan kebelakang untuk hidup dalam kenangan yang buruk.
“............mengucapkan selamat tinggal tidak selalu harus menjadi hal yang buruk.......”.
Setelah aku selesai menuliskan kalimat terakhir itu dalam diaryku. Aku bisa tersenyum bahagia karena kebahagiaan yang selama ini aku impikan tidak hanya sekedar mimpi. Kini aku sudah menjadi penulis terkenal dan handal, seperti yang aku cita – citakan. Soal Tyo? Aku tidak tau. Karena semenjak aku pergi dari rumah, aku tidak pernah lagi berkomunikasi dengannya. So, thank you for Read a little story of me. Selamat tinggal Masa lalu .
Sebelum aku menyelesaikan kalimat terakhir dalam buku diary milikku ini, sejenak aku melihat kearah fotoku yang aku simpan diatas meja tempat biasa aku menulis diary ini. wajahku yang tergambar dalam foto itu terlihat sangat berseri – seri dengan seorang laki – laki yang dulu dirinya pernah mengisi kekosongan dalam hatiku ini. Namanya Tyo. Dia laki – laki yang sangat setia dan yang terbaik yang pernah aku miliki semenjak aku mengenakan seragam putih abu – abu. Tapi perlu dicatat juga bahwa laki – laki yang terbaik itu juga belum tentu merupakan cinta pertama dan terakhir bagi seseorang, termasuk aku. Begitu juga tyo, dia bukan laki – laki yang pertama yang telah mengisi kekosongan hatiku, karena sebelum Tyo hadir didalam kehidupanku, sudah ada kurang lebih 12 orang laki – laki yang datang dan pergi dari kehidupanku selama aku memakai seragam putih – biru. Dulu disekolah aku cukup dikenal dengan julukan princess tomboy. Karena sifatku dan dandananku ini yang cenderung terlihat tomboy oleh teman – temanku, namun walaupun begitu aku juga masih menyandang gelar primadona sekolah semenjak SMP dan SMA. Kulihat lagi fotoku yang lain yang berada diatas mejaku ini. masih sama fotoku bersama Tyo namun dengan ekspresi keceriaan yang berbeda – beda. Senyum kecil mulai menghiasai bibirku. Dan seolah – olah semua kenangan diriku bersama Tyo ini baru saja kualami kemarin.
Dan perlu aku akui juga, bahwa aku ini masih tidak bisa meninggalkan kebiasaan burukku untuk mengoleksi laki – laki lebih dari satu untuk menjadi pacarku. Selama aku duduk dibangku SMA dan berpacaran dengan Tyo, aku juga menjalin hubungan juga dengan 3 orang laki – laki lainnya, yaitu Adrian, Roby, dan Seno. Tapi seperti yang telah aku tuliskan sebelumnya bahwa walaupun begitu Tyo adalah yang terbaik yang pernah aku miliki. Senyumanku ini makin lama makin kurasakan sangat nyaman saat kulakukan itu sambil mengingat – ingat semua kejadian yang aku alami semasa aku SMA. Di masa itu aku lebih sering mengalami hal – hal yang buruk.
Pertengkaran demi pertengkaran yang kudengar dari kedua orangtuaku membuat kepalaku serasa akan pecah. Tidak hanya omongan – omongan keras yang keluar dari mulut kedua orang tuaku, tapi terkadang juga sering terdengar benda – benda pecah belah seperti piring, gelas dll jatuh dilantai akibat dibanting oleh kedua orang tuaku karena masing masing dari emosi mereka sudah sangat meluap. Dan pada akhirnya aku juga lah yang akan menjadi sasaran kemarahan dari kedua orang tuaku. Karena aku merupakan anak satu – satunya yang ada dalam keluarga ini.
Kemudian belum lagi tekanan dari kedua orang tuaku yang selalu memaksaku untuk mengikuti kemauan mereka untuk selalu menjadi juara dikelas dan kuliah disalah satu perguruan tinggi ternama, masuk kedalam jurusan kedokteran untuk menjadi dokter. Awalnya memang aku selalu menuruti segala kemauan kedua orang tuaku, akan tetapi semakin kesini aku merasa bahwa kedua orang tuaku selalu memaksa aku untuk menuruti kemauannya, apabila aku tidak menuruti kemauan mereka, kedua orang tuaku selalu memarahi aku habis – habisan dan terkadang juga memukulku hingga wajahku mulai terlihat kebiruan dibagian ujung bibir akibat tamparan keras dari orang tuaku.
“kenapa akhir – akhir ini mama selalu tampar aku? Selalu aja melampiaskan kemarahan mama yang engga’ jelas itu sama aku? Kenapa ma? Apa karena kemarahan ini semua akibat kekesalan mama terhadap perlakuan papa terhadap mama?”. Ujarku agak keras kepada mamaku setelah menampar pipiku.
“diam kamu Ghaida. Mama tampar kamu karena akhir akhir ini juga kamu selalu bersikap kurang ajar terhadap mama”. Bentak mamaku.
“apa salah aku ma? Apa selama ini Ghaida engga’ pernah turutin kemauan mama sama papa? Semua udah Ghaida lakuin ma, tapi please Ghaida mohon satu hal sama mama dan papa untuk tidak memaksakan kehendak mama dan papa untuk sepenuhnya mengatur kehidupan Ghaida. Karena Ghaida bukan boneka mainan papa dan mama yang bisa seenaknya mama perlakuin semau mama termasuk nyiksa Ghaida seperti ini”. Ucapku lagi.
Tanpa basa – basi lagi aku langsung meninggalkan mamaku dan pergi keluar rumah. Dengan spontan aku berjalan entah kemana, hanya mengikuti langkah kakiku pergi sesukanya dan hal yang sudah pasti kusadari namun tidak aku perdulikan adalah aku semakin jauh meninggalkan rumah. Padahal pada saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Karena aku merasa bosan sendirian, aku segera menghubungi Tyo untuk menemaniku disini. Setelah beberapa lama menunggu kedatangan Tyo, akhirnya dia datang sambil membawakanku sebuah minuman hangat yang mungkin dibawanya dari rumah.
“kamu kenapa harus keluar dari rumah sih Ghaida? Kamu kan bisa masuk aja kedalam kamar dan ngunci pintu. Besok kan hari senin, harus berangkat pagi buat ikut upacara”. Kata Tyo perlahan.
“ya mana aku tau say, aku spontan gitu aja keluar dari rumah. Kan tengsin kalau sekarang aku balik lagi ke rumah”. Ucapku dengan wajah sedikit cemberut.
“Terus sekarang kamu gimana? Nunggu semua orang dirumah kamu tidur terus kamu baru pulang ke rumah kamu dan masuk ngendap ngendap kayak maling?”. Ledek Tyo.
Walaupun situasi yang aku rasakan kurang baik, tapi jujur aku merasa sangat nyaman dan mulai sedikit melupakan kejadian yang baru saja aku alami dirumah. Hari yang semakin larut membuatku dan Tyo tidak menyadari sudah berapa lama Tyo menemaniku disampingku.
“sekarang kamu pulang gih, udah malem banget. Besok kita harus berangkat pagi – pagi kesekolah kalau
engga’ mau disuruh bersihin taman karena telat datang ke sekolah”. Ujar Tyo sambil tersenyum padaku.
Setelah pada malam itu aku berpisah dengan Tyo, aku tidak lantas pulang ke rumah. Aku masih berjalan – jalan untuk bisa lebih menenangkan pikiranku. Karena jujur aku sempat merasa sedikit depresi dengan segala tekanan yang ada dirumah.
Dan akhirnya aku pulang kerumah disaat waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Dengan tidak banyak waktu untuk aku beristirahat lagi, aku segera bersiap siap untuk berangkat kesekolah.
“kemana saja kamu semalaman? Sudah jadi anak brandal kamu?”. Tanya papaku yang tiba – tiba keluar dari kamarnya disaat aku baru saja turun dari tangga.
“Ghaida engga’ ngerasa kalau Ghaida udah jadi brandalan kok. Ghaida Cuma engga’ betah dirumah”. Jawabku sedikit cuek.
“apa maksud kamu menjawab dengan nada seperti itu? Kamu sudah berani sama papa?”. Bentak papaku.
“tampar Ghaida pa ! papa engga’ perlu marah – marah kalau pada akhirnya Ghaida bakalan ditampar sama papa! Dan juga engga’ bikin cape papa, pagi – pagi gini udah teriak – teriak”. Ucapku.
Benar saja apa yang baru saja aku katakan kepada papa, aku langsung ditampar oleh papa karena nada bicaraku yang terlihat sedikit cuek.
“makasih pa atas tamparan papa untuk yang kesekian kalinya buat Ghaida”. Ujarku.
Dengan bibir yang semakin terasa sakit dan terlihat semakin biru pada kulit pipiku yang putih, aku segera berangkat ke sekolah tanpa memperdulikan luka yang membekas dipipiku. Mungkin juga teman – temanku disekolah juga akan menyangka kalau aku habis berkelahi. Karena berkelahi juga merupakan salah satu hal buruk yang sering aku lakukan, bagi seorang wanita khususnya.
Hal – hal yang buruk tidak hanya sampai disitu saja. Semenjak munculnya masalah diantara kedua orang tuaku, nilai – nilaiku disekolah menjadi turun semua. Disekolah aku menjadi murid yang sedikit nakal. Ada saja kenakalan – kenakalan yang sering aku lakukan disekolahan.hal itu aku lakukan semata – mata karena aku ingin menghilangkan rasa jenuhku dengan setiap permasalahan yang ada.
Selesai upacara bendera, aku pegi ke toilet sebentar untuk membasuh wajahku yang dari tadi terasa sangat tidak enak akibat terkena sinar matahari pagi saat upacara berlangsung. Dan setelah aku keluar dari toilet dan hendak kembali ke kelas, secara tidak sengaja aku membaca selebaran brosur yang ditempel dimading sekolah tentang adanya lomba penulisan novel yang diadakan oleh salah satu instansi terkait dalam rangka memperingati dan memeriahkan hari ibu. Aku begitu antusias untuk mengikuti lomba tersebut, mengingat hobbyku dari dulu adalah menulis, aku selalu menuangkan hal – hal yang ada dalam imajinasiku untuk kemudian aku jadikan beberapa macam tulisan seperti cerpen, lagu, puisi, dan novel.
Terhitung mulai dari hari itu setelah mengetahui tentang informasi lomba tersebut, fokus aku kini hanya tertuju pada lomba itu. Dan aku seakan tidak memperdulikan segala sesuatu yang kini sedang menjadi permasalahan didalam otakku.
“Ghaida, bapak perhatikan dari tadi kamu seperti tidak memperhatikan materi yang bapak sampaikan. Dan dari tadi kamu hanya menulis coretan – coretan yang tidak ada manfaatnya ini”. tegas pak guru yang tanpa aku sadari sudah ada disampingku.
Tanpa panjang basa – basi lagi pak guru mengambil paksa kertas yang ada dimejaku dan merobeknya hingga menjadi sobekan – sobekan kecil. Aku yang mengetahui hal itu langsung saja merasa kesal dan memukul meja dengan sedikit keras.
“apa maksud bapak menyobek kertas milik saya itu?”. Kataku dengan nada sedikit keras.
“karena kamu tidak pernah memperhatikan materi yang dari tadi bapak sampaikan. Kamu hanya mencoret – coret tulisan yang tidak ada manfaatnya”. Jawab pak guru.
“tau apa bapak tentang saya sehingga bapak bisa berbicara itu adalah tulisan yang tidak berguna?”.
“mungkin bagi bapak itu tulisan yang tidak berguna, tapi tidak buat saya”. Lanjutku.
“kalau begitu bapak akan berikan kamu tugas sebagai ganti dari kesalahan kamu ini yang sudah tidak memperhatikan materi yang bapak kasih selama pelajaran bapak”. Tegas pak guru itu lagi.
“saya tidak akan mengerjakan tugas yang bapak kasih!”. Sahutku segera.
“apa kamu bilang?”. Tanya pak guru dengan terkejut
“apa pelajaran bapak penting bagi saya?”. Tegasku yang langsung meninggalkan pak guru.
Setelah keluar dari kelas, aku harus kembali membuat rangka novel yang tadi sudah disobek – sobek oleh pak guru. Aku tetap berada ditaman untuk mulai membuat novel hingga waktunya pulang sekolah telah tiba tanpa pernah masuk kedalam kelas lagi.
Aku pulang menuju ke rumah dengan perasaan yang tenang tanpa sedikitpun merasa khawatir dengan masalah yang sedang aku alami beberapa hari ini. dan sesampainya dirumah, aku dikejutkan dengan kemarahan kedua orang tuaku yang sudah menungguku.
“apa – apaan kamu selama disekolah kamu pergi – pergi dari kelas? Sudah merasa pinter kamu?”.
“apa itu?”. lanjut papaku sambil melihat kertas yang ada ditanganku.
“bukan apa – apa kok”. Jawabku singkat.
“apa itu?”. Paksa papaku.
Kemudian papaku langsung mengambil kertas novel yang sudah sedikit aku buat dan membacanya.
“Apa – apaan kamu ini?”. tanya papaku dengan sangat marah.
Papaku langsung saja merobek robek kertas novel yang aku buat seharian disekolah tadi. rupanya kedua orang tuaku sudah menerima laporan dari guru disekolah tentang apa yang sudah aku lakukan seharian ini disekolah.
“papa! Kenapa papa sobek – sobek kertas punya Ghaida itu?” tanyaku.
“sampai kapanpun papa engga’ akan pernah mengizinkan kamu jadi penulis seperti apa yang kamu inginkan. Apa kamu pikir jadi penulis itu akan membuat kamu banyak uang dan kaya akan materi?”. Bentak papaku sambil menampar pipiku.
“papa juga akan buang semua novel, cerpen, puisi yang kamu buat, agar kamu engga’ mikirin untuk jadi seorang penulis lagi”. tegas papaku.
Dengan perasaan yang sangat marah, papaku berjalan menuju kamarku dan langsung mengambil semua koleksi novel, cerpen dan puisi buatanku. Pada saat itu emosiku sudah tidak bisa aku tahan – tahan lagi. akupun mencoba untuk menghalangi papaku untuk melanjutkan membuang semua koleksi cerpen dan novelku.
“apa – apaan papa? Kenapa papa lakuin semua ini? apa semua yang papa lakuin semua ini akan bikin Ghaida menjadi bahagia? Sama sekali engga’ pa! Ini akan semakin membuat Ghaida menjadi gila”. Tegasku.
“untuk apa kamu menjadi seorang penulis? Lebih baik juga kamu menjadi seorang dokter yang lebih jelas lagi masa depannya”. Bentak papaku.
“kalau kamu masih keras kepala, papa akan usir kamu dari rumah, dan papa engga’ akan pernah enggap kamu sebagai anak papa lagi!!”. bentak papaku dengan keras sambil sekali lagi menampar aku.
“sampai kapanpun Ghaida akan cinta dengan hobby Ghaida ini, Ghaida engga’ akan pernah maksa diri Ghaida untuk bukan jadi diri Ghaida”. Sampai kapanpun Ghaida akan tetep jadi diri Ghaida sendiri”. Ucapku dengan yakin.
“kalau begitu kamu keluar dari rumah papa, dan jangan pernah kembali ke rumah ini lagi, karena mulai detik ini, kamu bukan anak papa lagi!!”. usir papaku.
Karena pada saat itu aku sudah tidak ingin merasa tersiksa lagi dengan tekanan – tekanan yang ada, aku mau tidak mau harus memilih satu – satunya pilihan papaku yang diberikan oleh papaku. Pikiranku pada saat itu semakin kacau, dan tidak tau harus berbuat apa dan tinggal dimana. Karena pada saat itu aku sudah memilih jalan hidupku sendiri untuk menjadi sorang penulis handal yang aku impikan, aku harus menjalani kehidupanku dengan apa adanya. Fokusku hanya satu, yaitu menjadi seorang penulis. Aku harus terus menjalani kehidupanku demi satu impianku. Karena aku yakin aku harus tetap berjalan kedepan untuk menghadapi keadaan yang lebih buruk, daripada harus berjalan kebelakang untuk hidup dalam kenangan yang buruk.
“............mengucapkan selamat tinggal tidak selalu harus menjadi hal yang buruk.......”.
Setelah aku selesai menuliskan kalimat terakhir itu dalam diaryku. Aku bisa tersenyum bahagia karena kebahagiaan yang selama ini aku impikan tidak hanya sekedar mimpi. Kini aku sudah menjadi penulis terkenal dan handal, seperti yang aku cita – citakan. Soal Tyo? Aku tidak tau. Karena semenjak aku pergi dari rumah, aku tidak pernah lagi berkomunikasi dengannya. So, thank you for Read a little story of me. Selamat tinggal Masa lalu .
Cerita Untuk Sebuah Cinta Khayalan [ PART 3 ]
Tuesday, April 15, 2014
Posted by Unknown
Tag :
Fanfict
Sebelum aku semakin terlarut dalam rasa bersalahku yang sebenarnya jika dipikir – pikir lagi mungkin hanya sekedar perasaan tidak enak saja terhadap Naomi. Aku segera mengalihkan hal tersebut kepada Melody. Yang bisa dibilang saat ini aku sedang berusaha untuk mendekati dirinya. Aku keluarkan handphone dari dalam tas selendangku, bermaksud untuk mencoba berbincang – bincang dengan Melody melalui sms. Namun, layar handphone sudah menunjukkan adanya 1 pesan masuk yang belum dibaca. Aku segera buka dengan harapan itu adalah Melody yang membalas smsku tadi subuh.
Aku tidak habis pikir dengan kelakuanku yang sudah diluar akal sehat akhir – akhir ini. Begitu besarnya aku berharap pada Melody hanya untuk sekedar membalas sms dariku, saat waktu yang baru saja lewat 1 menit dari waktu awal aku sms Melody, rasanya hati ini sudah gelisah tidak karuan.
“Rie, hari ini kamu ada acara engga’? kita bisa ketemu? Aku tunggu di ruangan kelasku ya”.
Begitu senangnya aku ketika aku tahu itu adalah sms dari Melody, dan aku yakinkan bahwa aku tidak sedang bermimpi membaca sms Melody yang intinya dia mengajakku untuk bertemu. Setelah aku tersadar akan satu hal yang lainnya, aku segera melihat rincian pesan tersebut. Pesan sampai pada handphone-ku pukul 08.34 dan sekarang aku lihat pada jam tanganku pukul 09.07 , artinya sudah selama lebih dari 30 menit aku tidak membaca pesan dari Melody ini. Tanpa menunggu lebih lama lagi aku segera bergegas menuju ruangan kelas Melody untuk menghampirinya. Sudah dekat dengan ruangan kelas Melody, aku mendengar beberapa instrument yang sedang dimainkan. Dan begitu aku berdiri didepan pintu ruangan kelas Melody, disana aku melihat anak – anak kelas Melody sedang asyik bernyanyi dan memainkan alat musik gitar. Saat itu secara tidak sengaja aku melihat Melody sedang bernyanyi terpisah dari teman – temannya dengan menggunakan gitar.
“Melody, itu temen lo bukan?”. Kata salah satu teman Melody dengan suara lumayan keras.
Mendengar ada temannya yang memanggil, Melody langsung saja menengok kearah temannya yang kemudian mengalihkan pandangannya dan melihat kearahku.
“Rie, sini masuk”. Ucap Melody.
Tanpa sedikitpun rasa malu, aku masuk kedalam ruangan kelas Melody dan menghampiri Melody.
“maaf ya mel, aku baru aja buka sms dari kamu, jadinya aku telat ke kelas kamu”. Ujarku tersenyum.
“engga’ apa – apa kok Rie. Lagi sibuk engga’ sih kamu sekarang?”. Tanya Melody padaku dengan polos.
“oh engga’ sama sekali kok, ada apa? Mau jalan keluar? Kemana?”. Ucapku dengan penuh keyakinan.
“hei, siapa yang mau ngajak keluar? Ini nih, kamu bisa engga’ ajarin aku satu lagu buat aku nanti nyanyiin di acara BEM kampus. Iseng – iseng sih, kalau bisa menang yang berarti ituu bonusnya”. Ucapnya.
“oh, aku kirain hehehe, ya udah kita coba aja. Kamu suka lagu apa?”. Tanyaku balik padanya.
“Mmm…kamu bisa ajarin lagu JKT48 yang judul lagunya Shonichi? Aku suka banget sama lagu itu”. Ujarnya degan ekspresi wajah yang sedikit memohon.
“oh bisa kok, ya udah kita coba aja ya, sini gitarnya biar aku yang main, dan kamu yang nyanyi supaya fokus”. Ujarku.
“ih, kamu ajarin kunci gitarnya aja sama kamu perhatiin apa menurut kamu suara aku udah bagus”. Ucapnya.
“lho, memangnya kamu bisa main gitar?”. Tanyaku penasaran.
“ya bisa lah, kamu ngeremehin aku? Huh dasar deh”. Ujar Melody dengan wajah yang sedikit cemberut.
“wow, ya maaf aku engga’ tau. Ternyata kamu keren juga ya bisa main gitar juga”. Pujiku lembut.
Dengan perasaan yang sangat senang aku membimbing Melody untuk belajar lagu milik JKT48, perlahan – lahan suasana pun kian menjadi sangat mengasyikan bagi kita berdua, sesekali kita bercanda dan tertawa dengan lepas. Dan sewaktu aku melihat Melody sedang menyanyikan lagu Tere dengan penuh penghayatan, aku benar – benar telah merasa seperti sudah memiliki hatinya dengan utuh. Khayalanku mulai berkembang menjadi tidak karuan, aku sempat membayangkan seorang yang bernama Melody yang saat ini sedang duduk dihadapanku adalah kekasihku. Saat aku sedang asyik dengan khayalanku itu, tiba – tiba muncul dari hatiku perasaan sayang yang teramat sangat kepada Melody, ketika pada satu titik fokus aku melihat wajahnya yang sedang terbawa dengan nyanyian yang sedang dinyanyikannya. Polos, cantik, putih, baik, ingin sekali aku menjaga seorang putri yang sedang bernyanyi dihadapanku ini, walaupun sebenarnya aku tidak yakin juga apabila aku menyatakan cinta kepada dirinya, aku akan diterima manjadi kekasihnya atau tidak. “impian ada ditengah peluh, bagai bunga yang mekar secara perlahan... usaha keras itu tak akan mengkhianati ...impian ada ditengah peluh, selalu menunggu agar ia menguncup ... suatu hari pasti sampai harapan terkabul…”
Dan ini sudah jelas bagiku, bahwa aku sudah jatuh cinta kepadanya.“tuhan tolong jaga perasaan ini untuk Melody”.
“hey, kenapa sih kamu ngeliatin aku kayak gitu?”. Tanya Melody padaku.
“oh engga’ apa-apa kok. Kamu udah mulai bisa menghayati lagu, butuh latihan sedikit lagi supaya kamu bisa lebih terlatih”. Ucapku.
Latihan kembali kulanjutkan selama beberapa saat hingga kami memutuskan untuk pulang karena hari sudah sore.Hari itu menjadi tambah sempurna karena saat diriku mengajukan tawaran untuk mengantarkan Melody pulang kerumahnya ternyata tidak ditolak oleh Melody, dirinya bersedia jika aku mengantarnya pulang sore itu. Moment itu tentu saja tidak aku lewatkan begitu saja, dalam perjalanan menuju rumahnya aku kembali banyak berbincang – bincang dengan dirinya. 15 menit kuhabiskan waktu bersama Melody di perjalanan, dan tidak terasa sudah sampai di rumah Melody. Ini pertama kalinya aku mengetahui dimana rumah Melody. Ternyata rumah Melody berada tidak jauh dari kampus.
“makasih ya Rie udah mau anterin pulang. Dan makasih juga tadi aku udah diajarin 1 lagu buat acara BEM kampus nanti”. Ucapnya ketika turun dari motorku.
“iya Mel, sama – sama, kalau gitu aku langsung pamit aja ya”. Ucapku.
“oh oke. Be carefull Rie”. Katanya dengan senyuman yang manis.
Aku yang sekarang ini sedang mengalami kasmaran pada salah seorang gadis yang terkenal dikampus. Mimpi apa aku semalam bisa begitu dekat dengan Melody. Padahal untuk urusan tampang, aku termasuk type yang sedang – sedang saja, tidak tampan dan tidak jelek juga. Jika aku benar – benar bisa mendapatkan hati Melody, setidaknya aku akan menjadi orang yang paling beruntung sekampus dan akan membuat hari – hariku kedepan menjadi tidak karuan. Memang aku menjadi semangt jika aku berhasil mendapatkan cinta Melody, setiap hari aku akan bertemu Melody, namun disitu juga terdapat masalah, jika setiap hari aku bertemu Melody maka pikiranku untuk kedepannya akan selalu bertemu Melody lagi, lagi dan lagi. So, bagaimana dengan karierku untuk menjadi penulis terkenal? Bagaimana scenario film yang hendak ingin aku buat? Apakah semua itu akan ada kejelasan? Minimal, salah satu targetku bisa tercapai, kalau memamng Melody tulus bisa mencintai aku, pastinya dia akan mendukung apapun yang akan menjadi pilihan hidupku. Aku support dia sebaliknya dia juga bisa support aku sepenuhnya.
