“............Dan Kini aku mengerti............”.
Sebelum aku menyelesaikan kalimat terakhir dalam buku diary milikku ini, sejenak aku melihat kearah fotoku yang aku simpan diatas meja tempat biasa aku menulis diary ini. wajahku yang tergambar dalam foto itu terlihat sangat berseri – seri dengan seorang laki – laki yang dulu dirinya pernah mengisi kekosongan dalam hatiku ini. Namanya Tyo. Dia laki – laki yang sangat setia dan yang terbaik yang pernah aku miliki semenjak aku mengenakan seragam putih abu – abu. Tapi perlu dicatat juga bahwa laki – laki yang terbaik itu juga belum tentu merupakan cinta pertama dan terakhir bagi seseorang, termasuk aku. Begitu juga tyo, dia bukan laki – laki yang pertama yang telah mengisi kekosongan hatiku, karena sebelum Tyo hadir didalam kehidupanku, sudah ada kurang lebih 12 orang laki – laki yang datang dan pergi dari kehidupanku selama aku memakai seragam putih – biru. Dulu disekolah aku cukup dikenal dengan julukan princess tomboy. Karena sifatku dan dandananku ini yang cenderung terlihat tomboy oleh teman – temanku, namun walaupun begitu aku juga masih menyandang gelar primadona sekolah semenjak SMP dan SMA. Kulihat lagi fotoku yang lain yang berada diatas mejaku ini. masih sama fotoku bersama Tyo namun dengan ekspresi keceriaan yang berbeda – beda. Senyum kecil mulai menghiasai bibirku. Dan