Hari ini aku dihadapkan dengan urusan percintaan yang cukup membuatku pusing. Hari ini aku sudah membuat Naomi merasakan kecewa yang teramat sangat dan disisi lain aku merasakan perasaan cinta yang begitu dalam terhadap Melody. Apakah itu adil untuk aku dan Naomi. Jika ditanya adil atau tidak, aku tidak bisa menilai dari salah satu sisi. Yang sudah pasti adalah bahwa Naomi mencintai aku dan aku mencintai Melody.
Diary
Dalam kebingunganku karena cinta, hal yang terbaik yang masih aku miliki sampai sekarang adalah keperdulian darinya untukku. Setiap saat aku akan aku akan membutuhkan dia untuk terus menjadikan aku lebih baik lagi.
Mataku sangat merah karena semalam aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bukan karena nyamuk aku tidak bisa tidur, bukan juga karena mati lampu, bukan karena udara yang panas dan tentunya juga bukan aku seorang insomnia. Melody yang membuat aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bayangan wajahnya yang ketika aku melihatnya selalu saja menggambarkan cantik wajahnya, terlebih lagi jika cantik wajahnya itu ditambah dengan senyuman yang keluar dari bibirnya. Ketika itu aku sudah tidak bisa mengucapkan apa – apa untuk menggambarkan keindahan tersebut. Aku sayang Melody, Aku cinta Melody, Aku rindu Melody. selalu Melody, Melody dan Melody. Dalam ketidakberdayaanku saat ini, aku ingin sekali bisa menjadi seseorang yang berarti untuk Melody, selalu bisa menjaganya, membuatnya nyaman, dan menyayanginya. Aku tidak mau kehilangan Melody, aku harus mengejar cintaku. Aku yang dari awal yang telah membuat pernyataan sendiri tentang cinta, kini sudah dipermainkan oleh cinta. Melody, I Love you.
Semangat dalam diriku kian menggebu – gebu untuk mengungkapkan perasaanku pada Melody. Kebetulan hari ini adalah hari libur, maka aku akan berkunjung ke rumah Melody dan akan kunyatakan perasaanku padanya. Dengan segala resiko yang sudah harus aku jalani aku mencoba untuk menenangkan hatiku. Jauh sebelum aku mengungkapkan perasaanku didepan Melody, aku sudah tidak bisa mengontrol ketenanganku. Wajah yang gugup, jantung yang berdetak cepat sudah bisa menggambarkan bagaimana kondisiku saat ini. 17 Februari ini akan jadi tanggal yang bersejarah untukku, antara sejarah yang baik dan sejarah yang buruk. Yah, hidup adalah sebuah pilihan dan dalam kehidupan hanya terdapat 2 pilihan, Hidup atau Mati, Ya atau Tidak, baik atau Buruk, termasuk juga dengan jawaban yang akan diberikan oleh Melody nanti antara Terima atau Tolak. Jika pilihan tersebut terdapat lebih dari dua maka itu dipastikan adalah pilihan pada soal – soal ujian pilihan berganda yang rata – rata terdiri dari 4 atau 5 pilihan.
Waktu semakin dekat dengan detik detik untuk aku mengungkapkan perasaan pada Melody. Sudah hampir sampai menuju rumahnya, dan aku sengaja memperlambat laju motorku. Aku benar – benar sudah menjadi orang yang aneh selama aku mengenal cinta dan mengenal Melody. Semakin aku memperlambat kecepatan motorku maka akan semakin lama juga aku bisa bertemu dengan Melody, tapi disisi lain hatiku menginginkan hal itu, mengulur – ulur waktu hingga aku benar – benar menyiapkan mentalku terrlebih dulu. 25 menit berlalu di perjalanan, dan kini aku berada pada rumah sederhana, dengan pagar rumah berwarna kuning dan terdapat mobil yang terparkir di garasi rumahnya. Baru saja aku kemarin datang ke tempat ini, kini aku kembali dengan tujuan yang lain.
“permisi”. Ucapku sambil mengetuk pintu rumah Melody.
3x aku mengetuk pintu rumah Melody, namun tidak ada respon dari dalam rumah tersebut, atau mungkin Melody sedang pergi keluar rumah. Akhirnya sisi lain hati aku sedikit lega karena aku harus menunda untuk mengungkapkan perasaanku pada Melody. Belum jauh aku dari pintu rumah, ada seseorang yang membuka pintu tersebut. Pikiranku yang tadi sempat tenang, kini kembali gugup. Dan benar saja, yang keluar dari rumah tersebut adalah Melody.
“hei Rie, ada apa?”. Tanya Melody padaku.
“oh, aku pikir engga’ ada orang dirumah”. Ucapku gugup.
“kamu kenapa sih? Kok kelihatan gugup gitu?”. Tanya Melody lagi.
Orang yang aku cari – cari kini ada didepan aku, aku masih harus mengumpulkan keberanianku untuk mengungkapkan apa yang ada dalam hatiku.
“Rie?”. Ucap Melody bingung.
Aku masih saja belum bisa memberanikan diri, dalam pikiranku aku selalu bertanya bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Jangan sampai aku memperlihatkan hal bodoh didepan Melody yang menyebabkan dirinya menjadi ilfeel terhadapku.
“ada apa?”.
“Mmm…boleh aku ngomongin sesuatu yang sifatnya agak privacy?”. Tanyaku bertele – tele.
“privacy? Masalah apa?”. Tanya Melody dengan penasaran.
“Mel, maaf kalau aku sudah lancang sama kamu, tapi aku bingung dengan apa yang aku rasakan sekarang.
Semenjak pertama kali aku deket sama kamu aku udah ngerasain hal yang beda yang belum pernah aku rasain. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa mempunyai perasaan ini begitu cepat, tapi saat kamu engga’ ada disamping aku, aku selalu ngerasa kalau aku butuh banget kamu. Mel, aku cinta kamu. Aku engga’ mau kehilangan kamu. Kamu…mau…jadi seseorang yang special di hati aku?”. Jelasku beserta keringat dingin yang mengucur ditubuhku.
Wajah Melody yang saat pertama kulihat masih terlihat kebingungan karena tidak mengerti maksud kedatanganku ke rumahnya saat ini langsung berubah, kulihat sebentar sebelum aku menundukkan kepalaku kebawah karena malu, wajahnya terlihat seperti orang yang kecewa karena sesuatu, cemberut dan seperti tidak senang aku mengungkapkan perasaaanku kepadanya. Apa boleh buat, aku sudah terlanjur mengatakan hal itu pada Melody, sekalian merasakan malu jika memang nanti aku akan merasakannya, sekalian merasa kecewa jika nanti aku harus merasakannya jika Melody menolakku. 99,9% aku mengira Melody akan menolakku jika dilihat dari ekspresi wajahnya terlihat seperti itu, tapi walaupun peluangku hanya 0,01% aku tetap menaruh harapan yang besar bahwa Melody akan menerima cintaku. Aku baru sadar bahwa sekarang ini aku sedang menembak salah satu cewek popular didepan pintu rumahnya, konyol sih jika kupikir – pikir, apakah tidak ada tempat romantic yang bisa kujadikan tempat untuk aku mengungkapkan perasaanku padanya? Dimanakah taman didekat – dekat sini? Atau minimal aku mengajak Melody makan direstoran dan mengungkapkannya disaat kita sedang makan. Ah, shit. Kenapa ide – ide yang brilliant itu baru terfikirkan ketika aku sudah mengungkapkan perasaanku. Aku memang payah, sudah panik dengan keadaan – keadaan yang justu seharusnya bisa lebih aku control.
“kenapa tiba – tiba mengatakan kalau kamu cinta sama aku?”. Tanya Melody.
“Mm..aku engga’ nemuin alasan dalam hal ini kenapa aku bisa mencintai kamu dengan begitu cepat, yang jelas rasa yang aku miliki ini tulus buat kamu”. Jelasku.
Lagi – lagi Melody kembali terdiam sambil menyandarkan dirinya pada pintu rumahnya. Dengan tatapan mata yang tajam dia menatap mataku. Tidak mengerti apa maksudnya dia menatapku dengan cara seperti itu. Apakah karena aku yang sudah mengungkapkan perasaan kepadanya telah membuat diriku dianggap seperti salah satu orang yang dibencinya. Kenapa cinta harus seperti ini? Kenapa cinta itu selalu dominan dengan hati dan perasaan?. Melody cukup membuatku merasakan tegang karena jawaban yang tidak kunjung diucapkannya. Ketegangan seperti ini pernah kualami, tapi dengan kondisi waktu itu aku sedang menonton pertandingan piala dunia ketika Jerman vs Spanyol dengan kedudukan jerman sudah tertinggal dari spanyol. Jadi jika begitu, apa bedanya cinta dengan ketegangan ketika melihat pertandingan sepak bola? Dan apa persamaan cinta dengan kepuasan ketika team kesayangan kita menang di piala dunia? Aargghh love so complicated. Semua yang ada didunia tidak ada bedanya dengan cinta jika kita sadar akan persamaannya. Lalu siapakah yang menemukan cinta? Dan siapa yang harus bertanggung jawab atas kekacauan yang sudah terjadi karena cinta? Apakah cinta diciptakan oleh seorang professor gila yang experimentnya telah gagal dan menyebabkan semua orang terkena virus cinta gila? Kalau begitu aku juga sudah termasuk jadi salah satu orang yang gila karena memikirkan pertanyaan – pertanyaan bodoh yang tidak mungkin jawabannya bisa ditemukan memakai akal sehal.
“maaf Rie, aku engga’ bisa jadi pacar kamu”. Jawabnya singkat.
Saat ini jika dalam film – film yang kutonton dalam genre percintaan, selalu saja ada sound effect tentang kekecewaan. Dan si kamera akan meng-close up wajahku dengan penuh rasa kekecewaan. Dan jika disamakan dengan sepak bola, saat ini adalah ketika peluit panjang telah dibunyikan oleh wasih dengan kedudukan jerman kalah 0 – 1 dari Spanyol. Merasakan kekecewaan yang teramat sangat, semua khayalan aku yang sudah terbang tinggi sebelumnya tiba – tiba saja hilang ditelan awan mendung yang akan turun hujan. Mungkin akan menjadi hujan yang sangat deras disertai petir yang menyambar dengan liar, bila perlu aku ingin hujan itu disertai dengan bertiupnya angin topan yang sangat kencang sekali yang mampu membinasakan perasaanku pada Melody.
“tapi kenapa Mel? Apa karena aku tidak pantas untuk mencintai kamu?”. Tanyaku penasaran.
“kamu belum mengenal baik siapa aku dan bagaimana aku”. Jelasnya.
“aku memang belum mengenal baik siapa kamu dan bagaimana kamu, tetapi kita bisa jalani itu kalau…”.
“kamu mungkin bisa jalani itu saat kita sudah berpacaran, tapi aku nggak bisa”. Jelasnya yang memotong pembicaraanku.
“oh, kalau begitu aku minta maaf sama kamu atas tindakanku yang kekanak – kanakan ini. Aku sekarang mengerti, kalau begitu aku pamit pulang dulu Mel. Maaf kalau aku sudah mengganggu waktu istirahat kamu siang hari ini”. Jelasku langsung.
Akupun segera beranjak perlahan – lahan dari depan Melody. Melody yang tanpa berbasa – basi denganku langsung saja masuk menuju rumahnya dan terdengar olehku suara pintu yang sedang dikunci dari arah dalam. Mungkin sekarang dia sudah benci denganku, tidak apa – apalah, paling juga sesampainya dirumah aku akan terkena serangan dilema cinta, seperti yang sudah aku bilang kemaren – kemaren diantaranya nangis 3 hari 3 malam, menimbulkan efek tidak nafsu makan, dan gangguan kejiwaan lainnya.
Diary
Baru saja aku merasakan kekecewaan yang sangat dalam, entah bagaimana aku bisa mengungkapkannya untuk bisa membuat hatiku merasa tenang, walau begitu aku ingin sekali ini menjadi salah satu motivasiku, namun sepertinya beban ini terlalu sulit untuk aku angkat dan rasakan seorang diri. Aku tidak ingin terjatuh dan hilang begitu saja, karena aku tidak ingin mengecewakan dia yang sebenarnya sudah memberikanku apa yang tidak aku minta, tapi ini cinta, dan aku sedang terbawa oleh suasana hatiku yang sedang kacau. Aku janji……aku janji akan segera bangun dan melupakan kejadian ini untuk dia, tapi tidak sekarang dan secepat itu………..
Syndrome – syndrome yang tidak jelas sudah mulai terlihat dalam keseharianku beberapa hari ini, hanya ingin melamun, berkhayal, tidak ingin keluar kamar, males makan, tidak mood untuk melakukan segala macam aktivitasku termasuk masuk kuliah, karena sudah 2 hari ini semenjak Melody menolak cintaku, keseharianku kini bisa dibilang seperti tanda – tanda orang yang ingin mengalami gangguan jiwa. Tentang film yang ingin aku buat juga, aku masih beum bisa melanjutkannya karena suasana hatiku yang sedang tidak ingin mengerjakan itu. Berarti untuk sekarang ini aku termasuk salah satu orang yang sedang galau. Kata yang sedang trend pada saat masa sekarang ini yang syndromenya tidak pandang siapapun, baik itu seorang rocker, dokter, psikiater, seorang pejabat yang galau karena memikirkan cara yang cepat untuk mendapatkan uang, dan apapun gelarnya baik itu Profesor, Doktor, MM, S.Kom, M.Kom mereka semua sama saja, mereka semua manusia yang mempunyai cinta dan perasaan. Aku sempat mempunyai ide untuk membuat grup di jejaring social dengan nama account galauers, dengan anggota grup semua orang yang sedang galau karena masalah mereka masing – masing dan dari situ juga mungkin aku bisa mendapatkan banyak sekali inspirasi kisah cerita yang bermacam – macam dari cerita yang konyol hingga yang gila.
Aku sudah hampir dibuat putus asa dengan keadaan yang seperti ini, cinta!!! Kenapa semua orang harus memiliki kamu? Lagi – lagi hanya pertanyaan konyol yang aku lontarkan dari otakku. Perasaanku kepada Melody belum bisa aku hilangkan dari hatiku, malah aku ingin memberikan sebuah hadiah untuknya sebagai tanda terima kasih karena membuat aku mempunyai perasaan yang berbeda terhadapnya. Aku memutuskan untuk membelikan Melody sebuah kalung yang terbuat dari emas putih murni dengan bertuliskan nama dia. Uang yang harus kubayar untuk mendapatkan kalung itu adalah Rp. 850.000. harga yang lumayan untukku jika itu akan kuberikan pada seorang yang sudah menolak cintaku. Sebenernya apa yang aku pikirkan ini adalah benar? Apakah orang lain akan melakukan hal yang sama jika mereka menjadi diriku? Mana mungkin? Lebih baik uang sebesar itu mereka simpan untuk mentraktir perempuan lain yang menjadi incaran mereka selanjutnya, karena mereka pikir perempuan tidak hanya ada satu dibelahan bumi ini. Perempuan memang tidak hanya ada satu didunia ini, akan tetapi tuhan telah membuat hati kita hanya cukup untuk menampung satu orang perempuan saja, yaitu cinta sejati kita. Siapa itu? Yang jelas perempuan itu hanya akan terpisahkan oleh kita jika memang waktu kita telah habis didunia.Tapi, mungkin ada juga segelintir orang yang akan melakukan hal yang sama denganku jika posisi mereka sudah dikecewakan oleh seseorang tersebut, bahkan mereka bisa melakukan lebih dari apa yang akulakukan saat ini. Beberapa bulan ini aku mengumpulkan uang untuk membeli kalung itu, aku kesampingkan niatku untuk menekuni belajar scenario film untuk sementara waktu. Semula aku yang lebih mementingkan karier daripada urusan percintaan, kini berubah 1800aku sudah tidak berjalan mengikuti akal sehatku, aku biarkan perasaan sedihku yang menuntunku untuk melakukan ini demi orang yang sangat kucintai yang hatinya tidak akan pernah bisa aku miliki.Ingin sebenarnya tanganku sendiri yang memakaikan kalung ini dilehernya, tapi lagi – lagi jika aku ingin bisa melakukan itu aku hanya bisa membayangkan itu lewat khayalanku saja. Sudahlah, aku berpikir ini akan kulakukan yang terakhir kalinya untuk Melody.
Kutaruh bingkisan kecil itu dikursi dimana dia biasa duduk diruangan kelasnya. Dengan tulisan kecil yang bertuliskan “Melody” pada bingkisan tersebut. Pagi – pagi sekali aku ke kampus dan sudah seperti yang ingin menggantikan kerja satpam yang datang pukul 06.00 . karena aku ingin bersifat sedikit romantis, supaya tidak ada yang melihat satupun aku yang meletakkan bingkisan itu ditempat duduknya. Karena pada pukul 06.30 saja kampus sudah lumayan ramai dengan anak – anak yang sedang internetan menggunakan hotspot kampus. Aku duduk dikelas dengan wajah yang masih mengantuk dan tentunya hati yang masih galau yang aku sendiri tidak akan pernah tau kapan kegalauan ini akan hilang dari hatiku. Aku ambil handphone-ku dari dalam saku celanaku. Aku ketikkan pesan yang bertuliskan -“semoga itu akan menjadi hadiah yang sedikit berarti untukmu” kumasukkan kontak nomor handphone Melody, sebelum aku mengirim pesan itu pada Melody, masih sempat – sempatnya saja aku melamun dan mengharapkan Melody berubah pikiran untuk menerima cintaku. Pikiran bodoh lagi yang selalu aku pikirkan disaat saat seperti ini. Ketekan tombol ok pada handphone-ku, kulihat proses pengiriman pesan itu sedang berjalan dan yang pada akhirnya pesan itu terkirim untuk Melody.
Sekarang apa yang menjadi kesimpulanku selama ini tentang cinta itu beragam. Tapi dari pengalaman yang sudah aku jalani bersama kenangan – kenangan yang mungkin aku buat dengan waktu yang singkat, yang benar dari cinta itu adalah EGOIS. Kenapa aku bisa menyimpulkan hal tersebut? Kenapa tidak? Cinta yang aku tahu itu memiliki rasa ingin memiliki yang besar, dengan kita menembak seseorang dan menjadikannya pacar kita dan tidak ada satupun yang boleh memilikinya lagi, apakah itu tidak egois? Setiap pasangan yang cemburu ketika melihat pasangannya jalan bareng atau yang paling konyol hanya berkomunikasi dengan orang lain bisa menimbulkan rasa cemburu yang besar, kenapa harus seperti itu? Apakah kita sudah mempunyai hubungan keterikatan seperti suami istri? Jika belum, hubungan seperti itu dinamakan apa? Dan hubungan tersebut didasari dengan rasa cinta yang berjenis apa lagi? Jenis cinta sejati, jenis cinta monyet, cinta diri sendiri atau cinta orang lain yang mementingkan diri sendiri? Oleh karena itu banyak orang yang mengatakan sebelum janur kuning melengkung, maka hal tersebut masih bisa diusahakan untuk bisa kita miliki, pernyataan itu menurutku benar, cinta memang tidak bisa dipaksakan dan masing – masing pasangan masih bisa memiliki kesempatan untuk mencari yang terbaik sebelum janur kuning itu melengkung. Dan kenapa jika pasangan itu marah jika merasa ada orang lain yang lebih baik darinya? Harusnya yang ada mereka instropeksi diri tentang apa yang kurang dari diri mereka masing – masing, hikmahnya mereka tidak jadi melakukan hubungan percintaan yang dilandasi rasa yang kurang nyaman yang mungkin pasangan kita merasakan hal itu. Belajar dewasa untuk bisa menerima sesuatu, bukan berfikir seperti anak kecil yang apabila mempunyai keinginan harus selalu dituruti. Aku ingin membalikan persepsi mengenai cinta yang egois, agar semua orang bisa menikmati cinta tanpa harus merasakan sakit hati dan kecewa karena 5 huruf tersebut.
Diary
Hatiku kecewa karena seseorang, aku jatuh dan susah untuk berdiri kembali, tegar seperti pertama kali aku belum mengenal seseorang yang membuatku seperti ini. Sedang berada dimanakah aku kini? Dengan kegelapan disekelilingku tanpa ada batasan ruang. Aku butuh dia untuk mengembalikanku pada kenyataanku. Aku cinta dia, aku tidak mau kehilangan dia, aku membutuhkan dia. Terima kasih yang sebesar – besarnya kuucapkan untuk dia yang kini ada dihadapanku.
Sangat indah jika orang – orang yang kita sayangi selalu ada disamping kita untuk memberikan kasih sayangnya, terutama jika kita mendapatkan kasih sayang tersebut dari pasangan kita sendiri. Kita bisa menjadi orang yang paling EGOIS untuk bisa mendapatkan cinta dan sebuah kasih sayang dari orang yang kita sayangi. Terkadang air matapun keluar untuk itu. Namun aku tetap saja tidak mengerti akan hal itu, kenapa semua itu harus dilakukan? Apakah mempunyai sifat yang egois itu merupakan sebuah kewajiban untuk mendapatkan cinta? Aku berfikir sejenak, dan setalah aku bisa memastikan itu, aku rasa sebuah cinta tidak membutuhkan sebuah keegoisan. Semua orang mengerti akan hal itu, tapi apakah semua orang juga bisa mengerti egois seperti apa yang aku maksud demi untuk mendapatkan sebuah cinta? Banyak dari orang – orang tidak akan pernah menyadari apa yang telah dilakukannya demi sebuah cinta, Dan tidak akan pernah sadar egois yang seperti apa yang selalu mereka lakukan demi cinta. Mengertilah tentang bagaimana cinta diberikan kepada diri kita masing – masing, cinta dari seorang kekasih, cinta dari seorang keluarga, dari sahabat dan dari manapun cinta itu berasal. Menangislah jika itu perlu kalian lakukan untuk mendapatkan cinta. Aku ingin bangkit dari jatuhku untuk kembali tersenyum pada orang – orang disekelilingku dan orang yang aku anggap special yang sudah ada dalam kehidupanku saat ini. “…dan tentang cinta yang mengalir di sekelilingku…aku yakin…ini yang terbaik untukku dan cintaku…” penggalan puisi yang aku tulis yang belum sempat aku lanjutkan. Aku masih tertuju pada kalimat puisi ini dengan seribu pertanyaan di otakku. Aku pikir semua akan berpendapat seperti itu jika ditanya tentang cinta. Banyak yang mengartikan cinta itu indah, tapi seindah apa? Banyak juga yang mengartikan bahwa cinta itu adalah kewajiban yang harus dimiliki setiap orang, tapi untuk apa? Dan banyak juga yang berpendapat bahwa cinta itu menyakitkan, tapi sesakit apa? Biarkan cinta itu datang dan pergi sesuka mereka, jangan paksakan cinta itu datang dan pergi sesuka kita, karena itu yang akan menjadi boomerang bagi kita dan akan menjadikan kita merasa tersakiti oleh cinta. Tetapi, untuk apa kita menyalahkan cinta jika memang semuanya berawal dari cinta dan berakhir untuk cinta? Untuk apa sakit hati jika pada akhirnya kita akan kembali pada cinta? Belajarlah dari cinta yang senantiasa memberi tanpa pernah meminta. berfikirlah dari cinta yang senantiasa mengerti. Perlahan – lahan aku menutup mata ini dan mencoba kembali membuka mata ini dengan harapan akan ada cinta yang lain yang lebih baik yang akan datang untuk menjemput hatiku. Aku tidak ingin membenci cinta, karena menurutku untuk apa membenci cinta jika pada akhirnya akan berakhir untuk sebuah cinta yang kita tidak akan pernah tahu darimana dan kapan datangnya cinta ituhadir, hanya demi untuk memberi sebuah senyuman kecil untuk seseorang yang memberikan kita sebuah cinta. Dan satu hal lagi yang aku mengerti tentang cinta, ternyata cinta bukan tentang harus memiliki sebuah kesempurnaan, namun bagaimana cinta itu dimiliki dengan sempurna.
Bagaimana kabar scenario film yang sedng aku buat? Aku harus melanjutkan scenario film yang sempat tertunda, bagaimanapun kondisi hatiku sekarang yang jelas scenario ini harus selesai dan harus menjadi sebuah film. “...Cinta, bagaimana kita bisa menyikapi itu. Jika tidak berani merasakan sakit karena cinta, lebih baik mati tanpa pernah mengenal cinta...” Motivasi nggak jelas, tapi yang jelas skenario film milikku harus jadi !!
The End...
Rie
Aku tidak habis pikir dengan kelakuanku yang sudah diluar akal sehat akhir – akhir ini. Begitu besarnya aku berharap pada Melody hanya untuk sekedar membalas sms dariku, saat waktu yang baru saja lewat 1 menit dari waktu awal aku sms Melody, rasanya hati ini sudah gelisah tidak karuan.
“Rie, hari ini kamu ada acara engga’? kita bisa ketemu? Aku tunggu di ruangan kelasku ya”.
Begitu senangnya aku ketika aku tahu itu adalah sms dari Melody, dan aku yakinkan bahwa aku tidak sedang bermimpi membaca sms Melody yang intinya dia mengajakku untuk bertemu. Setelah aku tersadar akan satu hal yang lainnya, aku segera melihat rincian pesan tersebut. Pesan sampai pada handphone-ku pukul 08.34 dan sekarang aku lihat pada jam tanganku pukul 09.07 , artinya sudah selama lebih dari 30 menit aku tidak membaca pesan dari Melody ini. Tanpa menunggu lebih lama lagi aku segera bergegas menuju ruangan kelas Melody untuk menghampirinya. Sudah dekat dengan ruangan kelas Melody, aku mendengar beberapa instrument yang sedang dimainkan. Dan begitu aku berdiri didepan pintu ruangan kelas Melody, disana aku melihat anak – anak kelas Melody sedang asyik bernyanyi dan memainkan alat musik gitar. Saat itu secara tidak sengaja aku melihat Melody sedang bernyanyi terpisah dari teman – temannya dengan menggunakan gitar.
“Melody, itu temen lo bukan?”. Kata salah satu teman Melody dengan suara lumayan keras.
Mendengar ada temannya yang memanggil, Melody langsung saja menengok kearah temannya yang kemudian mengalihkan pandangannya dan melihat kearahku.
“Rie, sini masuk”. Ucap Melody.
Tanpa sedikitpun rasa malu, aku masuk kedalam ruangan kelas Melody dan menghampiri Melody.
“maaf ya mel, aku baru aja buka sms dari kamu, jadinya aku telat ke kelas kamu”. Ujarku tersenyum.
“engga’ apa – apa kok Rie. Lagi sibuk engga’ sih kamu sekarang?”. Tanya Melody padaku dengan polos.
“oh engga’ sama sekali kok, ada apa? Mau jalan keluar? Kemana?”. Ucapku dengan penuh keyakinan.
“hei, siapa yang mau ngajak keluar? Ini nih, kamu bisa engga’ ajarin aku satu lagu buat aku nanti nyanyiin di acara BEM kampus. Iseng – iseng sih, kalau bisa menang yang berarti ituu bonusnya”. Ucapnya.
“oh, aku kirain hehehe, ya udah kita coba aja. Kamu suka lagu apa?”. Tanyaku balik padanya.
“Mmm…kamu bisa ajarin lagu JKT48 yang judul lagunya Shonichi? Aku suka banget sama lagu itu”. Ujarnya degan ekspresi wajah yang sedikit memohon.
“oh bisa kok, ya udah kita coba aja ya, sini gitarnya biar aku yang main, dan kamu yang nyanyi supaya fokus”. Ujarku.
“ih, kamu ajarin kunci gitarnya aja sama kamu perhatiin apa menurut kamu suara aku udah bagus”. Ucapnya.
“lho, memangnya kamu bisa main gitar?”. Tanyaku penasaran.
“ya bisa lah, kamu ngeremehin aku? Huh dasar deh”. Ujar Melody dengan wajah yang sedikit cemberut.
“wow, ya maaf aku engga’ tau. Ternyata kamu keren juga ya bisa main gitar juga”. Pujiku lembut.
Dengan perasaan yang sangat senang aku membimbing Melody untuk belajar lagu milik JKT48, perlahan – lahan suasana pun kian menjadi sangat mengasyikan bagi kita berdua, sesekali kita bercanda dan tertawa dengan lepas. Dan sewaktu aku melihat Melody sedang menyanyikan lagu Tere dengan penuh penghayatan, aku benar – benar telah merasa seperti sudah memiliki hatinya dengan utuh. Khayalanku mulai berkembang menjadi tidak karuan, aku sempat membayangkan seorang yang bernama Melody yang saat ini sedang duduk dihadapanku adalah kekasihku. Saat aku sedang asyik dengan khayalanku itu, tiba – tiba muncul dari hatiku perasaan sayang yang teramat sangat kepada Melody, ketika pada satu titik fokus aku melihat wajahnya yang sedang terbawa dengan nyanyian yang sedang dinyanyikannya. Polos, cantik, putih, baik, ingin sekali aku menjaga seorang putri yang sedang bernyanyi dihadapanku ini, walaupun sebenarnya aku tidak yakin juga apabila aku menyatakan cinta kepada dirinya, aku akan diterima manjadi kekasihnya atau tidak. “impian ada ditengah peluh, bagai bunga yang mekar secara perlahan... usaha keras itu tak akan mengkhianati ...impian ada ditengah peluh, selalu menunggu agar ia menguncup ... suatu hari pasti sampai harapan terkabul…”
Dan ini sudah jelas bagiku, bahwa aku sudah jatuh cinta kepadanya.“tuhan tolong jaga perasaan ini untuk Melody”.
“hey, kenapa sih kamu ngeliatin aku kayak gitu?”. Tanya Melody padaku.
“oh engga’ apa-apa kok. Kamu udah mulai bisa menghayati lagu, butuh latihan sedikit lagi supaya kamu bisa lebih terlatih”. Ucapku.
Latihan kembali kulanjutkan selama beberapa saat hingga kami memutuskan untuk pulang karena hari sudah sore.Hari itu menjadi tambah sempurna karena saat diriku mengajukan tawaran untuk mengantarkan Melody pulang kerumahnya ternyata tidak ditolak oleh Melody, dirinya bersedia jika aku mengantarnya pulang sore itu. Moment itu tentu saja tidak aku lewatkan begitu saja, dalam perjalanan menuju rumahnya aku kembali banyak berbincang – bincang dengan dirinya. 15 menit kuhabiskan waktu bersama Melody di perjalanan, dan tidak terasa sudah sampai di rumah Melody. Ini pertama kalinya aku mengetahui dimana rumah Melody. Ternyata rumah Melody berada tidak jauh dari kampus.
“makasih ya Rie udah mau anterin pulang. Dan makasih juga tadi aku udah diajarin 1 lagu buat acara BEM kampus nanti”. Ucapnya ketika turun dari motorku.
“iya Mel, sama – sama, kalau gitu aku langsung pamit aja ya”. Ucapku.
“oh oke. Be carefull Rie”. Katanya dengan senyuman yang manis.
Aku yang sekarang ini sedang mengalami kasmaran pada salah seorang gadis yang terkenal dikampus. Mimpi apa aku semalam bisa begitu dekat dengan Melody. Padahal untuk urusan tampang, aku termasuk type yang sedang – sedang saja, tidak tampan dan tidak jelek juga. Jika aku benar – benar bisa mendapatkan hati Melody, setidaknya aku akan menjadi orang yang paling beruntung sekampus dan akan membuat hari – hariku kedepan menjadi tidak karuan. Memang aku menjadi semangt jika aku berhasil mendapatkan cinta Melody, setiap hari aku akan bertemu Melody, namun disitu juga terdapat masalah, jika setiap hari aku bertemu Melody maka pikiranku untuk kedepannya akan selalu bertemu Melody lagi, lagi dan lagi. So, bagaimana dengan karierku untuk menjadi penulis terkenal? Bagaimana scenario film yang hendak ingin aku buat? Apakah semua itu akan ada kejelasan? Minimal, salah satu targetku bisa tercapai, kalau memamng Melody tulus bisa mencintai aku, pastinya dia akan mendukung apapun yang akan menjadi pilihan hidupku. Aku support dia sebaliknya dia juga bisa support aku sepenuhnya.
Hari ini aku dihadapkan dengan urusan percintaan yang cukup membuatku pusing. Hari ini aku sudah membuat Naomi merasakan kecewa yang teramat sangat dan disisi lain aku merasakan perasaan cinta yang begitu dalam terhadap Melody. Apakah itu adil untuk aku dan Naomi. Jika ditanya adil atau tidak, aku tidak bisa menilai dari salah satu sisi. Yang sudah pasti adalah bahwa Naomi mencintai aku dan aku mencintai Melody.
Diary
Dalam kebingunganku karena cinta, hal yang terbaik yang masih aku miliki sampai sekarang adalah keperdulian darinya untukku. Setiap saat aku akan aku akan membutuhkan dia untuk terus menjadikan aku lebih baik lagi.
Mataku sangat merah karena semalam aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bukan karena nyamuk aku tidak bisa tidur, bukan juga karena mati lampu, bukan karena udara yang panas dan tentunya juga bukan aku seorang insomnia. Melody yang membuat aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bayangan wajahnya yang ketika aku melihatnya selalu saja menggambarkan cantik wajahnya, terlebih lagi jika cantik wajahnya itu ditambah dengan senyuman yang keluar dari bibirnya. Ketika itu aku sudah tidak bisa mengucapkan apa – apa untuk menggambarkan keindahan tersebut. Aku sayang Melody, Aku cinta Melody, Aku rindu Melody. selalu Melody, Melody dan Melody. Dalam ketidakberdayaanku saat ini, aku ingin sekali bisa menjadi seseorang yang berarti untuk Melody, selalu bisa menjaganya, membuatnya nyaman, dan menyayanginya. Aku tidak mau kehilangan Melody, aku harus mengejar cintaku. Aku yang dari awal yang telah membuat pernyataan sendiri tentang cinta, kini sudah dipermainkan oleh cinta. Melody, I Love you.
Semangat dalam diriku kian menggebu – gebu untuk mengungkapkan perasaanku pada Melody. Kebetulan hari ini adalah hari libur, maka aku akan berkunjung ke rumah Melody dan akan kunyatakan perasaanku padanya. Dengan segala resiko yang sudah harus aku jalani aku mencoba untuk menenangkan hatiku. Jauh sebelum aku mengungkapkan perasaanku didepan Melody, aku sudah tidak bisa mengontrol ketenanganku. Wajah yang gugup, jantung yang berdetak cepat sudah bisa menggambarkan bagaimana kondisiku saat ini. 17 Februari ini akan jadi tanggal yang bersejarah untukku, antara sejarah yang baik dan sejarah yang buruk. Yah, hidup adalah sebuah pilihan dan dalam kehidupan hanya terdapat 2 pilihan, Hidup atau Mati, Ya atau Tidak, baik atau Buruk, termasuk juga dengan jawaban yang akan diberikan oleh Melody nanti antara Terima atau Tolak. Jika pilihan tersebut terdapat lebih dari dua maka itu dipastikan adalah pilihan pada soal – soal ujian pilihan berganda yang rata – rata terdiri dari 4 atau 5 pilihan.
Waktu semakin dekat dengan detik detik untuk aku mengungkapkan perasaan pada Melody. Sudah hampir sampai menuju rumahnya, dan aku sengaja memperlambat laju motorku. Aku benar – benar sudah menjadi orang yang aneh selama aku mengenal cinta dan mengenal Melody. Semakin aku memperlambat kecepatan motorku maka akan semakin lama juga aku bisa bertemu dengan Melody, tapi disisi lain hatiku menginginkan hal itu, mengulur – ulur waktu hingga aku benar – benar menyiapkan mentalku terrlebih dulu. 25 menit berlalu di perjalanan, dan kini aku berada pada rumah sederhana, dengan pagar rumah berwarna kuning dan terdapat mobil yang terparkir di garasi rumahnya. Baru saja aku kemarin datang ke tempat ini, kini aku kembali dengan tujuan yang lain.
“permisi”. Ucapku sambil mengetuk pintu rumah Melody.
3x aku mengetuk pintu rumah Melody, namun tidak ada respon dari dalam rumah tersebut, atau mungkin Melody sedang pergi keluar rumah. Akhirnya sisi lain hati aku sedikit lega karena aku harus menunda untuk mengungkapkan perasaanku pada Melody. Belum jauh aku dari pintu rumah, ada seseorang yang membuka pintu tersebut. Pikiranku yang tadi sempat tenang, kini kembali gugup. Dan benar saja, yang keluar dari rumah tersebut adalah Melody.
“hei Rie, ada apa?”. Tanya Melody padaku.
“oh, aku pikir engga’ ada orang dirumah”. Ucapku gugup.
“kamu kenapa sih? Kok kelihatan gugup gitu?”. Tanya Melody lagi.
Orang yang aku cari – cari kini ada didepan aku, aku masih harus mengumpulkan keberanianku untuk mengungkapkan apa yang ada dalam hatiku.
“Rie?”. Ucap Melody bingung.
Aku masih saja belum bisa memberanikan diri, dalam pikiranku aku selalu bertanya bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Jangan sampai aku memperlihatkan hal bodoh didepan Melody yang menyebabkan dirinya menjadi ilfeel terhadapku.
“ada apa?”.
“Mmm…boleh aku ngomongin sesuatu yang sifatnya agak privacy?”. Tanyaku bertele – tele.
“privacy? Masalah apa?”. Tanya Melody dengan penasaran.
“Mel, maaf kalau aku sudah lancang sama kamu, tapi aku bingung dengan apa yang aku rasakan sekarang.
Semenjak pertama kali aku deket sama kamu aku udah ngerasain hal yang beda yang belum pernah aku rasain. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa mempunyai perasaan ini begitu cepat, tapi saat kamu engga’ ada disamping aku, aku selalu ngerasa kalau aku butuh banget kamu. Mel, aku cinta kamu. Aku engga’ mau kehilangan kamu. Kamu…mau…jadi seseorang yang special di hati aku?”. Jelasku beserta keringat dingin yang mengucur ditubuhku.
Wajah Melody yang saat pertama kulihat masih terlihat kebingungan karena tidak mengerti maksud kedatanganku ke rumahnya saat ini langsung berubah, kulihat sebentar sebelum aku menundukkan kepalaku kebawah karena malu, wajahnya terlihat seperti orang yang kecewa karena sesuatu, cemberut dan seperti tidak senang aku mengungkapkan perasaaanku kepadanya. Apa boleh buat, aku sudah terlanjur mengatakan hal itu pada Melody, sekalian merasakan malu jika memang nanti aku akan merasakannya, sekalian merasa kecewa jika nanti aku harus merasakannya jika Melody menolakku. 99,9% aku mengira Melody akan menolakku jika dilihat dari ekspresi wajahnya terlihat seperti itu, tapi walaupun peluangku hanya 0,01% aku tetap menaruh harapan yang besar bahwa Melody akan menerima cintaku. Aku baru sadar bahwa sekarang ini aku sedang menembak salah satu cewek popular didepan pintu rumahnya, konyol sih jika kupikir – pikir, apakah tidak ada tempat romantic yang bisa kujadikan tempat untuk aku mengungkapkan perasaanku padanya? Dimanakah taman didekat – dekat sini? Atau minimal aku mengajak Melody makan direstoran dan mengungkapkannya disaat kita sedang makan. Ah, shit. Kenapa ide – ide yang brilliant itu baru terfikirkan ketika aku sudah mengungkapkan perasaanku. Aku memang payah, sudah panik dengan keadaan – keadaan yang justu seharusnya bisa lebih aku control.
“kenapa tiba – tiba mengatakan kalau kamu cinta sama aku?”. Tanya Melody.
“Mm..aku engga’ nemuin alasan dalam hal ini kenapa aku bisa mencintai kamu dengan begitu cepat, yang jelas rasa yang aku miliki ini tulus buat kamu”. Jelasku.
Lagi – lagi Melody kembali terdiam sambil menyandarkan dirinya pada pintu rumahnya. Dengan tatapan mata yang tajam dia menatap mataku. Tidak mengerti apa maksudnya dia menatapku dengan cara seperti itu. Apakah karena aku yang sudah mengungkapkan perasaan kepadanya telah membuat diriku dianggap seperti salah satu orang yang dibencinya. Kenapa cinta harus seperti ini? Kenapa cinta itu selalu dominan dengan hati dan perasaan?. Melody cukup membuatku merasakan tegang karena jawaban yang tidak kunjung diucapkannya. Ketegangan seperti ini pernah kualami, tapi dengan kondisi waktu itu aku sedang menonton pertandingan piala dunia ketika Jerman vs Spanyol dengan kedudukan jerman sudah tertinggal dari spanyol. Jadi jika begitu, apa bedanya cinta dengan ketegangan ketika melihat pertandingan sepak bola? Dan apa persamaan cinta dengan kepuasan ketika team kesayangan kita menang di piala dunia? Aargghh love so complicated. Semua yang ada didunia tidak ada bedanya dengan cinta jika kita sadar akan persamaannya. Lalu siapakah yang menemukan cinta? Dan siapa yang harus bertanggung jawab atas kekacauan yang sudah terjadi karena cinta? Apakah cinta diciptakan oleh seorang professor gila yang experimentnya telah gagal dan menyebabkan semua orang terkena virus cinta gila? Kalau begitu aku juga sudah termasuk jadi salah satu orang yang gila karena memikirkan pertanyaan – pertanyaan bodoh yang tidak mungkin jawabannya bisa ditemukan memakai akal sehal.
“maaf Rie, aku engga’ bisa jadi pacar kamu”. Jawabnya singkat.
Saat ini jika dalam film – film yang kutonton dalam genre percintaan, selalu saja ada sound effect tentang kekecewaan. Dan si kamera akan meng-close up wajahku dengan penuh rasa kekecewaan. Dan jika disamakan dengan sepak bola, saat ini adalah ketika peluit panjang telah dibunyikan oleh wasih dengan kedudukan jerman kalah 0 – 1 dari Spanyol. Merasakan kekecewaan yang teramat sangat, semua khayalan aku yang sudah terbang tinggi sebelumnya tiba – tiba saja hilang ditelan awan mendung yang akan turun hujan. Mungkin akan menjadi hujan yang sangat deras disertai petir yang menyambar dengan liar, bila perlu aku ingin hujan itu disertai dengan bertiupnya angin topan yang sangat kencang sekali yang mampu membinasakan perasaanku pada Melody.
“tapi kenapa Mel? Apa karena aku tidak pantas untuk mencintai kamu?”. Tanyaku penasaran.
“kamu belum mengenal baik siapa aku dan bagaimana aku”. Jelasnya.
“aku memang belum mengenal baik siapa kamu dan bagaimana kamu, tetapi kita bisa jalani itu kalau…”.
“kamu mungkin bisa jalani itu saat kita sudah berpacaran, tapi aku nggak bisa”. Jelasnya yang memotong pembicaraanku.
“oh, kalau begitu aku minta maaf sama kamu atas tindakanku yang kekanak – kanakan ini. Aku sekarang mengerti, kalau begitu aku pamit pulang dulu Mel. Maaf kalau aku sudah mengganggu waktu istirahat kamu siang hari ini”. Jelasku langsung.
Akupun segera beranjak perlahan – lahan dari depan Melody. Melody yang tanpa berbasa – basi denganku langsung saja masuk menuju rumahnya dan terdengar olehku suara pintu yang sedang dikunci dari arah dalam. Mungkin sekarang dia sudah benci denganku, tidak apa – apalah, paling juga sesampainya dirumah aku akan terkena serangan dilema cinta, seperti yang sudah aku bilang kemaren – kemaren diantaranya nangis 3 hari 3 malam, menimbulkan efek tidak nafsu makan, dan gangguan kejiwaan lainnya.
Diary
Baru saja aku merasakan kekecewaan yang sangat dalam, entah bagaimana aku bisa mengungkapkannya untuk bisa membuat hatiku merasa tenang, walau begitu aku ingin sekali ini menjadi salah satu motivasiku, namun sepertinya beban ini terlalu sulit untuk aku angkat dan rasakan seorang diri. Aku tidak ingin terjatuh dan hilang begitu saja, karena aku tidak ingin mengecewakan dia yang sebenarnya sudah memberikanku apa yang tidak aku minta, tapi ini cinta, dan aku sedang terbawa oleh suasana hatiku yang sedang kacau. Aku janji……aku janji akan segera bangun dan melupakan kejadian ini untuk dia, tapi tidak sekarang dan secepat itu………..
Syndrome – syndrome yang tidak jelas sudah mulai terlihat dalam keseharianku beberapa hari ini, hanya ingin melamun, berkhayal, tidak ingin keluar kamar, males makan, tidak mood untuk melakukan segala macam aktivitasku termasuk masuk kuliah, karena sudah 2 hari ini semenjak Melody menolak cintaku, keseharianku kini bisa dibilang seperti tanda – tanda orang yang ingin mengalami gangguan jiwa. Tentang film yang ingin aku buat juga, aku masih beum bisa melanjutkannya karena suasana hatiku yang sedang tidak ingin mengerjakan itu. Berarti untuk sekarang ini aku termasuk salah satu orang yang sedang galau. Kata yang sedang trend pada saat masa sekarang ini yang syndromenya tidak pandang siapapun, baik itu seorang rocker, dokter, psikiater, seorang pejabat yang galau karena memikirkan cara yang cepat untuk mendapatkan uang, dan apapun gelarnya baik itu Profesor, Doktor, MM, S.Kom, M.Kom mereka semua sama saja, mereka semua manusia yang mempunyai cinta dan perasaan. Aku sempat mempunyai ide untuk membuat grup di jejaring social dengan nama account galauers, dengan anggota grup semua orang yang sedang galau karena masalah mereka masing – masing dan dari situ juga mungkin aku bisa mendapatkan banyak sekali inspirasi kisah cerita yang bermacam – macam dari cerita yang konyol hingga yang gila.
Aku sudah hampir dibuat putus asa dengan keadaan yang seperti ini, cinta!!! Kenapa semua orang harus memiliki kamu? Lagi – lagi hanya pertanyaan konyol yang aku lontarkan dari otakku. Perasaanku kepada Melody belum bisa aku hilangkan dari hatiku, malah aku ingin memberikan sebuah hadiah untuknya sebagai tanda terima kasih karena membuat aku mempunyai perasaan yang berbeda terhadapnya. Aku memutuskan untuk membelikan Melody sebuah kalung yang terbuat dari emas putih murni dengan bertuliskan nama dia. Uang yang harus kubayar untuk mendapatkan kalung itu adalah Rp. 850.000. harga yang lumayan untukku jika itu akan kuberikan pada seorang yang sudah menolak cintaku. Sebenernya apa yang aku pikirkan ini adalah benar? Apakah orang lain akan melakukan hal yang sama jika mereka menjadi diriku? Mana mungkin? Lebih baik uang sebesar itu mereka simpan untuk mentraktir perempuan lain yang menjadi incaran mereka selanjutnya, karena mereka pikir perempuan tidak hanya ada satu dibelahan bumi ini. Perempuan memang tidak hanya ada satu didunia ini, akan tetapi tuhan telah membuat hati kita hanya cukup untuk menampung satu orang perempuan saja, yaitu cinta sejati kita. Siapa itu? Yang jelas perempuan itu hanya akan terpisahkan oleh kita jika memang waktu kita telah habis didunia.Tapi, mungkin ada juga segelintir orang yang akan melakukan hal yang sama denganku jika posisi mereka sudah dikecewakan oleh seseorang tersebut, bahkan mereka bisa melakukan lebih dari apa yang akulakukan saat ini. Beberapa bulan ini aku mengumpulkan uang untuk membeli kalung itu, aku kesampingkan niatku untuk menekuni belajar scenario film untuk sementara waktu. Semula aku yang lebih mementingkan karier daripada urusan percintaan, kini berubah 1800aku sudah tidak berjalan mengikuti akal sehatku, aku biarkan perasaan sedihku yang menuntunku untuk melakukan ini demi orang yang sangat kucintai yang hatinya tidak akan pernah bisa aku miliki.Ingin sebenarnya tanganku sendiri yang memakaikan kalung ini dilehernya, tapi lagi – lagi jika aku ingin bisa melakukan itu aku hanya bisa membayangkan itu lewat khayalanku saja. Sudahlah, aku berpikir ini akan kulakukan yang terakhir kalinya untuk Melody.
Kutaruh bingkisan kecil itu dikursi dimana dia biasa duduk diruangan kelasnya. Dengan tulisan kecil yang bertuliskan “Melody” pada bingkisan tersebut. Pagi – pagi sekali aku ke kampus dan sudah seperti yang ingin menggantikan kerja satpam yang datang pukul 06.00 . karena aku ingin bersifat sedikit romantis, supaya tidak ada yang melihat satupun aku yang meletakkan bingkisan itu ditempat duduknya. Karena pada pukul 06.30 saja kampus sudah lumayan ramai dengan anak – anak yang sedang internetan menggunakan hotspot kampus. Aku duduk dikelas dengan wajah yang masih mengantuk dan tentunya hati yang masih galau yang aku sendiri tidak akan pernah tau kapan kegalauan ini akan hilang dari hatiku. Aku ambil handphone-ku dari dalam saku celanaku. Aku ketikkan pesan yang bertuliskan -“semoga itu akan menjadi hadiah yang sedikit berarti untukmu” kumasukkan kontak nomor handphone Melody, sebelum aku mengirim pesan itu pada Melody, masih sempat – sempatnya saja aku melamun dan mengharapkan Melody berubah pikiran untuk menerima cintaku. Pikiran bodoh lagi yang selalu aku pikirkan disaat saat seperti ini. Ketekan tombol ok pada handphone-ku, kulihat proses pengiriman pesan itu sedang berjalan dan yang pada akhirnya pesan itu terkirim untuk Melody.
Sekarang apa yang menjadi kesimpulanku selama ini tentang cinta itu beragam. Tapi dari pengalaman yang sudah aku jalani bersama kenangan – kenangan yang mungkin aku buat dengan waktu yang singkat, yang benar dari cinta itu adalah EGOIS. Kenapa aku bisa menyimpulkan hal tersebut? Kenapa tidak? Cinta yang aku tahu itu memiliki rasa ingin memiliki yang besar, dengan kita menembak seseorang dan menjadikannya pacar kita dan tidak ada satupun yang boleh memilikinya lagi, apakah itu tidak egois? Setiap pasangan yang cemburu ketika melihat pasangannya jalan bareng atau yang paling konyol hanya berkomunikasi dengan orang lain bisa menimbulkan rasa cemburu yang besar, kenapa harus seperti itu? Apakah kita sudah mempunyai hubungan keterikatan seperti suami istri? Jika belum, hubungan seperti itu dinamakan apa? Dan hubungan tersebut didasari dengan rasa cinta yang berjenis apa lagi? Jenis cinta sejati, jenis cinta monyet, cinta diri sendiri atau cinta orang lain yang mementingkan diri sendiri? Oleh karena itu banyak orang yang mengatakan sebelum janur kuning melengkung, maka hal tersebut masih bisa diusahakan untuk bisa kita miliki, pernyataan itu menurutku benar, cinta memang tidak bisa dipaksakan dan masing – masing pasangan masih bisa memiliki kesempatan untuk mencari yang terbaik sebelum janur kuning itu melengkung. Dan kenapa jika pasangan itu marah jika merasa ada orang lain yang lebih baik darinya? Harusnya yang ada mereka instropeksi diri tentang apa yang kurang dari diri mereka masing – masing, hikmahnya mereka tidak jadi melakukan hubungan percintaan yang dilandasi rasa yang kurang nyaman yang mungkin pasangan kita merasakan hal itu. Belajar dewasa untuk bisa menerima sesuatu, bukan berfikir seperti anak kecil yang apabila mempunyai keinginan harus selalu dituruti. Aku ingin membalikan persepsi mengenai cinta yang egois, agar semua orang bisa menikmati cinta tanpa harus merasakan sakit hati dan kecewa karena 5 huruf tersebut.
Diary
Hatiku kecewa karena seseorang, aku jatuh dan susah untuk berdiri kembali, tegar seperti pertama kali aku belum mengenal seseorang yang membuatku seperti ini. Sedang berada dimanakah aku kini? Dengan kegelapan disekelilingku tanpa ada batasan ruang. Aku butuh dia untuk mengembalikanku pada kenyataanku. Aku cinta dia, aku tidak mau kehilangan dia, aku membutuhkan dia. Terima kasih yang sebesar – besarnya kuucapkan untuk dia yang kini ada dihadapanku.
Sangat indah jika orang – orang yang kita sayangi selalu ada disamping kita untuk memberikan kasih sayangnya, terutama jika kita mendapatkan kasih sayang tersebut dari pasangan kita sendiri. Kita bisa menjadi orang yang paling EGOIS untuk bisa mendapatkan cinta dan sebuah kasih sayang dari orang yang kita sayangi. Terkadang air matapun keluar untuk itu. Namun aku tetap saja tidak mengerti akan hal itu, kenapa semua itu harus dilakukan? Apakah mempunyai sifat yang egois itu merupakan sebuah kewajiban untuk mendapatkan cinta? Aku berfikir sejenak, dan setalah aku bisa memastikan itu, aku rasa sebuah cinta tidak membutuhkan sebuah keegoisan. Semua orang mengerti akan hal itu, tapi apakah semua orang juga bisa mengerti egois seperti apa yang aku maksud demi untuk mendapatkan sebuah cinta? Banyak dari orang – orang tidak akan pernah menyadari apa yang telah dilakukannya demi sebuah cinta, Dan tidak akan pernah sadar egois yang seperti apa yang selalu mereka lakukan demi cinta. Mengertilah tentang bagaimana cinta diberikan kepada diri kita masing – masing, cinta dari seorang kekasih, cinta dari seorang keluarga, dari sahabat dan dari manapun cinta itu berasal. Menangislah jika itu perlu kalian lakukan untuk mendapatkan cinta. Aku ingin bangkit dari jatuhku untuk kembali tersenyum pada orang – orang disekelilingku dan orang yang aku anggap special yang sudah ada dalam kehidupanku saat ini. “…dan tentang cinta yang mengalir di sekelilingku…aku yakin…ini yang terbaik untukku dan cintaku…” penggalan puisi yang aku tulis yang belum sempat aku lanjutkan. Aku masih tertuju pada kalimat puisi ini dengan seribu pertanyaan di otakku. Aku pikir semua akan berpendapat seperti itu jika ditanya tentang cinta. Banyak yang mengartikan cinta itu indah, tapi seindah apa? Banyak juga yang mengartikan bahwa cinta itu adalah kewajiban yang harus dimiliki setiap orang, tapi untuk apa? Dan banyak juga yang berpendapat bahwa cinta itu menyakitkan, tapi sesakit apa? Biarkan cinta itu datang dan pergi sesuka mereka, jangan paksakan cinta itu datang dan pergi sesuka kita, karena itu yang akan menjadi boomerang bagi kita dan akan menjadikan kita merasa tersakiti oleh cinta. Tetapi, untuk apa kita menyalahkan cinta jika memang semuanya berawal dari cinta dan berakhir untuk cinta? Untuk apa sakit hati jika pada akhirnya kita akan kembali pada cinta? Belajarlah dari cinta yang senantiasa memberi tanpa pernah meminta. berfikirlah dari cinta yang senantiasa mengerti. Perlahan – lahan aku menutup mata ini dan mencoba kembali membuka mata ini dengan harapan akan ada cinta yang lain yang lebih baik yang akan datang untuk menjemput hatiku. Aku tidak ingin membenci cinta, karena menurutku untuk apa membenci cinta jika pada akhirnya akan berakhir untuk sebuah cinta yang kita tidak akan pernah tahu darimana dan kapan datangnya cinta ituhadir, hanya demi untuk memberi sebuah senyuman kecil untuk seseorang yang memberikan kita sebuah cinta. Dan satu hal lagi yang aku mengerti tentang cinta, ternyata cinta bukan tentang harus memiliki sebuah kesempurnaan, namun bagaimana cinta itu dimiliki dengan sempurna.
Bagaimana kabar scenario film yang sedng aku buat? Aku harus melanjutkan scenario film yang sempat tertunda, bagaimanapun kondisi hatiku sekarang yang jelas scenario ini harus selesai dan harus menjadi sebuah film. “...Cinta, bagaimana kita bisa menyikapi itu. Jika tidak berani merasakan sakit karena cinta, lebih baik mati tanpa pernah mengenal cinta...” Motivasi nggak jelas, tapi yang jelas skenario film milikku harus jadi !!
The End...
Rie
Cerita Untuk Sebuah Cinta Khayalan [ PART 2 ]
Thursday, April 10, 2014
Posted by Unknown
Tag :
Fanfict
Padahal berhadapan langsung dengan Melody saja belum. Atau apakah benar yang dibilang Naomi tentang aku, bahwa aku ini sudah menjadi anak yang cupu di kampus ini. Padahal, jika dekat dengan perempuan yang baru aku kenal, tidak seaneh ini. Aku berjalan melalui koridor lantai 2 yang menghubungkanantara gedung fakultas Sastra dan fakultas psikologi. Kulihat hujan turun sedang disertai suara gemuruh petir yang terdengar seperti sedang ingin menyambar sesuatu. Saat aku sudah dilantai 1, di koridor tapat didepan mading kampus aku bertemu dengan gerombolan anak perempuan yang hendak menuju pintu keluar kampus, ketika aku lihat lagi anak – anak perempuan yang ada dihadapan aku itu ternyata salah satunya ada Melody yang sedang berbincang – bincang dengan temannya sambil berjalan. Aku yang baru melihat wajahnya secara kebetulan saja detak jantungku yang semula biasa saja langsung berdetak dengan sangat kencang seperti orang yang sedang terkena serangan jantung, atau lebih tepatnya mungkin bisa dibilang terkena syndrome kagetisme ketika bertemu perempuan cantik. Tanpa basa – basi lagi, langsung kupanggil saja Melody yang mungkin tidak menyadari keberadaanku.
“Melody”. Panggilku dengan mata yang tertuju kearahnya.
Sebenarnya akupun memberanikan diri memanggil namanya dengan informasi seadanya dari Naomi. Dan jika Naomi memberitahu informasi yang salah tentang Melody, sudah tentu saat aku panggil nama Melody tidak aka nada yang menoleh, dan aku harus siap – siap memiliki muka tembok. Tidak berapa lama aku memanggil nama Melody, ada salah seorang dari gerombolan anak perempuan itu yang menoleh.
“iya”. Sahutnya singkat.
“bisa kita bicara sebentar? Aku ada perlu sama kamu”. Ucapku dengan penuh rasa percaya diri.
Atau lebih tepatnya bukan karena penuh rasa percaya diri, melainkan menjadi orang yang sok melankolis, berbicara lembut, sopan dan bernada sok romantis.
“ada apa ya?”. Tanya Melody penasaran.
“bisa minta waktunya sebentar engga’? kamu mau cepet – cepet pulang ya?”. Tanyaku lagi sedikit gugup.
“Mmm…engga’ cepet – cepet juga sih. Bisa kok emang mau bicara tentang apa?”. Tanya Melody lembut.
Mendengar Melody yang sudah mulai berbicara panjang lebar, rasanya kampus Cuma milik berdua aja saat ini, ditambah dengan suasana hujan yang menjadikan udara semakin dingin. Ingin sekali tubuhku yang diam ini loncat – loncat kegirangan, tapi itu engga’ mungkin aku lakuin tepat dihadapan Melody dan teman – temannya. Aku malah mesem – mesem engga’ jelas karena sudah tidak bisa menahan rasa senang yang aku rasakan. Melody sempet melihat kearahku sebentar dan tersenyum, entah karena ingin menertawakan aku karena aku senyum – senyum tidak jelas atau entah karena ada hal lain yang membuatnya ingin tertawa, but I don’t care. Kupikir kapan lagi hujan akan turun ketika aku sedang berdua bersama Melody.
“temen – temen, kalian duluan aja ya, nanti aku nyusul kalian di pintu keluar, aku mau ada perlu sebentar sama dia”. Ucap Melody pada teman – temannya sambil menunjuk kearahku.
Apa yang kulihat digerbang tadi dengan sekarang ternyata berbeda jauh, aku pikir Melody akan langsung mengacuhkan aku pada saat aku pertama kali memanggilnya. Perkataan Naomi mungkin memang ada yang harus aku ralat sedikit, Naomi sempat bilang jika Melody akan jadi sangat baik jika kita sudah kenal baik juga dengan dirinya, tapi yang kurasakan kini justru Melody juga bersikap baik terhadap orang yang belum dikenalnya dengan baik.
“oke, sekarang kamu mau bicara apa?”. Tanyanya yang seketika membuat lamunanku tentang dirinya berantakan.
“sebenernya engga’ usah nyuruh temen – temen kamu pergi juga engga’ apa – apa kok, aku Cuma pengen kenal sama kamu lebih jauh aja. Kamu engga’ keberatan kan?”. Tanyaku gugup.
Lagi – lagi aku jadi orang yang melankolis, tapi mungkin ini sudah 1 tingkat diatas melankolis, yaitu tegarkolis. Perpaduan antara sikap tegar yang tanpa bersalah sudah membuat teman – temannya meninggalkannya hanya untuk sekedar pembicaraan yang tidak penting, yang ingin berkenalan dengannya dan sikap berbicara yang sok lembut dan romantis.
“boleh kok, oia kamu belum kenalin nama kamu ke aku?”. Ujarnya sambil tersenyum manis.
“oh iya, sampai lupa ngenalin diri, nama aku Rie”. Jawabku.
“nama kamu siapa?”. Tanyaku balik.
“lho, tadi bukannya udah manggil nama aku ya? Berarti tau dong nama aku siapa?”. Ujarnya sedikit kebingungan yang dibuat – buat.
“oh, maksud aku nama panjang kamu”. Sahutku dengan gugup.
Kini aku bisa menilai diriku sendiri seperti apa, Ternyata aku memang harus banyak – banyak bergaul, jika tidak ingin gelar mahasiswa cupu melekat kepadaku, hanya karena berbincang – bincang dengan perempuan saja aku sudah keteteran.
“just call me Melody, oke”. Jawabnya singkat sambil tersenyum padaku.
Nama yang indah dengan wajah yang cantik, jawaban Melody yang apa adanya itu membuat aku langsung kehabisan kata – kata untuk mengajaknya berbincang – bincang. Aku memang benar – benar payah, baru mengajukan pertanyaan tentang nama saja sudah langsung kehabisan perbendaharaan pertanyaan. Aku dan Melody sempat terdiam selama beberapa menit karena aku tidak tahu lagi harus berbicara apa. Tapi selama beberapa menit aku terdiam itu, aku benar – benar merasa melihat seorang putri sedang berdiri dihadapanku. Pandangan matanya yang sedikit kosong tengah tertuju pada taman bunga yang sedang basah karena air hujan dengan tangan kiri memegang beberapa buku dan sesekali tangannya menadahi air hujan tersebut dan memainkannya membuat aku benar – benar kehabisan kata – kata, sebenarnya cukup dengan seperti ini aku sudah merasa sangat dekat dengan Melody.
“Mmm…kamu kedinginan engga’ hujan – hujan gini?”. Tanyaku tiba – tiba.
“ya lumayan sih, lupa engga’ prepare jaket dari rumah, soalnya engga’ tau kalau bakalan hujan”. Jelasnya.
“kalau gitu kita ngobrol di koridor dalem ruangan aja gimana? Supaya kamu engga’ terlalu kedinginan”.
Ajakku.
Pertanyaan dalam benakku hanya 1, aku dibingungkan antara aku yang sedang gombal dan apakah aku yang sedang perhatian terhadap Melody yang benar – benar tidak ingin dirinya merasa kedinginan. Ini termasuk dalam permainan kata – kata ketika sedang berbicara dengan perempuan. Melody tidak akan benar – benar tahu apakah aku sedang menggombali dirinya atau benar – benar perhatian terhadapnya, terkecuali jika dirinya langsung berfikir jika semua laki – laki itu sama yaitu gombal. Aku berfikir yang bisa menutupi itu adalah ekspresi wajah, jika aku berbicara dengan ekspresi wajah yang biasa saja mungkin sudah pasti penilaian aku dari Melody adalah aku sedang menggombali dirinya, tapi jika aku lakukan dengan ekspresi wajah yang sedikit panik, itu akan terlihat lebih bagus, karena disitu aku menjadi orang yang polos.
“udah engga apa – apa kok disini aja, aku juga seneng bisa lihat hujan”. Jawabnhya.
“wah ada kepiting tuh jalan di genangan air, kamu lagi laper engga’? kayaknya enak yah kalau dingin – dingin gini makan kepiting rebus”. Ucapku sambil menunjuk kepiting itu.
“iya sih, kayaknya enak juga ya kepitingnya kalau di rebus, apalagi dimakan pas udara lagi dingin kayak gini”. Sahutnya sambil tersenyum.
“wah ya udah makan aja kepitingnya”. Ujarku.
“engga’ deh, kasian kepitingnya nanti kalau dimakan”. Sahutnya sambil melihat kepiting itu yang berjalan menjauh dari kita.
“yah, kepitingnya udah jauh kan”. Ucapku yang sedang sedikit menyindirnya.
Melody hanya tersenyum mendengar aku sedang sedikit meledeknya, namun tidak beberapa lama, kepiting itu kembali lagi mendekat pada Melody.
“wah, ternyata kamu emang jodoh ya sama kepiting itu, dia balik lagi karena suka sama kamu mungkin, makanya dia engga’ bisa pergi jauh dari kamu”. Ledekku lagi.
Melihat kepiting itu yang benar – benar mendekat kepada Melody, dirinya hanya tertawa kecil mengetahui hal tersebut. Apalagi ketika kepiting itu berdiam diri tepat tidak jauh di depan Melody.
“hehehe, ditaksir sama kepiting tuh kamu, kok diem aja sih kepiting ceweknya?”. Ucapku.
Tanpa bisa berkata – kata lagi, Melody tersenyum lepas mendengar aku berkata seperti itu.
“mulai sekarang aku panggil kamu, kepiting ya?”. Tanyaku sambil meledeknya.
“ya ampun, jangan dong, masa di panggil kepiting”. Pintanya yang lagi – lagi dilakukannya sambil tersenyum lepas.
Selepas itu, aku dan Melody menjadi semakin dekat. Akupun memberanikan diriku untuk meminta nomer handphone-nya. Supaya bisa lebih mudah jika untuk menghubungi dirinya.
Sepulang dari kampus, aku selalu memikirkan kejadian yang belum lama aku alami bersama Melody. Hari ini aku senang bukan main. Senang yang aku rasaka pun aku tidak tahu sebabnya karena apa. Apakah aku sudah jatuh cinta pada Melody? Tapi kenapa bisa? Apa itu tidak terlalu cepat untuk bisa dibilang jatuh cinta? Apa tidak ada pendekatan yang lebih lagi untuk bisa memastikan perasaan bahwa aku benar – benar mencintai Melody. Dan apakah ini juga yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama? Aku tidak setuju, jika sekarang ini aku dibilang jatuh cinta pada pandangan pertama, karena menurutku, cinta itu tidak ada yang instant, kalaupun ada yang instant, mereka hanya merasakan cinta itu hanya dari fisik. Jika berbicara mengenai instant, dibelahan bumi manapun akan sama topiknya mengenai mie. Selain dalam kemasan juga sering di sertakan tulisan instant, mie tersebut enak jika dimakan dengan menggunakan nasi, kacang atom, baso, maupun yang dimakan masih mentah. Tapi logika-nya pun mie juga sebenarnya tidak instan, harus direbus dulu. Nggak mungkin kan makan mie mentah?. Tapi jika kembali lagi mengenai cinta instant, kemasan memang bisa menentukan orang tersebut bisa memunculkan cinta, tapi tidak menjamin itu baik bagi mereka atau tidak. Cinta instant lebih banyak yang menggunakan prinsip “bagaimana nanti” artinya mereka akan menyesuaikan perasaan mereka seiring berjalannya waktu. Banyak dari cinta instant ini yang berhasil, dalam arti berhasil membuat salah satu pasangannya merasa tersakiti karena keputusan yang terlalu tergesa – gesa, namun jika sudah siap akan resikonya, cinta instant pun tidak jadi masalah. Dan nampaknya malam ini aku akan tidur dengan dewi cinta berada disekelilingku.
Diary,
aku benar – benar seperti orang yang paling beruntung, karena dia masih setia denganku. Walaupun mungkin aku sedikit membosankan tapi sejujurnya aku tidak ingin dia pergi dari kehidupanku. Inilah caraku untuk membuat sesuatu yang berbeda, kulakukan hanya untuknya seorang. Keep me in your heart.
Bangun dipagi hari pukul 05.00 pun rasanya kini terasa ada yang berbeda. Walaupun sebenarnya tidak ada perubahan berarti yang sudah terjadi dalam hidupku. Semua pernyataanku tentang cinta kemarin, sekarang sudah aku rasakan, everything’s. bukan aku selalu menjelekkan cinta, tapi aku hanya lebih sering bertanya dalam setiap percintaan kenapa harus begini? Kenapa harus begitu? Dan jika memang hari ini aku merasakan semua yang aku katakana kemarin tentang cinta, mungkin ini sudah lumrah terjadi di semua kalangan. “selamat pagi Melody, gimana tidur semalam? Kalau sudah bangun dari tidur, jangan lupa shalat subuh ya”. Dengan penuh rasa percaya diri layaknya seorang yang sedang berpacaran, aku langsung kirimkan sms tersebut pada Melody, kuingat – ingat hari ini jadwal masuk kampusku pada mata kuliah pertama adalah pukul 08.00, tapi dosen pada mata kuliah yang pertama biasanya tidak pernah datang tepat pada waktunya, jadi aku pun sedikit agak santai untuk berangkat ke kampus hari ini. Karena hari ini aku sedang merasakan kebahagiaan yang alasan tepatnya aku sendiri tidak tahu, akupun langsung bersemangat untuk kembali mengerjakan scenario filmku, selagi masih ada waktu sekitar 3 jam sebelum berangkat menuju kampus. Perasaan bahagia memang selalu berdampak positif bagi setiap kegiatanku. Hari ini juga mungkin aku akan jadi orang yang paling murah senyum dikampus.
“Rie, tunggu sebentar”. Panggil seseorang dari arah belakangku.
“oh, ada apa Naomi? Wah, pagi – pagi udah bawa bingkisan kado lumayan gede nih? Ada apaan? Emang temen kelas ada yang ulang tahun?”. Tanyaku sambil melihat bingkisan yang dibawa Naomi.
“oh engga’ kok, engga’ ada yang ulang tahun, hari ini gue mau nembak seseorang. Makanya gue bawa bingkisan buat dia”. Jelasnya singkat.
“oh ya? Mau nembak siapa lo? Kok lo engga’ pernah cerita – cerita sih sama gue?”. Tanyaku dengan penasaran.
“yee, emangnya kalau gue mau ngapa – ngapain, gue mesti ya update status sama lo? Ya udah ah, cepetan, lo tolong bawain kadonya ya?”. Pintanya samba memberikan kadonya padaku.
Sambil berjalan berbarengan menuju ke ruangan kelas, aku tidak habis pikir dengan Naomi. Dia benar – benar sudah jauh berubah dari yang aku bayangkan. Dulu dia yang kukenal adalah anak yang mempunyai gengsi yang sangat tinggi, sekarang sudah membuang jauh – jauh perasaan seperti itu. Apalagi jika mengenai urusan percintaan, dia adalah perempuan yang paling ribet yang pernah aku kenal selama hidupku. Memang yang pernah dia ceritakan dulu kepadaku adalah keinginan setiap perempuan yang terlebih dahulu harus seorang laki – laki yang bisa mengungkapkan perasaannya dulu kepadanya berikut dengan keinginannya, yaitu ditembak dengan cara yang sangat romantis. Kalau dipikir – pikir lagi memang umum sih, tapi yang aku bilang Naomi orang yang ribet dalam urusan itu adalah, ketika ada laki – laki yang ingin menembaknya, semua itu harus sudah terkonsep dan sekaligus bisa menjadi surprise untukknya. Karena Dari situ juga Naomi bisa melihat seberapa jauh pengorbanan yang dilakukan seseorang kepadanya. Lalu ketika sudah berpacaranpun, Naomi merupakan seorang yang memegang prinsip dia dalam berpacaran, yaitu laki – laki yang harus terlebih dulu dalam setiap melakukan apapun, termasuk jika laki – laki itu ingin mengajaknya berbicara dan juga harus menjaga konsistensi sikap romantisnya selama berpacaran. Bagi yang sudah biasa berpacaran mungkin itu tidak menjadi hal yang sulit, karena setiap hari mereka sudah melakukan hal itu, karena mereka tidak saja menerapkan itu ketika berpacaran, pada saat berbicara dengan perempuan yang baru dikenalnya bisa saja seseorang itu bergaya sok lemah lembut, cenderung pendiam dan hal umum lainnya. Tapi, bagi aku, sangat tidak bisa jika aku harus melakukan apa yang bukan dari diriku. Jika memang seseorang bisa menerimaku dan mencintaiku, maka apa yang menjadi kekuranganku itu adalah konsekuensi yang mau tidak mau seseorang itu harus menerimanya. Karena menurutku cinta itu tidak akan pernah meminta, namun akan senantiasa memberi. Seperti contoh ketika kita sedang sakit, pacar kita dengan penuh rasa sayang akan memberikan perhatian yang lebih terhadap kita, merawat kita tanpa pernah memintanya untuk merawat kita, semua itu akan dilakukan dengan tulus oleh pacar kita. Namun bila asumsi itu tidak benar, maka itu merupakan sisi lain yang ada dalam setiap persepsi seseorang. Bila ada yang sedang sakit dan seorang pacarnya dengan tegas meminta untuk diperhatikan, meminta untuk merawat kita ketika sedang sakit dan tidak memperdulikan kegiatan pasangan kita ketika mungkin pasangan kita sedang ada deadline pekerjaan yang belum selesai, maka hal itu akan cenderung terkesan memaksa. Memaksa untuk minta dirawat, memaksa untuk diperhatikan. Dan untuk sekedar mengingatkan juga, kita hidup didunia tidak hanya dengan pasangan kita, tapi ada orang terdekat lainnya yang juga akan memberikan kasih sayang yang tanpa pernah kita minta sedikitpun, kasih sayang orang tua, kasih sayang adik, kakak, sahabat, teman, mereka semua akan memberikan itu semua hanya untuk hal yang sama, yaitu kebahagiaan kita. Karena jika mungkin mereka teringat akan pada awal mereka menerima cinta pasangan mereka, tidak ada unsur paksaan dari berbagai pihak manapun untuk menerima cinta pasangan kita. Itu hanya sebagai gambaran umum hal – hal kecil yang mungkin bagi kita sendiri tidak sadar akan hal tersebut. Aku harap, ketika cinta Naomi diterima oleh orang yang dicintainya, Naomi bisa bersikap jauh lebihdewasa dan mengerti akan setiap kekurangan yang dimiliki pasangannya, begitu juga sebaliknya.
“Gue doain lo Naomi, semoga lo akan menemukan cinta lo dan menjadikan cinta ini adalah cinta terakhir dalam kehidupan lo”. Gumamku dalam hati.
Sini biar gue bukain pintunya”. Ucap Naomi.
Apa yang terjadi setelah itu ternyata adalah hal yang sangat tidak aku duga – duga sebelumnya. Anak – anak kelas ternyata sudah berkumpul didalam kelas untuk memberikan surprise kepadaku. Dan 1 hal mengejutkan lagi yang baru aku ketahui adalah bahwa laki – laki yang ingin ditembak Naomi untuk menyatakan cintanya adalah aku. Dengan keadaan yang pada saat ini sedang ramai dengan gaduhnya sorak sorai dari teman – temanku yang mengucapkan berbagai macam kalimat yang tentu saja mendukung niat Naomi.
“Rie, aku lakuin semua ini buat kamu. Aku tahu selama ini aku masih memiliki sifat seperti anak kecil, dan aku berubah Cuma buat kamu. Aku bener – bener ngerasa nyaman banget setiap ada disamping kamu, dan kamu selalu bisa membuat aku menjadi hal yang terindah yang sebelumnya tidak pernah aku rasakan. Aku sayang kamu Rie, dan sekarang giliran aku yang pengen banget bisa ngasih kebahagiaan buat kamu, ngasih semua rasa sayang aku buat kamu. Kamu mau…sekali lagi jadi hal yang terindah untuk seumur hidupku?”. Jelasnya panjang.
Setelah beberapa menit suasana kelas menjadi seperti ruangan kosong yang ada penghuninya karena ucapan Naomi kepadaku, saat ini kembali ricuh dengan sorakan sorakan yang bilang bahwa aku harus menerima cinta dari Naomi. Aku benar – benar sudah 2x dibuat jadi orang yang sangat pendiam oleh Naomi, yang pertama karena perubahan sikapnya saat bertemu di sport area dan kemudian aku lagi – lagi dibuat terdiam karena perlakuannya pagi hari ini. Aku sendiri tidak tahu harus memberi jawaban apa terhadap Naomi, jangankan untuk tahu memberi jawaban pada Naomi, aku sendiri saja tidak tahu sudah diam seberapa lama semenjak Naomi memberikan kejutan ini untukku.
“Rie? Kenapa kamu diam? oh iya, kado itu untuk kamu. Aku harap kamu mau buka sekarang ya? Kalau kamu mau terima cinta aku dan mau jadi pacar aku, kamu kasih itu ke aku dan aku anggap itu kamu telah memberikan hati kamu untuk aku, dan kado itu hanya symbol hati kamu aja untukku. Tapi jika kamu nolak aku, kamu bisa ambil kado itu buat kamu, dan kamu bisa simpan hati kamu untuk kamu berikan sama orang yang kamu anggap pantas untuk mendapatkan hati kamu”. Ucapnya panjang.
Untuk sementara waktu, minimal aku bisa bergerak dan melakukan suatu hal dan tidak selalu terdiam seperti robot yang sedang kehabisan baterai. Aku turuti kemauan Naomi untuk memintaku membuka isi dari bingkisan yang saat ini ada ditanganku. Satu persatu bingkisan kado itu kurobek dan kubuang begitu saja dilantai depan kelas, itu bukan berarti menandakan aku yang tidak cinta kebersihan, aku cinta kebersihan, tapi untuk lebih tepatnya aku tunda dulu cinta kebersihan itu untuk permintaan Naomi. Hal itu bisa aku lakukan nanti setelah semua ini selesai, namun jika aku lupa masih ada petugas kebersihan kampus yang selau membersihkan seluruh isi gedung kampus ini. Setelah kertas kado itu telah aku sobek, aku baru mengetahui isi dari kado itu ternyata adalah sebuah kaos basket Original LA Lakers, Aku terkejut bagaimana Naomi bisa mengetahui bahwa aku pecinta basket dan LA Lakers? Berbagai pertanyaan mulai berunculan dikepalaku dengan kata pertama apa, bagaimana, mengapa, siapa, dengan kalimat yang tentu saja menyesuaikan dengan kata depan pertanyaan yang muncul tersebut.
“kalau kamu Tanya mengapa aku bisa tahu, itu karena favourite kita sama. Aku juga suka team basket LA Lakers. Rie, setelah aku perhatikan selama ini, banyak sekali persamaan diantara kita, tentang makanan kesukaan kamu yang sama denganku, minuman kesukaan kamu, warna kesukaan kamu, hobi kita yang juga sama – sama menulis. Aku harap dengan itu kita bisa menjalani ini secara bersama – sama dan kalau ditanya hal yang paling aku suka dari kamu itu adalah ketika kamu bisa membuat aku ngerasa nyaman dengan sikap kamu”. Jelas Naomi lagi.
Aku kembali terdiam karena perkataan yang diucapkan oleh Naomi, dan kini aku menjadi tahu alasan kenapa dia menyatakan perasaannya kepadaku.
“Naomi, aku bener – bener terima kasih banget kamu udah mau ngasih surprise ini buat aku, tapi aku harap kamu bisa terima apapun yang menjadi jawaban aku”. Ujarku pelan.
“iya Rie, aku akan terima apapun jawaban dari kamu”. Sahutnya singkat.
“maaf, aku engga’ bisa menerima cinta kamu, karena selama ini aku sama sekali tidak pernah ada perasaan yang lebih selain hubungan antara teman, dan aku juga sudah sangat mengagumi kamu dengan perubahan sikap menjadi lebih dewasa dalam waktu yang singkat. Namun, aku harap kamu jangan melakukan perubahan kamu atas dasar seseorang, tapi kamu harus lakukan itu mulai dari diri kamu sendiri yaitu hati kamu, untuk bisa mendapatkan lebih apa yang kamu inginkan. Sekali lagi aku minta maaf, kalau kamu kecewa dengan jawaban yang aku berikan buat kamu. Dan sesuai dengan permintaan kamu, aku akan simpan pemberian kamu ini sebagai symbol hati aku”. Kataku sambil memegang pundak Naomi.
Saat itu juga Naomi langsung menundukkan kepalanya kebawah untuk beberapa saat dan mengangkatnya kembali untuk tersenyum kepadaku.
“iya Rie, aku ngerti. Maafin aku juga ya kalau hal – hal seperti ini membuat kamu risih, karena aku juga tahu kalau kamu engga’ terlalu suka dengan surprise ini. Ya, dengan begitu kamu bisa simpan dan jaga hati kamu untuk kamu berikan kepada seseorang yang kamu anggap pantas untuk kamu cintai”. Ujarnya pelan.
Saat itu juga aku langsung meninggalkan Naomi dengan teman – teman dikelas. Apakah aku sudah menjadi laki – laki paling jahat bagi Naomi? Aku rasa tidak juga, karena aku juga punya hak untuk menolak cinta Naomi. Apakah aku adalah laki – laki yang tidak mempunyai hati? Tidak juga, karena jika aku memaksakan keadaan untuk menerima cinta Naomi, maka kedepannya aku akan merasa semakin terpaksa untuk memberikan hatiku yang seharusnya tidak kuberikan untuk orang yang tidak aku cintai. Kalau sudah begitu, mana yang dibilang tidak punya hati? Aku atau Naomi? Jawabannya bisa juga Naomi yang secara halus memaksa hatiku untuk menjalani hubungan yang tidak aku sukai. Dan sampai kapanpun Naomi tidak bisa mengetahui keterpaksaan yang aku rasakan, karena dia asik – asik saja menjalani hubungan itu, dan kalau sudah begitu tentu saja aku yang akan merasakan sakitnya menjalani hubungan yang tidak seharusnya dijalani, dan secara tidak langsung aku membuat Naomi sakit hati, tapi yang semua itu berawal dari Naomi juga yang memaksakan kehendaknya. Namun alasan aku yang paling utama menolak cinta Naomi adalah karena banyak persamaan diantara kita. Secara sekilas aku terlihat orang yang sangat bodoh dalam sejarah cinta – cintaan. Orang yang ingin membangun cinta pasti akan mencari persamaan dari diri mereka masing – masing, karena mereka pikir itu yang akan membuat hubungan mereka menjadi awet. Kalau aku tidak, dalam membangun sebuah rasa cinta aku malah cenderung mencari perbedaan yang ada diantara pasangan aku. Karena menurutku jika aku dan pasangan aku memiliki banyak kesamaan, itu sama saja dengan aku mencintai diriku sendiri namun dengan cerminan orang lain yang berbeda. Dan dalam hubungan percintaan itu akan cenderung cepat menimbulkan rasa jenuh diantara pasangan. Lalu alasan aku yang kedua menolak Naomi adalah terlihat dari perkataannya yang mengucapkan “yang paling aku suka dari kamu adalah ketika kamu bisa membuat aku menjadi merasa sangat nyaman” jika dipikirkan kata – kata tersebut memang tidak bermasalah sedikitpun, tapi yang menjadi permasalahanku adalah jika dia hanya suka ketika aku membuat dirinya nyaman, bagaimana jika suatu saat aku sudah tidak bisa membuat dirinya nyaman? Apakah hubungan itu akan langsung berakhir? Bisa iya, bisa juga tidak. Namun yang jelas dalam perkataan itu yang paling aku mengerti adalah, bahwa Naomi mencintaiku masih dengan suatu hal yang membuatnya tertarik bagi dirinya. Dan bagi aku jelas saja itu perhitungan dalam sebuah percintaan.
Sudahlah, mungkin saat ini Naomi menjadi sangat kecewa sekali dengan aku, tapi aku juga tidak bisa berbuat apa – apa, yang kulakukan itu juga untuk kebaikan dirinya dan khususnya juga kebaikanku sendiri. Selama beberapa jam aku hanya duduk memikirkan hal itu sendirian dikantin tanpa satupun makanan dan minuman dihadapanku. Hari yang benar – benar gila. Biar saja aku yang dianggap gila, karena cinta memang begini. Sesuai dengan dugaanku, antara perkataanku dan kenyataan ketika perasaan sudah mengungkapkan kata cinta, itu tidak akan pernah bisa kita tebak akan seperti apa akhirnya. Alasan aku menolak Naomi hanya segelintir pernyataan real yang aku rasakan dan aku pikirkan selama aku diam saat surprise itu ditujukan kepadaku. Sebenarnya masih ada banyak pernyataan yang berbeda namun dengan maksud yang sama untuk menolak cinta Naomi, ada puluhan bahkan mungkin ratusan pernyataan yang bisa tidak masuk akal dan tentunya dengan orang yang berbeda. Cinta memang selalu tidak pakai logika, namun perasaan. Oleh karena itu banyak pemikiran – pemikiran yang logis tentang cinta yang tidak bisa diterapkan dalam membina hubungan sebuah percintaan, karena banyak orang menjalani percintaan itu sekitar 99% menggunakan perasaan dan 1% memakai logika. Itu sebabnya juga terjawab kenapa setiap ada yang tersakiti karena cinta, air mata selalu keluar walaupun sekuat apapun kita menahannya.
“aku engga bermaksud untuk menyakiti perasaan kamu, Naomi”.
to be continued...
- RIE -
“Melody”. Panggilku dengan mata yang tertuju kearahnya.
Sebenarnya akupun memberanikan diri memanggil namanya dengan informasi seadanya dari Naomi. Dan jika Naomi memberitahu informasi yang salah tentang Melody, sudah tentu saat aku panggil nama Melody tidak aka nada yang menoleh, dan aku harus siap – siap memiliki muka tembok. Tidak berapa lama aku memanggil nama Melody, ada salah seorang dari gerombolan anak perempuan itu yang menoleh.
“iya”. Sahutnya singkat.
“bisa kita bicara sebentar? Aku ada perlu sama kamu”. Ucapku dengan penuh rasa percaya diri.
Atau lebih tepatnya bukan karena penuh rasa percaya diri, melainkan menjadi orang yang sok melankolis, berbicara lembut, sopan dan bernada sok romantis.
“ada apa ya?”. Tanya Melody penasaran.
“bisa minta waktunya sebentar engga’? kamu mau cepet – cepet pulang ya?”. Tanyaku lagi sedikit gugup.
“Mmm…engga’ cepet – cepet juga sih. Bisa kok emang mau bicara tentang apa?”. Tanya Melody lembut.
Mendengar Melody yang sudah mulai berbicara panjang lebar, rasanya kampus Cuma milik berdua aja saat ini, ditambah dengan suasana hujan yang menjadikan udara semakin dingin. Ingin sekali tubuhku yang diam ini loncat – loncat kegirangan, tapi itu engga’ mungkin aku lakuin tepat dihadapan Melody dan teman – temannya. Aku malah mesem – mesem engga’ jelas karena sudah tidak bisa menahan rasa senang yang aku rasakan. Melody sempet melihat kearahku sebentar dan tersenyum, entah karena ingin menertawakan aku karena aku senyum – senyum tidak jelas atau entah karena ada hal lain yang membuatnya ingin tertawa, but I don’t care. Kupikir kapan lagi hujan akan turun ketika aku sedang berdua bersama Melody.
“temen – temen, kalian duluan aja ya, nanti aku nyusul kalian di pintu keluar, aku mau ada perlu sebentar sama dia”. Ucap Melody pada teman – temannya sambil menunjuk kearahku.
Apa yang kulihat digerbang tadi dengan sekarang ternyata berbeda jauh, aku pikir Melody akan langsung mengacuhkan aku pada saat aku pertama kali memanggilnya. Perkataan Naomi mungkin memang ada yang harus aku ralat sedikit, Naomi sempat bilang jika Melody akan jadi sangat baik jika kita sudah kenal baik juga dengan dirinya, tapi yang kurasakan kini justru Melody juga bersikap baik terhadap orang yang belum dikenalnya dengan baik.
“oke, sekarang kamu mau bicara apa?”. Tanyanya yang seketika membuat lamunanku tentang dirinya berantakan.
“sebenernya engga’ usah nyuruh temen – temen kamu pergi juga engga’ apa – apa kok, aku Cuma pengen kenal sama kamu lebih jauh aja. Kamu engga’ keberatan kan?”. Tanyaku gugup.
Lagi – lagi aku jadi orang yang melankolis, tapi mungkin ini sudah 1 tingkat diatas melankolis, yaitu tegarkolis. Perpaduan antara sikap tegar yang tanpa bersalah sudah membuat teman – temannya meninggalkannya hanya untuk sekedar pembicaraan yang tidak penting, yang ingin berkenalan dengannya dan sikap berbicara yang sok lembut dan romantis.
“boleh kok, oia kamu belum kenalin nama kamu ke aku?”. Ujarnya sambil tersenyum manis.
“oh iya, sampai lupa ngenalin diri, nama aku Rie”. Jawabku.
“nama kamu siapa?”. Tanyaku balik.
“lho, tadi bukannya udah manggil nama aku ya? Berarti tau dong nama aku siapa?”. Ujarnya sedikit kebingungan yang dibuat – buat.
“oh, maksud aku nama panjang kamu”. Sahutku dengan gugup.
Kini aku bisa menilai diriku sendiri seperti apa, Ternyata aku memang harus banyak – banyak bergaul, jika tidak ingin gelar mahasiswa cupu melekat kepadaku, hanya karena berbincang – bincang dengan perempuan saja aku sudah keteteran.
“just call me Melody, oke”. Jawabnya singkat sambil tersenyum padaku.
Nama yang indah dengan wajah yang cantik, jawaban Melody yang apa adanya itu membuat aku langsung kehabisan kata – kata untuk mengajaknya berbincang – bincang. Aku memang benar – benar payah, baru mengajukan pertanyaan tentang nama saja sudah langsung kehabisan perbendaharaan pertanyaan. Aku dan Melody sempat terdiam selama beberapa menit karena aku tidak tahu lagi harus berbicara apa. Tapi selama beberapa menit aku terdiam itu, aku benar – benar merasa melihat seorang putri sedang berdiri dihadapanku. Pandangan matanya yang sedikit kosong tengah tertuju pada taman bunga yang sedang basah karena air hujan dengan tangan kiri memegang beberapa buku dan sesekali tangannya menadahi air hujan tersebut dan memainkannya membuat aku benar – benar kehabisan kata – kata, sebenarnya cukup dengan seperti ini aku sudah merasa sangat dekat dengan Melody.
“Mmm…kamu kedinginan engga’ hujan – hujan gini?”. Tanyaku tiba – tiba.
“ya lumayan sih, lupa engga’ prepare jaket dari rumah, soalnya engga’ tau kalau bakalan hujan”. Jelasnya.
“kalau gitu kita ngobrol di koridor dalem ruangan aja gimana? Supaya kamu engga’ terlalu kedinginan”.
Ajakku.
Pertanyaan dalam benakku hanya 1, aku dibingungkan antara aku yang sedang gombal dan apakah aku yang sedang perhatian terhadap Melody yang benar – benar tidak ingin dirinya merasa kedinginan. Ini termasuk dalam permainan kata – kata ketika sedang berbicara dengan perempuan. Melody tidak akan benar – benar tahu apakah aku sedang menggombali dirinya atau benar – benar perhatian terhadapnya, terkecuali jika dirinya langsung berfikir jika semua laki – laki itu sama yaitu gombal. Aku berfikir yang bisa menutupi itu adalah ekspresi wajah, jika aku berbicara dengan ekspresi wajah yang biasa saja mungkin sudah pasti penilaian aku dari Melody adalah aku sedang menggombali dirinya, tapi jika aku lakukan dengan ekspresi wajah yang sedikit panik, itu akan terlihat lebih bagus, karena disitu aku menjadi orang yang polos.
“udah engga apa – apa kok disini aja, aku juga seneng bisa lihat hujan”. Jawabnhya.
“wah ada kepiting tuh jalan di genangan air, kamu lagi laper engga’? kayaknya enak yah kalau dingin – dingin gini makan kepiting rebus”. Ucapku sambil menunjuk kepiting itu.
“iya sih, kayaknya enak juga ya kepitingnya kalau di rebus, apalagi dimakan pas udara lagi dingin kayak gini”. Sahutnya sambil tersenyum.
“wah ya udah makan aja kepitingnya”. Ujarku.
“engga’ deh, kasian kepitingnya nanti kalau dimakan”. Sahutnya sambil melihat kepiting itu yang berjalan menjauh dari kita.
“yah, kepitingnya udah jauh kan”. Ucapku yang sedang sedikit menyindirnya.
Melody hanya tersenyum mendengar aku sedang sedikit meledeknya, namun tidak beberapa lama, kepiting itu kembali lagi mendekat pada Melody.
“wah, ternyata kamu emang jodoh ya sama kepiting itu, dia balik lagi karena suka sama kamu mungkin, makanya dia engga’ bisa pergi jauh dari kamu”. Ledekku lagi.
Melihat kepiting itu yang benar – benar mendekat kepada Melody, dirinya hanya tertawa kecil mengetahui hal tersebut. Apalagi ketika kepiting itu berdiam diri tepat tidak jauh di depan Melody.
“hehehe, ditaksir sama kepiting tuh kamu, kok diem aja sih kepiting ceweknya?”. Ucapku.
Tanpa bisa berkata – kata lagi, Melody tersenyum lepas mendengar aku berkata seperti itu.
“mulai sekarang aku panggil kamu, kepiting ya?”. Tanyaku sambil meledeknya.
“ya ampun, jangan dong, masa di panggil kepiting”. Pintanya yang lagi – lagi dilakukannya sambil tersenyum lepas.
Selepas itu, aku dan Melody menjadi semakin dekat. Akupun memberanikan diriku untuk meminta nomer handphone-nya. Supaya bisa lebih mudah jika untuk menghubungi dirinya.
Sepulang dari kampus, aku selalu memikirkan kejadian yang belum lama aku alami bersama Melody. Hari ini aku senang bukan main. Senang yang aku rasaka pun aku tidak tahu sebabnya karena apa. Apakah aku sudah jatuh cinta pada Melody? Tapi kenapa bisa? Apa itu tidak terlalu cepat untuk bisa dibilang jatuh cinta? Apa tidak ada pendekatan yang lebih lagi untuk bisa memastikan perasaan bahwa aku benar – benar mencintai Melody. Dan apakah ini juga yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama? Aku tidak setuju, jika sekarang ini aku dibilang jatuh cinta pada pandangan pertama, karena menurutku, cinta itu tidak ada yang instant, kalaupun ada yang instant, mereka hanya merasakan cinta itu hanya dari fisik. Jika berbicara mengenai instant, dibelahan bumi manapun akan sama topiknya mengenai mie. Selain dalam kemasan juga sering di sertakan tulisan instant, mie tersebut enak jika dimakan dengan menggunakan nasi, kacang atom, baso, maupun yang dimakan masih mentah. Tapi logika-nya pun mie juga sebenarnya tidak instan, harus direbus dulu. Nggak mungkin kan makan mie mentah?. Tapi jika kembali lagi mengenai cinta instant, kemasan memang bisa menentukan orang tersebut bisa memunculkan cinta, tapi tidak menjamin itu baik bagi mereka atau tidak. Cinta instant lebih banyak yang menggunakan prinsip “bagaimana nanti” artinya mereka akan menyesuaikan perasaan mereka seiring berjalannya waktu. Banyak dari cinta instant ini yang berhasil, dalam arti berhasil membuat salah satu pasangannya merasa tersakiti karena keputusan yang terlalu tergesa – gesa, namun jika sudah siap akan resikonya, cinta instant pun tidak jadi masalah. Dan nampaknya malam ini aku akan tidur dengan dewi cinta berada disekelilingku.
Diary,
aku benar – benar seperti orang yang paling beruntung, karena dia masih setia denganku. Walaupun mungkin aku sedikit membosankan tapi sejujurnya aku tidak ingin dia pergi dari kehidupanku. Inilah caraku untuk membuat sesuatu yang berbeda, kulakukan hanya untuknya seorang. Keep me in your heart.
Bangun dipagi hari pukul 05.00 pun rasanya kini terasa ada yang berbeda. Walaupun sebenarnya tidak ada perubahan berarti yang sudah terjadi dalam hidupku. Semua pernyataanku tentang cinta kemarin, sekarang sudah aku rasakan, everything’s. bukan aku selalu menjelekkan cinta, tapi aku hanya lebih sering bertanya dalam setiap percintaan kenapa harus begini? Kenapa harus begitu? Dan jika memang hari ini aku merasakan semua yang aku katakana kemarin tentang cinta, mungkin ini sudah lumrah terjadi di semua kalangan. “selamat pagi Melody, gimana tidur semalam? Kalau sudah bangun dari tidur, jangan lupa shalat subuh ya”. Dengan penuh rasa percaya diri layaknya seorang yang sedang berpacaran, aku langsung kirimkan sms tersebut pada Melody, kuingat – ingat hari ini jadwal masuk kampusku pada mata kuliah pertama adalah pukul 08.00, tapi dosen pada mata kuliah yang pertama biasanya tidak pernah datang tepat pada waktunya, jadi aku pun sedikit agak santai untuk berangkat ke kampus hari ini. Karena hari ini aku sedang merasakan kebahagiaan yang alasan tepatnya aku sendiri tidak tahu, akupun langsung bersemangat untuk kembali mengerjakan scenario filmku, selagi masih ada waktu sekitar 3 jam sebelum berangkat menuju kampus. Perasaan bahagia memang selalu berdampak positif bagi setiap kegiatanku. Hari ini juga mungkin aku akan jadi orang yang paling murah senyum dikampus.
“Rie, tunggu sebentar”. Panggil seseorang dari arah belakangku.
“oh, ada apa Naomi? Wah, pagi – pagi udah bawa bingkisan kado lumayan gede nih? Ada apaan? Emang temen kelas ada yang ulang tahun?”. Tanyaku sambil melihat bingkisan yang dibawa Naomi.
“oh engga’ kok, engga’ ada yang ulang tahun, hari ini gue mau nembak seseorang. Makanya gue bawa bingkisan buat dia”. Jelasnya singkat.
“oh ya? Mau nembak siapa lo? Kok lo engga’ pernah cerita – cerita sih sama gue?”. Tanyaku dengan penasaran.
“yee, emangnya kalau gue mau ngapa – ngapain, gue mesti ya update status sama lo? Ya udah ah, cepetan, lo tolong bawain kadonya ya?”. Pintanya samba memberikan kadonya padaku.
Sambil berjalan berbarengan menuju ke ruangan kelas, aku tidak habis pikir dengan Naomi. Dia benar – benar sudah jauh berubah dari yang aku bayangkan. Dulu dia yang kukenal adalah anak yang mempunyai gengsi yang sangat tinggi, sekarang sudah membuang jauh – jauh perasaan seperti itu. Apalagi jika mengenai urusan percintaan, dia adalah perempuan yang paling ribet yang pernah aku kenal selama hidupku. Memang yang pernah dia ceritakan dulu kepadaku adalah keinginan setiap perempuan yang terlebih dahulu harus seorang laki – laki yang bisa mengungkapkan perasaannya dulu kepadanya berikut dengan keinginannya, yaitu ditembak dengan cara yang sangat romantis. Kalau dipikir – pikir lagi memang umum sih, tapi yang aku bilang Naomi orang yang ribet dalam urusan itu adalah, ketika ada laki – laki yang ingin menembaknya, semua itu harus sudah terkonsep dan sekaligus bisa menjadi surprise untukknya. Karena Dari situ juga Naomi bisa melihat seberapa jauh pengorbanan yang dilakukan seseorang kepadanya. Lalu ketika sudah berpacaranpun, Naomi merupakan seorang yang memegang prinsip dia dalam berpacaran, yaitu laki – laki yang harus terlebih dulu dalam setiap melakukan apapun, termasuk jika laki – laki itu ingin mengajaknya berbicara dan juga harus menjaga konsistensi sikap romantisnya selama berpacaran. Bagi yang sudah biasa berpacaran mungkin itu tidak menjadi hal yang sulit, karena setiap hari mereka sudah melakukan hal itu, karena mereka tidak saja menerapkan itu ketika berpacaran, pada saat berbicara dengan perempuan yang baru dikenalnya bisa saja seseorang itu bergaya sok lemah lembut, cenderung pendiam dan hal umum lainnya. Tapi, bagi aku, sangat tidak bisa jika aku harus melakukan apa yang bukan dari diriku. Jika memang seseorang bisa menerimaku dan mencintaiku, maka apa yang menjadi kekuranganku itu adalah konsekuensi yang mau tidak mau seseorang itu harus menerimanya. Karena menurutku cinta itu tidak akan pernah meminta, namun akan senantiasa memberi. Seperti contoh ketika kita sedang sakit, pacar kita dengan penuh rasa sayang akan memberikan perhatian yang lebih terhadap kita, merawat kita tanpa pernah memintanya untuk merawat kita, semua itu akan dilakukan dengan tulus oleh pacar kita. Namun bila asumsi itu tidak benar, maka itu merupakan sisi lain yang ada dalam setiap persepsi seseorang. Bila ada yang sedang sakit dan seorang pacarnya dengan tegas meminta untuk diperhatikan, meminta untuk merawat kita ketika sedang sakit dan tidak memperdulikan kegiatan pasangan kita ketika mungkin pasangan kita sedang ada deadline pekerjaan yang belum selesai, maka hal itu akan cenderung terkesan memaksa. Memaksa untuk minta dirawat, memaksa untuk diperhatikan. Dan untuk sekedar mengingatkan juga, kita hidup didunia tidak hanya dengan pasangan kita, tapi ada orang terdekat lainnya yang juga akan memberikan kasih sayang yang tanpa pernah kita minta sedikitpun, kasih sayang orang tua, kasih sayang adik, kakak, sahabat, teman, mereka semua akan memberikan itu semua hanya untuk hal yang sama, yaitu kebahagiaan kita. Karena jika mungkin mereka teringat akan pada awal mereka menerima cinta pasangan mereka, tidak ada unsur paksaan dari berbagai pihak manapun untuk menerima cinta pasangan kita. Itu hanya sebagai gambaran umum hal – hal kecil yang mungkin bagi kita sendiri tidak sadar akan hal tersebut. Aku harap, ketika cinta Naomi diterima oleh orang yang dicintainya, Naomi bisa bersikap jauh lebihdewasa dan mengerti akan setiap kekurangan yang dimiliki pasangannya, begitu juga sebaliknya.
“Gue doain lo Naomi, semoga lo akan menemukan cinta lo dan menjadikan cinta ini adalah cinta terakhir dalam kehidupan lo”. Gumamku dalam hati.
Sini biar gue bukain pintunya”. Ucap Naomi.
Apa yang terjadi setelah itu ternyata adalah hal yang sangat tidak aku duga – duga sebelumnya. Anak – anak kelas ternyata sudah berkumpul didalam kelas untuk memberikan surprise kepadaku. Dan 1 hal mengejutkan lagi yang baru aku ketahui adalah bahwa laki – laki yang ingin ditembak Naomi untuk menyatakan cintanya adalah aku. Dengan keadaan yang pada saat ini sedang ramai dengan gaduhnya sorak sorai dari teman – temanku yang mengucapkan berbagai macam kalimat yang tentu saja mendukung niat Naomi.
“Rie, aku lakuin semua ini buat kamu. Aku tahu selama ini aku masih memiliki sifat seperti anak kecil, dan aku berubah Cuma buat kamu. Aku bener – bener ngerasa nyaman banget setiap ada disamping kamu, dan kamu selalu bisa membuat aku menjadi hal yang terindah yang sebelumnya tidak pernah aku rasakan. Aku sayang kamu Rie, dan sekarang giliran aku yang pengen banget bisa ngasih kebahagiaan buat kamu, ngasih semua rasa sayang aku buat kamu. Kamu mau…sekali lagi jadi hal yang terindah untuk seumur hidupku?”. Jelasnya panjang.
Setelah beberapa menit suasana kelas menjadi seperti ruangan kosong yang ada penghuninya karena ucapan Naomi kepadaku, saat ini kembali ricuh dengan sorakan sorakan yang bilang bahwa aku harus menerima cinta dari Naomi. Aku benar – benar sudah 2x dibuat jadi orang yang sangat pendiam oleh Naomi, yang pertama karena perubahan sikapnya saat bertemu di sport area dan kemudian aku lagi – lagi dibuat terdiam karena perlakuannya pagi hari ini. Aku sendiri tidak tahu harus memberi jawaban apa terhadap Naomi, jangankan untuk tahu memberi jawaban pada Naomi, aku sendiri saja tidak tahu sudah diam seberapa lama semenjak Naomi memberikan kejutan ini untukku.
“Rie? Kenapa kamu diam? oh iya, kado itu untuk kamu. Aku harap kamu mau buka sekarang ya? Kalau kamu mau terima cinta aku dan mau jadi pacar aku, kamu kasih itu ke aku dan aku anggap itu kamu telah memberikan hati kamu untuk aku, dan kado itu hanya symbol hati kamu aja untukku. Tapi jika kamu nolak aku, kamu bisa ambil kado itu buat kamu, dan kamu bisa simpan hati kamu untuk kamu berikan sama orang yang kamu anggap pantas untuk mendapatkan hati kamu”. Ucapnya panjang.
Untuk sementara waktu, minimal aku bisa bergerak dan melakukan suatu hal dan tidak selalu terdiam seperti robot yang sedang kehabisan baterai. Aku turuti kemauan Naomi untuk memintaku membuka isi dari bingkisan yang saat ini ada ditanganku. Satu persatu bingkisan kado itu kurobek dan kubuang begitu saja dilantai depan kelas, itu bukan berarti menandakan aku yang tidak cinta kebersihan, aku cinta kebersihan, tapi untuk lebih tepatnya aku tunda dulu cinta kebersihan itu untuk permintaan Naomi. Hal itu bisa aku lakukan nanti setelah semua ini selesai, namun jika aku lupa masih ada petugas kebersihan kampus yang selau membersihkan seluruh isi gedung kampus ini. Setelah kertas kado itu telah aku sobek, aku baru mengetahui isi dari kado itu ternyata adalah sebuah kaos basket Original LA Lakers, Aku terkejut bagaimana Naomi bisa mengetahui bahwa aku pecinta basket dan LA Lakers? Berbagai pertanyaan mulai berunculan dikepalaku dengan kata pertama apa, bagaimana, mengapa, siapa, dengan kalimat yang tentu saja menyesuaikan dengan kata depan pertanyaan yang muncul tersebut.
“kalau kamu Tanya mengapa aku bisa tahu, itu karena favourite kita sama. Aku juga suka team basket LA Lakers. Rie, setelah aku perhatikan selama ini, banyak sekali persamaan diantara kita, tentang makanan kesukaan kamu yang sama denganku, minuman kesukaan kamu, warna kesukaan kamu, hobi kita yang juga sama – sama menulis. Aku harap dengan itu kita bisa menjalani ini secara bersama – sama dan kalau ditanya hal yang paling aku suka dari kamu itu adalah ketika kamu bisa membuat aku ngerasa nyaman dengan sikap kamu”. Jelas Naomi lagi.
Aku kembali terdiam karena perkataan yang diucapkan oleh Naomi, dan kini aku menjadi tahu alasan kenapa dia menyatakan perasaannya kepadaku.
“Naomi, aku bener – bener terima kasih banget kamu udah mau ngasih surprise ini buat aku, tapi aku harap kamu bisa terima apapun yang menjadi jawaban aku”. Ujarku pelan.
“iya Rie, aku akan terima apapun jawaban dari kamu”. Sahutnya singkat.
“maaf, aku engga’ bisa menerima cinta kamu, karena selama ini aku sama sekali tidak pernah ada perasaan yang lebih selain hubungan antara teman, dan aku juga sudah sangat mengagumi kamu dengan perubahan sikap menjadi lebih dewasa dalam waktu yang singkat. Namun, aku harap kamu jangan melakukan perubahan kamu atas dasar seseorang, tapi kamu harus lakukan itu mulai dari diri kamu sendiri yaitu hati kamu, untuk bisa mendapatkan lebih apa yang kamu inginkan. Sekali lagi aku minta maaf, kalau kamu kecewa dengan jawaban yang aku berikan buat kamu. Dan sesuai dengan permintaan kamu, aku akan simpan pemberian kamu ini sebagai symbol hati aku”. Kataku sambil memegang pundak Naomi.
Saat itu juga Naomi langsung menundukkan kepalanya kebawah untuk beberapa saat dan mengangkatnya kembali untuk tersenyum kepadaku.
“iya Rie, aku ngerti. Maafin aku juga ya kalau hal – hal seperti ini membuat kamu risih, karena aku juga tahu kalau kamu engga’ terlalu suka dengan surprise ini. Ya, dengan begitu kamu bisa simpan dan jaga hati kamu untuk kamu berikan kepada seseorang yang kamu anggap pantas untuk kamu cintai”. Ujarnya pelan.
Saat itu juga aku langsung meninggalkan Naomi dengan teman – teman dikelas. Apakah aku sudah menjadi laki – laki paling jahat bagi Naomi? Aku rasa tidak juga, karena aku juga punya hak untuk menolak cinta Naomi. Apakah aku adalah laki – laki yang tidak mempunyai hati? Tidak juga, karena jika aku memaksakan keadaan untuk menerima cinta Naomi, maka kedepannya aku akan merasa semakin terpaksa untuk memberikan hatiku yang seharusnya tidak kuberikan untuk orang yang tidak aku cintai. Kalau sudah begitu, mana yang dibilang tidak punya hati? Aku atau Naomi? Jawabannya bisa juga Naomi yang secara halus memaksa hatiku untuk menjalani hubungan yang tidak aku sukai. Dan sampai kapanpun Naomi tidak bisa mengetahui keterpaksaan yang aku rasakan, karena dia asik – asik saja menjalani hubungan itu, dan kalau sudah begitu tentu saja aku yang akan merasakan sakitnya menjalani hubungan yang tidak seharusnya dijalani, dan secara tidak langsung aku membuat Naomi sakit hati, tapi yang semua itu berawal dari Naomi juga yang memaksakan kehendaknya. Namun alasan aku yang paling utama menolak cinta Naomi adalah karena banyak persamaan diantara kita. Secara sekilas aku terlihat orang yang sangat bodoh dalam sejarah cinta – cintaan. Orang yang ingin membangun cinta pasti akan mencari persamaan dari diri mereka masing – masing, karena mereka pikir itu yang akan membuat hubungan mereka menjadi awet. Kalau aku tidak, dalam membangun sebuah rasa cinta aku malah cenderung mencari perbedaan yang ada diantara pasangan aku. Karena menurutku jika aku dan pasangan aku memiliki banyak kesamaan, itu sama saja dengan aku mencintai diriku sendiri namun dengan cerminan orang lain yang berbeda. Dan dalam hubungan percintaan itu akan cenderung cepat menimbulkan rasa jenuh diantara pasangan. Lalu alasan aku yang kedua menolak Naomi adalah terlihat dari perkataannya yang mengucapkan “yang paling aku suka dari kamu adalah ketika kamu bisa membuat aku menjadi merasa sangat nyaman” jika dipikirkan kata – kata tersebut memang tidak bermasalah sedikitpun, tapi yang menjadi permasalahanku adalah jika dia hanya suka ketika aku membuat dirinya nyaman, bagaimana jika suatu saat aku sudah tidak bisa membuat dirinya nyaman? Apakah hubungan itu akan langsung berakhir? Bisa iya, bisa juga tidak. Namun yang jelas dalam perkataan itu yang paling aku mengerti adalah, bahwa Naomi mencintaiku masih dengan suatu hal yang membuatnya tertarik bagi dirinya. Dan bagi aku jelas saja itu perhitungan dalam sebuah percintaan.
Sudahlah, mungkin saat ini Naomi menjadi sangat kecewa sekali dengan aku, tapi aku juga tidak bisa berbuat apa – apa, yang kulakukan itu juga untuk kebaikan dirinya dan khususnya juga kebaikanku sendiri. Selama beberapa jam aku hanya duduk memikirkan hal itu sendirian dikantin tanpa satupun makanan dan minuman dihadapanku. Hari yang benar – benar gila. Biar saja aku yang dianggap gila, karena cinta memang begini. Sesuai dengan dugaanku, antara perkataanku dan kenyataan ketika perasaan sudah mengungkapkan kata cinta, itu tidak akan pernah bisa kita tebak akan seperti apa akhirnya. Alasan aku menolak Naomi hanya segelintir pernyataan real yang aku rasakan dan aku pikirkan selama aku diam saat surprise itu ditujukan kepadaku. Sebenarnya masih ada banyak pernyataan yang berbeda namun dengan maksud yang sama untuk menolak cinta Naomi, ada puluhan bahkan mungkin ratusan pernyataan yang bisa tidak masuk akal dan tentunya dengan orang yang berbeda. Cinta memang selalu tidak pakai logika, namun perasaan. Oleh karena itu banyak pemikiran – pemikiran yang logis tentang cinta yang tidak bisa diterapkan dalam membina hubungan sebuah percintaan, karena banyak orang menjalani percintaan itu sekitar 99% menggunakan perasaan dan 1% memakai logika. Itu sebabnya juga terjawab kenapa setiap ada yang tersakiti karena cinta, air mata selalu keluar walaupun sekuat apapun kita menahannya.
“aku engga bermaksud untuk menyakiti perasaan kamu, Naomi”.
to be continued...
- RIE -
Cerita untuk sebuah cinta khayalan [ PART 1 ]
Tuesday, April 8, 2014
Posted by Unknown
Tag :
Fanfict
“ya udah Len, sekarang lo ikutin aja apa yang terbaik menurut lo. Saran gue, kalau emang lo udah ngerasa engga’ nyaman sama Lutfi mendingan lo akhirin aja hubungan kalian karena gue yakin lo Cuma akan paksain keadaan aja kalau lo terus tetep jalanin hubungan kalian”
Aku tidak tahu apakah aku egois atau tidak dengan sms terakhir yang baru saja aku kirimkan pada Helen. Apakah karena jempol tanganku yang sudah sangat letih yang sudah hampir 2 jam ini setia dengan Helen yang membuat aku dengan mudahnya mengirimkan sms seperti itu? Yang jelas aku tidak tahu pasti kenapa aku menuliskan kalimat yang menurutku saran yang sedikit egois, yang aku tahu adalah aku yang saat ini menjadi seorang pendengar setia dengan jempol tangan yang kulitnya sudah mulai berwarna merah karena pegal kemudian sahabat aku yang sedang bersedih karena hubungan dengan pacarnya yang mulai retak. Dan satu hal lagi yang baru saja aku ketahui, yaitu pulsa handphone-ku yang berkurang sangat drastis selama 2 jam ini, entah mungkin sudah berapa puluh kali aku smsan dengan Helen atau bahkan mungkin ratusan. Tapi yang namanya cinta memang begitu, seperti umur seseorang, tidak ada satupun yang tahu kapan umur dirinya akan berakhir, semua adalah misteri. So, 7 bahkan 11 tahun berpacaran tidak akan menjadi jaminan bahwa cinta mereka akan dibawa sampai mati. Kapanpun, dimanapun dan siapapun yang merasakannya, cinta memang membutuhkan pengorbanan, bahkan mungkin tetesan air mata bila itu memang pantas dikeluarkan demi cinta. Tapi jika air mata itu masih belum bisa berhenti selama 3 hari 3 malam, lalu menimbulkan rasa tidak nafsu makan, melamun seperti orang gila sepanjang hari, apakah itu masih wajar bila dikatakan demi cinta? Apa sih cinta itu? Dan apa yang diinginkan oleh cinta hingga terkadang menjadikan setiap orang serasa menjadi seperti orang yang kehilangan akal sehat? Jawaban umum dari setiap orang adalah cinta itu buta. Buta yang berarti cinta tidak mengenal usia, perbedaan, status, materi, warna bahkan yang membuat cinta itu terdengar lebih tidak masuk akal adalah ketika arwah orang yang sudah meninggal menghampiri orang yang sangat dicintainya yang masih hidup walau sekedar membuktikan bahwa dirinya benar – benar sangat mencintai orang yang masih hidup tersebut. That was crazy, tapi yang aku percaya itu adalah bahwa cinta itu gila. Entahlah, aku hanya bisa menilai cinta dari sudut pandang orang lain yang merasakannya, bukan aku. Jadi seperti apa gilanya cinta, aku belum benar – benar merasakan. Dan cinta yang kualami sewaktu SMP dulu aku rasa masih sebatas cinta monyet, yang terjadi karena adanya ledekan dari teman – teman, bukan karena adanya perasaan dari hati kita masing - masing.
Pikiranku sejenak menjadi tidak menentu arah karena sahabatku yang sedang gelisah karena cinta yang dimilikinya. Sebenarnya aku ingin juga sesekali merasakan bagaimana cinta itu membuat diriku seperti orang gila yang tengah merasakan ketidakkaruan rasa yang ditimbulkan karena cinta, tapi saat ini aku ingin fokus terlebih dahulu untukbisa menjadi seorang penulis yang terkenal. Urusan pacar aku tidak mau ambil pusing, aku tidak mau semua target aku berantakan karena cinta. Sepintas terdengar seperti aku sangat tidak membutuhkan cinta, itu mustahil, karena aku percaya sewaktu kita masih dalam kandungan ibu, kita sudah memiliki cinta walau belum bisa berfikir cinta itu apa, tapi minimal kita sudah mendapatkan rasa cinta itu dalam kondisi yang berbeda. Aku ingin sekali menulis sebuah scenario untuk film yang bertema cinta, aku ingin semua orang bisa memahami pengertian tentang cinta lewat film yang ingin aku buat ini. Dan tidak perlu memulai dari awal untuk membuat penoton mengerti apa itu cinta, aku yakin orang lain yang akan menonton film ini sudah jauh lebih mengerti daripada aku yang membuat scenario ini. Jujur untuk membuat film bertema percintaan yang beda dari biasanya, aku melakukan gambling secara besar – besaran karena serumit dan perbedaan dalam cerita yang bertema percintaan pasti hanya akan menemui 3 klimaks, yaitu sad ending, happy ending yang endingnya pun sudah banyak dibuat oleh orang lain dengan berbagai macam ending yang menurut mereka bagus dan yang terakhir adalah Twist Ending. Hanya bagaimana setiap orang bisa mengemas cerita tersebut menjadi sebuah jalan cerita yang masuk akal dan cukup membuat para penonton puas menonton filmku ini nantinya, bukan untuk mendidik penonton masuk kedalam situasi percintaan dalam cerita film dan diterapkan di dunia nyata supaya bisa terkesan menjadi seorang yang sangat romantis. This is the real world, something must be thinking with logic, not just about feel.Contoh jika dalam film seorang laki – laki dengan sangat berani untuk melakukan bunuh diri hanya untuk menukarkan sebuah kepercayaan bahwa laki – laki tersebut sangat mencintai pacarnya, yang cerita ini nantinya mungkin akan menjadi sad ending yang sangat mengharukan jika memang pacarnya merasa menyesal karena membiarkan laki – laki itu bunuh diri, tapi jika pacarnya mencari laki – laki lain untuk dijadikan kekasihnya, mungkin cerita itu bisa lebih dari sekedar sad ending, tepatnya very sad ending banget, karena pengorbanan laki – laki yang sudah menukarkan nyawanya untuk sebuah kepercayaan dari pacarnya tidak ditanggapi dengan serius dan mati pun dia membawa dosa karena tuhan sangat membenci seseorang yang melakukan tindakan bunuh diri. Well, that just was an example. Cukup lama aku merebahkan tubuhku di tempat tidur dan berfikir sedikit mengenai gambaran percintaan yang selama ini ada didalam lingkungan sekitar kita yang beragam jenis dan tindakannya.
Kuraba - raba handphone yang tadi kuletakkan tidak jauh dari tangan, kulihat layar handphone untuk mengetahui apakah Helen membalas sms yang terakhir ku kirim padanya. Tidak ada pemberitahuan pesan yang masuk ke handphone-ku, itu menandakan mungkin Helen sudah bisa merasakan sedikit lebih tenang atau bahkan sedang menghabiskan air matanya demi seorang yang sudah mengisi hatinya selama 5 tahun ini. Aku tidak mau ambil pusing dengan masalah Helen, yang jelas tugasku sebagai seorang sahabat sudah kujalankan untuk mencoba menghibur perasaannya dan menenangkan hatinya selama ± 2 jam tadi. Kupejamkan mataku sebentar untuk beristirahat dan merefresh kembali otakku. Aku terkejut ketika dari kejauhan aku melihat seorang gadis yang sepertinya aku pernah melihat dia sebelumnya, sedang menatap ke arahku hanya sekian detik dengan tatapan mata yang tajam dan ekspresi wajah yang datar. Kutatap balik mata gadis tersebut dengan banyak pertanyaan yang muncul dalam benakku. Salah satu pertanyaan tersebut adalah mengapa dia menatap ke arahku seolah dia yang sedang marah padaku. Gadis yang kulihat itu berkulit putih, mempunyai wajah manis dan berambut panjang. Ketika gadis itu beranjak dari diamnya yang kemudian berjalan ke arahku dan hendak berpapasan, aku mencoba untuk ramah kepada dirinya dengan memberikan sedikit senyum walaupun mungkin jika orang sekarang bilang aku sedang mencari perhatian dari dirinya atau apapun namanya. Kira – kira pada saat jarak 2 m sebelum kita berpapasan, perempuan itu kembali melihat diriku dengan tatapan yang sama dengan sebelumnya namun kali ini dilakukannya sambil menyalakan sebuah rokok dan menghisapnya tepat didepanku. Memang sedikit terkejut diriku yang tiba – tiba melihat perempuan itu merokok, setelah perempuan itu berpapasan dengan aku, masih saja aku pandangi dirinya saat berjalan perlahan menjauh dariku. Tapi satu hal yang aku rasa aneh adalah ketika aku melihat dirinya yang sudah mulai menjauh dari diriku, aku merasakan seperti seseorang yang akan kehilangan sesuatu, rasa sedih itupun muncul dan ingin sekali rasanya menangis karena perempuan yang baru saja aku lihat itu menghilang dari pandangan mataku. Mungkinkah aku akan kembali bertemu dirinya? Ingin sekali harapan itu bisa terwujud untukku, yang ingin memberikan sesuatu kepadanya. Hadiah yang akan kuberikan dari langkah kaki yang mulai menjauh dariku.
“…Kusuka, dirimu kusuka, kuberlari sekuat tenaga ... Kusuka selalu kusuka, kuteriak sebisa suaraku ... kusuka dirimu kusuka, walau susah untukku bernafas...tak akan kusembunyikan Oogoe Diamond …” terdengar lagi samar – samar lagu Oogoe Diamond, namun kali ini juga kurasakan bersamaan dengan getaran yang diatas perutku. Saat aku mulai tersadar, ternyata ada panggilan masuk dihandphoneku, dan setelah kulihat dilayar handphone, itu adalah Naomi.
“hallo Naomi, ada apa?”. Tanyaku dengan suara seperti orang yang baru bangun dari tidur.
“Rie, hari ini temenin gue jalan yuk? Bete banget nih gue. Ada waktu kan lo?”. Ajak Naomi.
“ada kok, boleh deh”. Jawabku singkat.
“oke kita langsung ketemu sport area jam 7 malem ya. Bye Rie, sampe ketemu nanti malem.
Kulihat sebentar ke arah jam dinding setelah aku menutup telpon dari Naomi. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, itu artinya masih ada waktu 3 jam lagi sebelum aku bertemu dengan Naomi. Aku sempat melamun sebentar memikirkan sesuatu yang sempat membuat aku merasa sedih, beberapa detik kemudian aku baru teringat akan seorang perempuan yang aku lihat dalam mimpku. Aku mencoba memutar memori otakku untuk melihat kejadian dimimpiku dalam lamunanku. Sambil menghela nafas, kubantingkan diriku di atas kasur yang kini aku duduki. Ku usap – usapkan kedua tanganku pada wajahku, kembali setelah itu aku merasakan sebuah rasa penyesalan yang cukup dalam tentang mimpiku tersebut. Entah apa yang sedang terjadi pada diriku ini, aku dibuat merasakan perasaan menyesal oleh seseorang yang belum ku kenal baik, dan yang lebih konyolnya lagi itu ku alami pada mimpiku sendiri. Mungkin aku sudah sedikit menjadi orang yang lebay kalau orang bilang sekarang. Terlalu mengambil hati hal – hal yang tidak jelas.
Sepintas aku mendapatkan ide untuk membuat scenario film bertema romantic dari mimpi yang baru saja aku alami, memang mimpi yang aku lihat sangat sangat simple, namun aku berfikir mungkin saja ada sesuatu hal dari mimpi itu yang aku tidak sadar bisa aku cari tahu tentang apa maksud dari mimpi tersebut. Dan jika memang ini akan berhasil menjadi sebuah film bertema romantis, aku tidak berharap banyak, semoga penonton akan puas melihat film ini. Langsung saja ku ambil laptopku untuk memulai menulis ide cerita yang akan aku tuangkan menjadi sebuah synopsis. Aku mulai dengan sebuah judul yaitu, MIMPI CERITA CINTA. Kutulis baris demi baris ide cerita yang kuingat dari mimpiku itu, dan setelah beberapa saat menjadi ide cerita yang utuh, aku baca kembali cerita tersebut dengan teliti. Di ide cerita yang aku baca tersebut, aku hanya menangkap jalan cerita seorang laki – laki yang merasa sedih ditinggal jauh seorang perempuan yang belum dikenalnya. Aku terus baca berulang – ulang cerita tersebut yang berharap untuk menemukan sisi lain dari ceritaku ini, tapi semakin terus berulang kali aku membaca ceritaku ini aku semakin pesimis dengan cerita yang aku buat ini. Aku berpikir sejenak setelah selesai membaca yang ke sekian kalinya, apakah cerita ini akan menjadi sebuah film yang menarik untuk dilihat. Ku acuhkan laptopku untuk sementara waktu dan mencoba berfikir berulang – ulang mengenai hal itu, semakin aku terus menerus berfikir maka yang ada rasa pesimis itu kian bertambah besar karena dalam cerita ini aku tidak menyuguhkan sesuatu cerita yang berbeda, dan mungkin ini akan menjadi film bertema romantis yang paling membosankan yang pernah ada dalam dunia perfilman. Kenapa laki – laki itu harus bersedih saat ditinggalkan seseorang yang belum dikenalnya? Apakah laki – laki itu mulai merasakan cinta pada pandangan pertama? Dan harus aku buat seperti apa supaya film ini bisa menyampaikan maknanya pada penonton. Untuk sementara aku dipusingkan oleh dua pertanyaan itu, tidak tahu lagi jika nanti akan muncul pertanyaan – pertanyaan lain dari benakku yang malah bisa membuat aku semakin berpikir 1000x untuk membuat film ini. Saat aku sedang serius berfikir mengenai ceritaku ini, handphone-ku berbunyi yang sontak saja membuat pikiranku mengenai cerita ini berantakan. Kulihat ada sms masuk ke handphone-ku, aku tebak mungkin ini Helen yang masih belum bisa mengatasi rasa sedihnya dan ingin bercerita lagi lewat sms kepadaku, dan aku harus siap – siap lagi untuk menjadi pendengar yang setia. “jangan lupa jam 7 malem kita ketemu di sport area ya, Rie. Sekarang gue mau anter adik gue ke tempat lesnya dulu, gue pastiin kali ini gue gak akan telat deh”. Setelah aku baca pesan itu aku baru teringat janjiku dengan Naomi malam ini, mataku langsung terarah pada jam dinding yang ada disebelah kananku, waku menunjukan pukul 18.10 . pandangan mataku seketika berubah seperti terkejut melihat hantu.
“mati deh gue udah jam segini, Naomi kan paling engga’ suka nunggu”. Gumamku sambil beranjak dari tempat tidurku.
Dalam waktu 40 menit aku harus sampai di sport area, padahal waktu yang harus ku tempuh dari rumahku menuju sport area pada jam seperti itu bisa hampir 30 menit, karena pada jam itu aku berada pada jalur yang searah dengan para pegawai pulang kantor. Aku sudah terbayang akan macet pada jalan yang akan ku lewati.
Selesai berbenah diri, aku langsung berangkat menuju sport area dengan menggunakan sepeda motor yang kumiliki sejak kelas 1 SMA ini. Dalam perjalanan perasaanku selalu tidak tenang, saat jalanan mulai macet, aku selalu melihat kearah jam tanganku untuk memastikan waktu. Hal itu selalu aku lakukan berulang kali ketika aku masih berada diperjalanan, bahkan selama 1 menit aku terus terpaku pada jam tanganku ini, dengan begitu aku bisa sedikit menghibur diriku, karena aku bisa melihat waktu yang berjalan dengan lambat. 19.17 aku baru tiba di sport area, cepat saja kuparkir motorku dan aku berkeliling mencari Naomi. Aku langsung menuju tempat duduk yang ada di depan air mancur, karena semenjak dari awal aku mengenal Naomi dikampus semester lalu, itu menjadi tempat favourite-nya saat pertama kali aku mengajaknya ke sport area ini, dan ternyata benar saja, dari kejauhan aku sudah melihat seorang perempuan yang sedang duduk sendirian.
“aduh, sorry ya Naomi gue telat. Lo tau sendiri kan kayak gimana macetnya jalanan kalau jam – jam segini?”. Ucapku dengan nafas yang masih terengah – engah.
Kulihat wajah Naomi, dia merespon perkataanku hanya tersenyum dan dengan pandangan matanya yang tertuju pada satu titik di depannya, yang akupun tidak tahu apa yang sedang dilihatnya.
“engga’ apa – apa kok Rie, oia makasih ya lo udah ngenalin tempat ini sama gue. Nyaman banget kalo lagi ada disini, emang tempat ini rame sih, tapi mereka asyik dengan kegiatan mereka masing – masing. Gue jadi ngerasa sendiri tapi engga sendiri kalau lagi ada disini”. Jelasnya panjang.
“hah? Apa?”. Ucapku terkejut.
Aku coba langsung memegang kening Naomi, yang kupikir dia sedang sakit karena tiba – tiba berbicara seperti itu, tentunya dengan maksud untuk sedikit bergurau dengannya.
“lo lagi sakit ya?”.
“enak aja, lo pikir gue sesakit itu apa? Emang ada yang aneh sama gue malem ini?”. Tanyanya penasaran.
“ada”. Jawabku singkat.
“hah, apa?”.
“itu gaya ngomong lo kayak orang yang bener aja”. Ledekku sambil tertawa.
“ah, sialan lo. Gue pikir apaan”. Ucapnya sambil tersenyum.
Saat itu aku benar – benar merasakan perbedaan pada diri Naomi, dia yang pertama kali kukenal pada saat pertama kali masuk kuliah adalah orang yang cerewet dengan sifat kekanak – kanakan tapi sosok Naomi yang saat ini ada dihadapan aku adalah Naomi yang mungkin kukenal 10 tahun kemudian.Tapi jujur, aku suka dengan Naomi yang seperti ini, terlihat dewasa dan cantik. Kupandangi Naomi sejenak sambil sedikit tersenyum.
“kenapa lo? Jangan – jangan lo yang lagi sakit? Malem – malem gini senyum – senyum engga’ jelas”. Katanya sambil tertawa yang balik meledekku.
Disepanjang malam ini aku bertemu dengan Naomi, aku tidak henti – hentinya mengobrol tentang apa saja yang bisa aku bicarakan dengan Naomi, kadang kita membahas masalah cita – cita, sesekali kita membahas mengenai masa lalu kita masing – masing. Aku coba menebak mengapa malam ini Naomi mengajakku keluar untuk sekedar berbincang – bincang seperti ini, mungkin dia merasa jenuh dengan apa yang saat ini sedang dijalaninya dan proses menuju dewasa memang terkadang seperti itu. Beberapa jam sudah dilalui tanpa terasa, sebentar aku mengalihkan pandangan mataku kea rah jam tangan yang ada di tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 21.35, malam yang cukup indah kulewati bersama Naomi. Entah darimana aku mendapatkan pemikiran seperti itu, perempuan yang biasa ketika bersama aku ini selalu terbuka dan apa adanya, tiba – tiba berubah drastis menjadi perempuan yang pendiam dan mampu memaksa aku menjadi seperti bukan aku yang juga terbuka dan blak – blakan ketika bersama dirinya.
“udah malem ya? engga’ kerasa yah Rie? Kalau gitu ngobrolnya kita lanjut lain waktu ya. Besok kan kita ada kuliah pagi”. Ucap Naomi santai.
“oh, i…iya juga ya, udah malem, ya udah kalau gitu kita pulang aja, besok kan dosennya engga’ ada toleransi buat terlambat walau Cuma 1 menit”. Sahutku dengan sedikit gugup.
Dengan senyuman yang menghiasi bibir Naomi menandakan bahwa sebentar lagi kita akan berpisah, dan belum puas aku melihat senyum Naomi yang manis itu, Naomi sudah beranjak dari tempat duduknya. Malam ini benar – benar menjadi malam yang tidak kuduga – duga sebelumnya. Baru kali ini aku dibuat diam oleh perubahan sifat Naomi yang begitu tiba – tiba. Dalam perjalanan menuju pulang kerumah aku masih saja berpikir tentang perubahan sikap yang Naomi tunjukkan padaku dan hal lain yang bisa kulakukan selain memikirkan perubahan sifat Naomi adalah selalu tersenyum tanpa sebab. Ketika aku masuk dalam kamar, aku langsung merebahkan tubuhku pada tempat tidur. Walaupun badanku terasa lelah dengan kegiatan seharian ini, namun aku masih saja memikirkan Naomi. Apakah aku sudah jatuh cinta pada Naomi? Dan jika memang aku sudah jatuh cinta pada Naomi, apa alasannya? Apakah perubahan sifatnya yang begitu tiba – tiba? Aku langsung mengalihkan semua kata – kata jatuh cinta pada Naomi dengan rasa kagumku padanya. Ya, itu yang paling tepat. Aku memikirkan Naomi karena memang aku merasa kagum atas perubahan sifatnya, dia bisa mendapatkan apa yang diinginkannya dengan usaha dan kerja keras dari dirinya sendiri. Saat pikiran tentang Naomi sudah tidak menggangguku lagi, aku langsung teringat dengan cerita film yang aku buat. Aku pun segera terbangun dari tempat tidurku dan mendekati laptopku untuk mengerjakan sinopsis dari cerita tersebut. Berurusan dengan perempuan memang bisa melupakan segala hal termasuk melakukan hal yang gila sekalipun. Aku langsung menghela nafasku sebelum aku berfikir yang semakin jauh tentang perempuan, karena biar bagaimanapun kita tetap akan membutuhkan seorang perempuan, karena alasan umumnya hidup didunia sudah ditakdirkan hidup secara berpasangan walaupun pasangan itu adalah musuh sekalipun. Langit dan bumi, kucing dan anjing, air dan minyak, begitu juga laki – laki dan perempuan seperti pada kisah cinta legendaris Romeo dan Juliet.
“Rie, thank’s ya buat malem ini, lo udah mau luangin waktu lo buat gue. Gue sedikit ngerasa tenang dan nyaman sekarang. Have a wonderfull dream ya buat tidur kamu malam ini. Bye”.
Kali ini aku benar – benar mempertanyakan maksud dari pesan yang dikirim oleh Naomi tersebut. Tidak biasanya dia seperti ini. Tapi sudahlah, aku ingin fokus untuk membuat scenario film yang sudah aku rencanakan sebelumnya. Akan semakin tidak tentu arahnya jika aku selalu memikirkan masalah yang sebenarnya sepele ini.
Synopsis
Judul : Mimpi Cerita Cinta
Ali yang merupakan mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta sudah tinggal selama 2 tahun di Jakarta. Dirinya merupakan pribadi yang tidak mudah jatuh cinta dengan sangat mudah, hingga pada suatu waktu secara tidak sengaja Ali melihat seorang gadis yang membuatnya cukup penasaran. Nama gadis itu adalah Desi, Ali mengetahui Desi dari jejaring social Facebook. Andreas yang merupakan teman Ali ternyata merupakan teman lama Desi. Disini, pribadi Ali yang tadinya merupakan seorang yang tidak mudah jatuh cinta pada seoang perempuan sudah tidak berlaku lagi, karena Perkenalan yang dilakukan oleh Andreas secara tidak sengaja itu ternyata membuat Ali sudah merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Lalu Ali pun melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan hati Desi, salah satunya memberikan Surprise dengan datang ke kost – kostan Desi yang tidak berada jauh dari kampusnya. Namun, dengan usaha – usaha Ali yang sudah dilakukannya untuk Desi tidak membuat hati Desi menjadi luluh, melainkan menjadikan Desi merasakan sedikit Risih dengan itu semua, hingga sampaipada akhirnya Ali menembak Desi, Ali pun mendapatkan jawaban yang membuat hatinya sedikit merasa kecewa. Desi menolak untuk menjadi pacar Ali.
Dengan penuh rasa keyakinan didalam hatiku, aku memberanikan diri untuk terus maju dengan cerita yang aku angkat dari mimpiku. Bermodalkan cerita yang sangat simple, aku akan membuat kemasan cerita ini menjadi beda. Akan banyak pesan yang ingin kusampaikan pada para penonton setelah menonton filmku ini. Well, sudah cukup larut malam sampai aku menyelesaikan synopsisku ini, sekarang aku ingin beristirahat, dan siap memulai hari esok dengan pengalaman yang berbeda.
Diary,
Hari ini aku sangat beruntung bisa mengenal orang yang baru dalam kehidupan aku, aku sudah mengenal dia sebelum malam ini, tapi tetap saja bagiku dia baru dalam keehidupan aku. Mampu membuat aku merasa seperti benar – benar hidup. Aku harap dia akan tetap seperti itu. Memberi warna dan inspirasi dalam setiap langkahku. Diary,aku ingin kamu mendengar harapan aku, malam ini aku berharap dia selalu ada untuk aku, begitu juga kamu yang selalu ada untuk aku, karena kamu nyata untukku.
Karena terlalu lelah dengan hari kemarin, hari ini aku bangun kesiangan dan aku kembali melakukan hal yang tergesa – gesa sama seperti saat semalam aku yang tergesa – gesa ingin bertemu Naomi karena tidak melihat waktu. Dan hal yang sama pun harus sama lagi kualami, yaitu terlambat.
“permisi pak, maaf saya terlambat. Apakah saya boleh masuk?”. Tanyaku sambil mengetuk pintu kelas.
“peraturannya sudah jelas kan? Di awal kuliah saya memberikan keterangan bahwa siapa saja yang terlambat masuk pada kelas saya walaupun itu hanya 1 menit, tidak ada konsekuensi sedikitpun tanpa terkecuali”. Jelas dosen itu sambil menatapku dari depan kelas.
“tapi, saya benar – benar ingin belajar di mata kuliah anda pak. Saya mohon, saya janji minggu depan saya tidak akan telat lagi”. Bujukku.
“sebelum kamu belajar di mata kuliah saya, coba anda belajar untuk menghargai waktu terlebih dahulu, setelah itu anda akan saya izinkan untuk bisa kembali mengikuti mata kuliah saya”. Jelas Dosen itu lagi.
“kalau begitu saya permisi pak”. Ucapku pelan sambil menundukkan kepalaku kebawah.
Bodohnya yang kulakukan tadi sampai mencoba membujuk dosen itu untuk mengizinkan aku masuk kedalam kelasnya, sudah jelas – jelas aku terlambat dan peraturannya pun sudah sangat aku mengerti, Tapi apa salahnya jika mencoba walaupun sebagian besar aku sudah mengetahui hasilnya. Untuk menghibur perasaanku yang sedang tidak karuan karena terlambat kesekolah, aku duduk di koridor gedung kelas. Walau nilai negatifnya aku tidak diizinkan masuk kelas karena terlambat, setidaknya aku mendapatkan nilai positifnya juga, yaitu aku bisa menghirup udara pagi yang masih sejuk ini, lalu disela –sela waktu ini aku bisa meneruskan cerita film ku untuk tahap pembuatan Skenario. Aku buka laptopku dan mulai untuk membuat Skenario filmku ini.
Saat aku sudah menyelesaikan beberapa scene dalam skenarioku, pandangan mataku sempat teralihkan dengan seseorang yang juga duduk dikoridor yang sama namun perempuan itu duduk di bagian ujung koridor. Sempat kulihat sebentar perempuan cantik yang memakai kerudung tersebut, tidak kusangka dia peka ketika aku sedang melihat dirinya. Dirinya menatap balik kearahku dengan tatapan mata yang tajam namun ekspresi wajah yang datar. Ketika aku sadar akan hal itu, langsung saja aku mengalihkan pandanganku lagi menuju laptop yang ada didepanku untuk melanjutkan scenario yang aku buat.
“Hei Rie, lo ada disini ternyata”. Ujar perempuan yang tiba – tiba saja mengagetkanku.
“ya ampun, lo bikin gue kaget aja, iya mau kemana lagi gue, mendingan gue duduk dikoridor aja sambil bikin scenario, dari pada ngalor – ngidul engga’ jelas”. Kataku sambil menghela nafas karena terkejut.
“gue minta maaf ya Rie sama lo, gara – gara kita ketemuan semalem, lo jadi telat dan engga’ dibolehin masuk ruang kelas”. Ucap Naomi dengan ekspresi wajah yang sedih.
“bukan salah lo kok, lagian emang gue aja yang bangunnya kesiangan”. Sanggahku.
“ya tapi kan kalau misalnya gue engga’ ngajak lo pergi semalem kan minimal lo bisa istirahat”. Ucap Naomi lagi.
“ya ampun Naomi, kalau lo bersalah itu, misalkan lo tinggal satu rumah sama gue dan lo sengaja engga’ bangunin gue buat berangkat kuliah, santai lah”. hiburku lagi padanya.
Ketika aku masih sedang berbincang – bincang dengan Naomi, aku melihat perempuan itu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kearahku dan Naomi. Saat perempuan itu hendak melewati aku dan Naomi, matanya sempat menatap ke arahku dengan tatapan yang sama saat tadi aku melihat dirinya di ujung koridor. Setelah perempuan itu melewatiku, pandangan mataku tidak lepas dari dirinya sebelum tembok ujung koridor yang 1 lagi menghalangi pandanganku terhadapnya.
“hei, kenapa sih lo ngelihatin Melody sampe segitunya?”. Tanya Naomi yang membuat pandanganku terhadap perempuan tadi lepas.
“oh, engga’ kok, gue Cuma heran aja. Pandangan matanya itu kok kayak yang jutek gitu sewaktu gue tadi engga’ sengaja ngelihat dia”. Jawabku.
“dia emang begitu, kelihatan sekilas emang jutek sih, tapi kalau lo kenal dia deket, dia baik kok orangnya”. Jelas Naomi yang tanpa sengaja memberitau sedikit informasi tentang perempuan itu.
“emangnya lo kenal sama dia?”. Tanyaku lagi penasaran.
“ya ampun, Melody itu terkenal kok di kampus ini, lo aja yang emang jarang update sama cewek cantik di kampus. Banyak yang suka sama dia, malah berita yang gue denger sekarang ini hampir semua anak cowok fakultas dia itu suka sama dia, gila kan”. Jelasnya lagi.
“emangnya dia anak fakultas mana?”. Tanyaku lagi.
“ya ampun Rie, wake up, What are you doing in here?”. Tanyanya terkejut.
“belajar”. Jawabku singkat.
“yes I know, but you must update too, babe. Kalo gini terus lo bakalan jadi mahasiswa paling cupu di kampus ini. Dia itu anak fakultas Sastra. Tepatnya dia ambil sastra inggris”. Jelasnya dengan ekspresi keheranan.
Hari ini kampus selesai pukul 15.30 sore, dan masih ada waktu sekitar 6 jam sebelum aku bisa bertemu dengan Melody untuk bisa berkenalan dengannya. Pikiranku disisa waktu 6 jam itu benar – benar tidak karuan, selalu saja aku membayangkan kejadian ketika aku melihat Melody dikoridor tadi pagi. Jika aku telaah lagi lebih teliti, kejadian ini hampir sama persis dengan apa yang aku mimpikan kemarin, hanya saja perbedaannya Melody tidak merokok ketika berpapasan denganku. Tidak salah jika Naomi bilang Melody salah satu perempuan yang paling cantik di kampus ini. Wajahnya yang manis, kulitnya yang putih, serta ditunjang dengan kondisi fisik yang proporsional, hanya laki – laki dengan memakai kacamata kuda yang tidak tertarik dengan Melody. Apakah kini aku benar – benar terjebak dengan perasaan cinta? Tapi kenapa bisa aku jatuh cinta terhadap Melody? Apa karena cantik wajahnya? Atau karena dia berhasil membuat aku menjadi merasa penasaran? Jam mata kuliah terakhir yang kosong tidak kupergunakan untuk melanjutkan membuat scenario filmku. Tapi tanpa sadar aku hanya diam melamun memikirkan Melody sambil membayangkan aku sudah bisa dekat dengan dirinya. Tinggal 20 menit lagi sebelum Melody keluar dari kelasnya. Aku segera menuju gedung Sastra yang letaknya bersebelahan dengan gedung fakultasku. Kali ini detak jantungku berdetak tidak seperti biasanya. Kali ini berdetak lebih cepat dari biasanya. Kenapa ini?
to be continued....
-RIE-
Aku tidak tahu apakah aku egois atau tidak dengan sms terakhir yang baru saja aku kirimkan pada Helen. Apakah karena jempol tanganku yang sudah sangat letih yang sudah hampir 2 jam ini setia dengan Helen yang membuat aku dengan mudahnya mengirimkan sms seperti itu? Yang jelas aku tidak tahu pasti kenapa aku menuliskan kalimat yang menurutku saran yang sedikit egois, yang aku tahu adalah aku yang saat ini menjadi seorang pendengar setia dengan jempol tangan yang kulitnya sudah mulai berwarna merah karena pegal kemudian sahabat aku yang sedang bersedih karena hubungan dengan pacarnya yang mulai retak. Dan satu hal lagi yang baru saja aku ketahui, yaitu pulsa handphone-ku yang berkurang sangat drastis selama 2 jam ini, entah mungkin sudah berapa puluh kali aku smsan dengan Helen atau bahkan mungkin ratusan. Tapi yang namanya cinta memang begitu, seperti umur seseorang, tidak ada satupun yang tahu kapan umur dirinya akan berakhir, semua adalah misteri. So, 7 bahkan 11 tahun berpacaran tidak akan menjadi jaminan bahwa cinta mereka akan dibawa sampai mati. Kapanpun, dimanapun dan siapapun yang merasakannya, cinta memang membutuhkan pengorbanan, bahkan mungkin tetesan air mata bila itu memang pantas dikeluarkan demi cinta. Tapi jika air mata itu masih belum bisa berhenti selama 3 hari 3 malam, lalu menimbulkan rasa tidak nafsu makan, melamun seperti orang gila sepanjang hari, apakah itu masih wajar bila dikatakan demi cinta? Apa sih cinta itu? Dan apa yang diinginkan oleh cinta hingga terkadang menjadikan setiap orang serasa menjadi seperti orang yang kehilangan akal sehat? Jawaban umum dari setiap orang adalah cinta itu buta. Buta yang berarti cinta tidak mengenal usia, perbedaan, status, materi, warna bahkan yang membuat cinta itu terdengar lebih tidak masuk akal adalah ketika arwah orang yang sudah meninggal menghampiri orang yang sangat dicintainya yang masih hidup walau sekedar membuktikan bahwa dirinya benar – benar sangat mencintai orang yang masih hidup tersebut. That was crazy, tapi yang aku percaya itu adalah bahwa cinta itu gila. Entahlah, aku hanya bisa menilai cinta dari sudut pandang orang lain yang merasakannya, bukan aku. Jadi seperti apa gilanya cinta, aku belum benar – benar merasakan. Dan cinta yang kualami sewaktu SMP dulu aku rasa masih sebatas cinta monyet, yang terjadi karena adanya ledekan dari teman – teman, bukan karena adanya perasaan dari hati kita masing - masing.
Pikiranku sejenak menjadi tidak menentu arah karena sahabatku yang sedang gelisah karena cinta yang dimilikinya. Sebenarnya aku ingin juga sesekali merasakan bagaimana cinta itu membuat diriku seperti orang gila yang tengah merasakan ketidakkaruan rasa yang ditimbulkan karena cinta, tapi saat ini aku ingin fokus terlebih dahulu untukbisa menjadi seorang penulis yang terkenal. Urusan pacar aku tidak mau ambil pusing, aku tidak mau semua target aku berantakan karena cinta. Sepintas terdengar seperti aku sangat tidak membutuhkan cinta, itu mustahil, karena aku percaya sewaktu kita masih dalam kandungan ibu, kita sudah memiliki cinta walau belum bisa berfikir cinta itu apa, tapi minimal kita sudah mendapatkan rasa cinta itu dalam kondisi yang berbeda. Aku ingin sekali menulis sebuah scenario untuk film yang bertema cinta, aku ingin semua orang bisa memahami pengertian tentang cinta lewat film yang ingin aku buat ini. Dan tidak perlu memulai dari awal untuk membuat penoton mengerti apa itu cinta, aku yakin orang lain yang akan menonton film ini sudah jauh lebih mengerti daripada aku yang membuat scenario ini. Jujur untuk membuat film bertema percintaan yang beda dari biasanya, aku melakukan gambling secara besar – besaran karena serumit dan perbedaan dalam cerita yang bertema percintaan pasti hanya akan menemui 3 klimaks, yaitu sad ending, happy ending yang endingnya pun sudah banyak dibuat oleh orang lain dengan berbagai macam ending yang menurut mereka bagus dan yang terakhir adalah Twist Ending. Hanya bagaimana setiap orang bisa mengemas cerita tersebut menjadi sebuah jalan cerita yang masuk akal dan cukup membuat para penonton puas menonton filmku ini nantinya, bukan untuk mendidik penonton masuk kedalam situasi percintaan dalam cerita film dan diterapkan di dunia nyata supaya bisa terkesan menjadi seorang yang sangat romantis. This is the real world, something must be thinking with logic, not just about feel.Contoh jika dalam film seorang laki – laki dengan sangat berani untuk melakukan bunuh diri hanya untuk menukarkan sebuah kepercayaan bahwa laki – laki tersebut sangat mencintai pacarnya, yang cerita ini nantinya mungkin akan menjadi sad ending yang sangat mengharukan jika memang pacarnya merasa menyesal karena membiarkan laki – laki itu bunuh diri, tapi jika pacarnya mencari laki – laki lain untuk dijadikan kekasihnya, mungkin cerita itu bisa lebih dari sekedar sad ending, tepatnya very sad ending banget, karena pengorbanan laki – laki yang sudah menukarkan nyawanya untuk sebuah kepercayaan dari pacarnya tidak ditanggapi dengan serius dan mati pun dia membawa dosa karena tuhan sangat membenci seseorang yang melakukan tindakan bunuh diri. Well, that just was an example. Cukup lama aku merebahkan tubuhku di tempat tidur dan berfikir sedikit mengenai gambaran percintaan yang selama ini ada didalam lingkungan sekitar kita yang beragam jenis dan tindakannya.
Kuraba - raba handphone yang tadi kuletakkan tidak jauh dari tangan, kulihat layar handphone untuk mengetahui apakah Helen membalas sms yang terakhir ku kirim padanya. Tidak ada pemberitahuan pesan yang masuk ke handphone-ku, itu menandakan mungkin Helen sudah bisa merasakan sedikit lebih tenang atau bahkan sedang menghabiskan air matanya demi seorang yang sudah mengisi hatinya selama 5 tahun ini. Aku tidak mau ambil pusing dengan masalah Helen, yang jelas tugasku sebagai seorang sahabat sudah kujalankan untuk mencoba menghibur perasaannya dan menenangkan hatinya selama ± 2 jam tadi. Kupejamkan mataku sebentar untuk beristirahat dan merefresh kembali otakku. Aku terkejut ketika dari kejauhan aku melihat seorang gadis yang sepertinya aku pernah melihat dia sebelumnya, sedang menatap ke arahku hanya sekian detik dengan tatapan mata yang tajam dan ekspresi wajah yang datar. Kutatap balik mata gadis tersebut dengan banyak pertanyaan yang muncul dalam benakku. Salah satu pertanyaan tersebut adalah mengapa dia menatap ke arahku seolah dia yang sedang marah padaku. Gadis yang kulihat itu berkulit putih, mempunyai wajah manis dan berambut panjang. Ketika gadis itu beranjak dari diamnya yang kemudian berjalan ke arahku dan hendak berpapasan, aku mencoba untuk ramah kepada dirinya dengan memberikan sedikit senyum walaupun mungkin jika orang sekarang bilang aku sedang mencari perhatian dari dirinya atau apapun namanya. Kira – kira pada saat jarak 2 m sebelum kita berpapasan, perempuan itu kembali melihat diriku dengan tatapan yang sama dengan sebelumnya namun kali ini dilakukannya sambil menyalakan sebuah rokok dan menghisapnya tepat didepanku. Memang sedikit terkejut diriku yang tiba – tiba melihat perempuan itu merokok, setelah perempuan itu berpapasan dengan aku, masih saja aku pandangi dirinya saat berjalan perlahan menjauh dariku. Tapi satu hal yang aku rasa aneh adalah ketika aku melihat dirinya yang sudah mulai menjauh dari diriku, aku merasakan seperti seseorang yang akan kehilangan sesuatu, rasa sedih itupun muncul dan ingin sekali rasanya menangis karena perempuan yang baru saja aku lihat itu menghilang dari pandangan mataku. Mungkinkah aku akan kembali bertemu dirinya? Ingin sekali harapan itu bisa terwujud untukku, yang ingin memberikan sesuatu kepadanya. Hadiah yang akan kuberikan dari langkah kaki yang mulai menjauh dariku.
“…Kusuka, dirimu kusuka, kuberlari sekuat tenaga ... Kusuka selalu kusuka, kuteriak sebisa suaraku ... kusuka dirimu kusuka, walau susah untukku bernafas...tak akan kusembunyikan Oogoe Diamond …” terdengar lagi samar – samar lagu Oogoe Diamond, namun kali ini juga kurasakan bersamaan dengan getaran yang diatas perutku. Saat aku mulai tersadar, ternyata ada panggilan masuk dihandphoneku, dan setelah kulihat dilayar handphone, itu adalah Naomi.
“hallo Naomi, ada apa?”. Tanyaku dengan suara seperti orang yang baru bangun dari tidur.
“Rie, hari ini temenin gue jalan yuk? Bete banget nih gue. Ada waktu kan lo?”. Ajak Naomi.
“ada kok, boleh deh”. Jawabku singkat.
“oke kita langsung ketemu sport area jam 7 malem ya. Bye Rie, sampe ketemu nanti malem.
Kulihat sebentar ke arah jam dinding setelah aku menutup telpon dari Naomi. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, itu artinya masih ada waktu 3 jam lagi sebelum aku bertemu dengan Naomi. Aku sempat melamun sebentar memikirkan sesuatu yang sempat membuat aku merasa sedih, beberapa detik kemudian aku baru teringat akan seorang perempuan yang aku lihat dalam mimpku. Aku mencoba memutar memori otakku untuk melihat kejadian dimimpiku dalam lamunanku. Sambil menghela nafas, kubantingkan diriku di atas kasur yang kini aku duduki. Ku usap – usapkan kedua tanganku pada wajahku, kembali setelah itu aku merasakan sebuah rasa penyesalan yang cukup dalam tentang mimpiku tersebut. Entah apa yang sedang terjadi pada diriku ini, aku dibuat merasakan perasaan menyesal oleh seseorang yang belum ku kenal baik, dan yang lebih konyolnya lagi itu ku alami pada mimpiku sendiri. Mungkin aku sudah sedikit menjadi orang yang lebay kalau orang bilang sekarang. Terlalu mengambil hati hal – hal yang tidak jelas.
Sepintas aku mendapatkan ide untuk membuat scenario film bertema romantic dari mimpi yang baru saja aku alami, memang mimpi yang aku lihat sangat sangat simple, namun aku berfikir mungkin saja ada sesuatu hal dari mimpi itu yang aku tidak sadar bisa aku cari tahu tentang apa maksud dari mimpi tersebut. Dan jika memang ini akan berhasil menjadi sebuah film bertema romantis, aku tidak berharap banyak, semoga penonton akan puas melihat film ini. Langsung saja ku ambil laptopku untuk memulai menulis ide cerita yang akan aku tuangkan menjadi sebuah synopsis. Aku mulai dengan sebuah judul yaitu, MIMPI CERITA CINTA. Kutulis baris demi baris ide cerita yang kuingat dari mimpiku itu, dan setelah beberapa saat menjadi ide cerita yang utuh, aku baca kembali cerita tersebut dengan teliti. Di ide cerita yang aku baca tersebut, aku hanya menangkap jalan cerita seorang laki – laki yang merasa sedih ditinggal jauh seorang perempuan yang belum dikenalnya. Aku terus baca berulang – ulang cerita tersebut yang berharap untuk menemukan sisi lain dari ceritaku ini, tapi semakin terus berulang kali aku membaca ceritaku ini aku semakin pesimis dengan cerita yang aku buat ini. Aku berpikir sejenak setelah selesai membaca yang ke sekian kalinya, apakah cerita ini akan menjadi sebuah film yang menarik untuk dilihat. Ku acuhkan laptopku untuk sementara waktu dan mencoba berfikir berulang – ulang mengenai hal itu, semakin aku terus menerus berfikir maka yang ada rasa pesimis itu kian bertambah besar karena dalam cerita ini aku tidak menyuguhkan sesuatu cerita yang berbeda, dan mungkin ini akan menjadi film bertema romantis yang paling membosankan yang pernah ada dalam dunia perfilman. Kenapa laki – laki itu harus bersedih saat ditinggalkan seseorang yang belum dikenalnya? Apakah laki – laki itu mulai merasakan cinta pada pandangan pertama? Dan harus aku buat seperti apa supaya film ini bisa menyampaikan maknanya pada penonton. Untuk sementara aku dipusingkan oleh dua pertanyaan itu, tidak tahu lagi jika nanti akan muncul pertanyaan – pertanyaan lain dari benakku yang malah bisa membuat aku semakin berpikir 1000x untuk membuat film ini. Saat aku sedang serius berfikir mengenai ceritaku ini, handphone-ku berbunyi yang sontak saja membuat pikiranku mengenai cerita ini berantakan. Kulihat ada sms masuk ke handphone-ku, aku tebak mungkin ini Helen yang masih belum bisa mengatasi rasa sedihnya dan ingin bercerita lagi lewat sms kepadaku, dan aku harus siap – siap lagi untuk menjadi pendengar yang setia. “jangan lupa jam 7 malem kita ketemu di sport area ya, Rie. Sekarang gue mau anter adik gue ke tempat lesnya dulu, gue pastiin kali ini gue gak akan telat deh”. Setelah aku baca pesan itu aku baru teringat janjiku dengan Naomi malam ini, mataku langsung terarah pada jam dinding yang ada disebelah kananku, waku menunjukan pukul 18.10 . pandangan mataku seketika berubah seperti terkejut melihat hantu.
“mati deh gue udah jam segini, Naomi kan paling engga’ suka nunggu”. Gumamku sambil beranjak dari tempat tidurku.
Dalam waktu 40 menit aku harus sampai di sport area, padahal waktu yang harus ku tempuh dari rumahku menuju sport area pada jam seperti itu bisa hampir 30 menit, karena pada jam itu aku berada pada jalur yang searah dengan para pegawai pulang kantor. Aku sudah terbayang akan macet pada jalan yang akan ku lewati.
Selesai berbenah diri, aku langsung berangkat menuju sport area dengan menggunakan sepeda motor yang kumiliki sejak kelas 1 SMA ini. Dalam perjalanan perasaanku selalu tidak tenang, saat jalanan mulai macet, aku selalu melihat kearah jam tanganku untuk memastikan waktu. Hal itu selalu aku lakukan berulang kali ketika aku masih berada diperjalanan, bahkan selama 1 menit aku terus terpaku pada jam tanganku ini, dengan begitu aku bisa sedikit menghibur diriku, karena aku bisa melihat waktu yang berjalan dengan lambat. 19.17 aku baru tiba di sport area, cepat saja kuparkir motorku dan aku berkeliling mencari Naomi. Aku langsung menuju tempat duduk yang ada di depan air mancur, karena semenjak dari awal aku mengenal Naomi dikampus semester lalu, itu menjadi tempat favourite-nya saat pertama kali aku mengajaknya ke sport area ini, dan ternyata benar saja, dari kejauhan aku sudah melihat seorang perempuan yang sedang duduk sendirian.
“aduh, sorry ya Naomi gue telat. Lo tau sendiri kan kayak gimana macetnya jalanan kalau jam – jam segini?”. Ucapku dengan nafas yang masih terengah – engah.
Kulihat wajah Naomi, dia merespon perkataanku hanya tersenyum dan dengan pandangan matanya yang tertuju pada satu titik di depannya, yang akupun tidak tahu apa yang sedang dilihatnya.
“engga’ apa – apa kok Rie, oia makasih ya lo udah ngenalin tempat ini sama gue. Nyaman banget kalo lagi ada disini, emang tempat ini rame sih, tapi mereka asyik dengan kegiatan mereka masing – masing. Gue jadi ngerasa sendiri tapi engga sendiri kalau lagi ada disini”. Jelasnya panjang.
“hah? Apa?”. Ucapku terkejut.
Aku coba langsung memegang kening Naomi, yang kupikir dia sedang sakit karena tiba – tiba berbicara seperti itu, tentunya dengan maksud untuk sedikit bergurau dengannya.
“lo lagi sakit ya?”.
“enak aja, lo pikir gue sesakit itu apa? Emang ada yang aneh sama gue malem ini?”. Tanyanya penasaran.
“ada”. Jawabku singkat.
“hah, apa?”.
“itu gaya ngomong lo kayak orang yang bener aja”. Ledekku sambil tertawa.
“ah, sialan lo. Gue pikir apaan”. Ucapnya sambil tersenyum.
Saat itu aku benar – benar merasakan perbedaan pada diri Naomi, dia yang pertama kali kukenal pada saat pertama kali masuk kuliah adalah orang yang cerewet dengan sifat kekanak – kanakan tapi sosok Naomi yang saat ini ada dihadapan aku adalah Naomi yang mungkin kukenal 10 tahun kemudian.Tapi jujur, aku suka dengan Naomi yang seperti ini, terlihat dewasa dan cantik. Kupandangi Naomi sejenak sambil sedikit tersenyum.
“kenapa lo? Jangan – jangan lo yang lagi sakit? Malem – malem gini senyum – senyum engga’ jelas”. Katanya sambil tertawa yang balik meledekku.
Disepanjang malam ini aku bertemu dengan Naomi, aku tidak henti – hentinya mengobrol tentang apa saja yang bisa aku bicarakan dengan Naomi, kadang kita membahas masalah cita – cita, sesekali kita membahas mengenai masa lalu kita masing – masing. Aku coba menebak mengapa malam ini Naomi mengajakku keluar untuk sekedar berbincang – bincang seperti ini, mungkin dia merasa jenuh dengan apa yang saat ini sedang dijalaninya dan proses menuju dewasa memang terkadang seperti itu. Beberapa jam sudah dilalui tanpa terasa, sebentar aku mengalihkan pandangan mataku kea rah jam tangan yang ada di tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 21.35, malam yang cukup indah kulewati bersama Naomi. Entah darimana aku mendapatkan pemikiran seperti itu, perempuan yang biasa ketika bersama aku ini selalu terbuka dan apa adanya, tiba – tiba berubah drastis menjadi perempuan yang pendiam dan mampu memaksa aku menjadi seperti bukan aku yang juga terbuka dan blak – blakan ketika bersama dirinya.
“udah malem ya? engga’ kerasa yah Rie? Kalau gitu ngobrolnya kita lanjut lain waktu ya. Besok kan kita ada kuliah pagi”. Ucap Naomi santai.
“oh, i…iya juga ya, udah malem, ya udah kalau gitu kita pulang aja, besok kan dosennya engga’ ada toleransi buat terlambat walau Cuma 1 menit”. Sahutku dengan sedikit gugup.
Dengan senyuman yang menghiasi bibir Naomi menandakan bahwa sebentar lagi kita akan berpisah, dan belum puas aku melihat senyum Naomi yang manis itu, Naomi sudah beranjak dari tempat duduknya. Malam ini benar – benar menjadi malam yang tidak kuduga – duga sebelumnya. Baru kali ini aku dibuat diam oleh perubahan sifat Naomi yang begitu tiba – tiba. Dalam perjalanan menuju pulang kerumah aku masih saja berpikir tentang perubahan sikap yang Naomi tunjukkan padaku dan hal lain yang bisa kulakukan selain memikirkan perubahan sifat Naomi adalah selalu tersenyum tanpa sebab. Ketika aku masuk dalam kamar, aku langsung merebahkan tubuhku pada tempat tidur. Walaupun badanku terasa lelah dengan kegiatan seharian ini, namun aku masih saja memikirkan Naomi. Apakah aku sudah jatuh cinta pada Naomi? Dan jika memang aku sudah jatuh cinta pada Naomi, apa alasannya? Apakah perubahan sifatnya yang begitu tiba – tiba? Aku langsung mengalihkan semua kata – kata jatuh cinta pada Naomi dengan rasa kagumku padanya. Ya, itu yang paling tepat. Aku memikirkan Naomi karena memang aku merasa kagum atas perubahan sifatnya, dia bisa mendapatkan apa yang diinginkannya dengan usaha dan kerja keras dari dirinya sendiri. Saat pikiran tentang Naomi sudah tidak menggangguku lagi, aku langsung teringat dengan cerita film yang aku buat. Aku pun segera terbangun dari tempat tidurku dan mendekati laptopku untuk mengerjakan sinopsis dari cerita tersebut. Berurusan dengan perempuan memang bisa melupakan segala hal termasuk melakukan hal yang gila sekalipun. Aku langsung menghela nafasku sebelum aku berfikir yang semakin jauh tentang perempuan, karena biar bagaimanapun kita tetap akan membutuhkan seorang perempuan, karena alasan umumnya hidup didunia sudah ditakdirkan hidup secara berpasangan walaupun pasangan itu adalah musuh sekalipun. Langit dan bumi, kucing dan anjing, air dan minyak, begitu juga laki – laki dan perempuan seperti pada kisah cinta legendaris Romeo dan Juliet.
“Rie, thank’s ya buat malem ini, lo udah mau luangin waktu lo buat gue. Gue sedikit ngerasa tenang dan nyaman sekarang. Have a wonderfull dream ya buat tidur kamu malam ini. Bye”.
Kali ini aku benar – benar mempertanyakan maksud dari pesan yang dikirim oleh Naomi tersebut. Tidak biasanya dia seperti ini. Tapi sudahlah, aku ingin fokus untuk membuat scenario film yang sudah aku rencanakan sebelumnya. Akan semakin tidak tentu arahnya jika aku selalu memikirkan masalah yang sebenarnya sepele ini.
Synopsis
Judul : Mimpi Cerita Cinta
Ali yang merupakan mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta sudah tinggal selama 2 tahun di Jakarta. Dirinya merupakan pribadi yang tidak mudah jatuh cinta dengan sangat mudah, hingga pada suatu waktu secara tidak sengaja Ali melihat seorang gadis yang membuatnya cukup penasaran. Nama gadis itu adalah Desi, Ali mengetahui Desi dari jejaring social Facebook. Andreas yang merupakan teman Ali ternyata merupakan teman lama Desi. Disini, pribadi Ali yang tadinya merupakan seorang yang tidak mudah jatuh cinta pada seoang perempuan sudah tidak berlaku lagi, karena Perkenalan yang dilakukan oleh Andreas secara tidak sengaja itu ternyata membuat Ali sudah merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Lalu Ali pun melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan hati Desi, salah satunya memberikan Surprise dengan datang ke kost – kostan Desi yang tidak berada jauh dari kampusnya. Namun, dengan usaha – usaha Ali yang sudah dilakukannya untuk Desi tidak membuat hati Desi menjadi luluh, melainkan menjadikan Desi merasakan sedikit Risih dengan itu semua, hingga sampaipada akhirnya Ali menembak Desi, Ali pun mendapatkan jawaban yang membuat hatinya sedikit merasa kecewa. Desi menolak untuk menjadi pacar Ali.
Dengan penuh rasa keyakinan didalam hatiku, aku memberanikan diri untuk terus maju dengan cerita yang aku angkat dari mimpiku. Bermodalkan cerita yang sangat simple, aku akan membuat kemasan cerita ini menjadi beda. Akan banyak pesan yang ingin kusampaikan pada para penonton setelah menonton filmku ini. Well, sudah cukup larut malam sampai aku menyelesaikan synopsisku ini, sekarang aku ingin beristirahat, dan siap memulai hari esok dengan pengalaman yang berbeda.
Diary,
Hari ini aku sangat beruntung bisa mengenal orang yang baru dalam kehidupan aku, aku sudah mengenal dia sebelum malam ini, tapi tetap saja bagiku dia baru dalam keehidupan aku. Mampu membuat aku merasa seperti benar – benar hidup. Aku harap dia akan tetap seperti itu. Memberi warna dan inspirasi dalam setiap langkahku. Diary,aku ingin kamu mendengar harapan aku, malam ini aku berharap dia selalu ada untuk aku, begitu juga kamu yang selalu ada untuk aku, karena kamu nyata untukku.
Karena terlalu lelah dengan hari kemarin, hari ini aku bangun kesiangan dan aku kembali melakukan hal yang tergesa – gesa sama seperti saat semalam aku yang tergesa – gesa ingin bertemu Naomi karena tidak melihat waktu. Dan hal yang sama pun harus sama lagi kualami, yaitu terlambat.
“permisi pak, maaf saya terlambat. Apakah saya boleh masuk?”. Tanyaku sambil mengetuk pintu kelas.
“peraturannya sudah jelas kan? Di awal kuliah saya memberikan keterangan bahwa siapa saja yang terlambat masuk pada kelas saya walaupun itu hanya 1 menit, tidak ada konsekuensi sedikitpun tanpa terkecuali”. Jelas dosen itu sambil menatapku dari depan kelas.
“tapi, saya benar – benar ingin belajar di mata kuliah anda pak. Saya mohon, saya janji minggu depan saya tidak akan telat lagi”. Bujukku.
“sebelum kamu belajar di mata kuliah saya, coba anda belajar untuk menghargai waktu terlebih dahulu, setelah itu anda akan saya izinkan untuk bisa kembali mengikuti mata kuliah saya”. Jelas Dosen itu lagi.
“kalau begitu saya permisi pak”. Ucapku pelan sambil menundukkan kepalaku kebawah.
Bodohnya yang kulakukan tadi sampai mencoba membujuk dosen itu untuk mengizinkan aku masuk kedalam kelasnya, sudah jelas – jelas aku terlambat dan peraturannya pun sudah sangat aku mengerti, Tapi apa salahnya jika mencoba walaupun sebagian besar aku sudah mengetahui hasilnya. Untuk menghibur perasaanku yang sedang tidak karuan karena terlambat kesekolah, aku duduk di koridor gedung kelas. Walau nilai negatifnya aku tidak diizinkan masuk kelas karena terlambat, setidaknya aku mendapatkan nilai positifnya juga, yaitu aku bisa menghirup udara pagi yang masih sejuk ini, lalu disela –sela waktu ini aku bisa meneruskan cerita film ku untuk tahap pembuatan Skenario. Aku buka laptopku dan mulai untuk membuat Skenario filmku ini.
Saat aku sudah menyelesaikan beberapa scene dalam skenarioku, pandangan mataku sempat teralihkan dengan seseorang yang juga duduk dikoridor yang sama namun perempuan itu duduk di bagian ujung koridor. Sempat kulihat sebentar perempuan cantik yang memakai kerudung tersebut, tidak kusangka dia peka ketika aku sedang melihat dirinya. Dirinya menatap balik kearahku dengan tatapan mata yang tajam namun ekspresi wajah yang datar. Ketika aku sadar akan hal itu, langsung saja aku mengalihkan pandanganku lagi menuju laptop yang ada didepanku untuk melanjutkan scenario yang aku buat.
“Hei Rie, lo ada disini ternyata”. Ujar perempuan yang tiba – tiba saja mengagetkanku.
“ya ampun, lo bikin gue kaget aja, iya mau kemana lagi gue, mendingan gue duduk dikoridor aja sambil bikin scenario, dari pada ngalor – ngidul engga’ jelas”. Kataku sambil menghela nafas karena terkejut.
“gue minta maaf ya Rie sama lo, gara – gara kita ketemuan semalem, lo jadi telat dan engga’ dibolehin masuk ruang kelas”. Ucap Naomi dengan ekspresi wajah yang sedih.
“bukan salah lo kok, lagian emang gue aja yang bangunnya kesiangan”. Sanggahku.
“ya tapi kan kalau misalnya gue engga’ ngajak lo pergi semalem kan minimal lo bisa istirahat”. Ucap Naomi lagi.
“ya ampun Naomi, kalau lo bersalah itu, misalkan lo tinggal satu rumah sama gue dan lo sengaja engga’ bangunin gue buat berangkat kuliah, santai lah”. hiburku lagi padanya.
Ketika aku masih sedang berbincang – bincang dengan Naomi, aku melihat perempuan itu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kearahku dan Naomi. Saat perempuan itu hendak melewati aku dan Naomi, matanya sempat menatap ke arahku dengan tatapan yang sama saat tadi aku melihat dirinya di ujung koridor. Setelah perempuan itu melewatiku, pandangan mataku tidak lepas dari dirinya sebelum tembok ujung koridor yang 1 lagi menghalangi pandanganku terhadapnya.
“hei, kenapa sih lo ngelihatin Melody sampe segitunya?”. Tanya Naomi yang membuat pandanganku terhadap perempuan tadi lepas.
“oh, engga’ kok, gue Cuma heran aja. Pandangan matanya itu kok kayak yang jutek gitu sewaktu gue tadi engga’ sengaja ngelihat dia”. Jawabku.
“dia emang begitu, kelihatan sekilas emang jutek sih, tapi kalau lo kenal dia deket, dia baik kok orangnya”. Jelas Naomi yang tanpa sengaja memberitau sedikit informasi tentang perempuan itu.
“emangnya lo kenal sama dia?”. Tanyaku lagi penasaran.
“ya ampun, Melody itu terkenal kok di kampus ini, lo aja yang emang jarang update sama cewek cantik di kampus. Banyak yang suka sama dia, malah berita yang gue denger sekarang ini hampir semua anak cowok fakultas dia itu suka sama dia, gila kan”. Jelasnya lagi.
“emangnya dia anak fakultas mana?”. Tanyaku lagi.
“ya ampun Rie, wake up, What are you doing in here?”. Tanyanya terkejut.
“belajar”. Jawabku singkat.
“yes I know, but you must update too, babe. Kalo gini terus lo bakalan jadi mahasiswa paling cupu di kampus ini. Dia itu anak fakultas Sastra. Tepatnya dia ambil sastra inggris”. Jelasnya dengan ekspresi keheranan.
Hari ini kampus selesai pukul 15.30 sore, dan masih ada waktu sekitar 6 jam sebelum aku bisa bertemu dengan Melody untuk bisa berkenalan dengannya. Pikiranku disisa waktu 6 jam itu benar – benar tidak karuan, selalu saja aku membayangkan kejadian ketika aku melihat Melody dikoridor tadi pagi. Jika aku telaah lagi lebih teliti, kejadian ini hampir sama persis dengan apa yang aku mimpikan kemarin, hanya saja perbedaannya Melody tidak merokok ketika berpapasan denganku. Tidak salah jika Naomi bilang Melody salah satu perempuan yang paling cantik di kampus ini. Wajahnya yang manis, kulitnya yang putih, serta ditunjang dengan kondisi fisik yang proporsional, hanya laki – laki dengan memakai kacamata kuda yang tidak tertarik dengan Melody. Apakah kini aku benar – benar terjebak dengan perasaan cinta? Tapi kenapa bisa aku jatuh cinta terhadap Melody? Apa karena cantik wajahnya? Atau karena dia berhasil membuat aku menjadi merasa penasaran? Jam mata kuliah terakhir yang kosong tidak kupergunakan untuk melanjutkan membuat scenario filmku. Tapi tanpa sadar aku hanya diam melamun memikirkan Melody sambil membayangkan aku sudah bisa dekat dengan dirinya. Tinggal 20 menit lagi sebelum Melody keluar dari kelasnya. Aku segera menuju gedung Sastra yang letaknya bersebelahan dengan gedung fakultasku. Kali ini detak jantungku berdetak tidak seperti biasanya. Kali ini berdetak lebih cepat dari biasanya. Kenapa ini?
to be continued....
-RIE-

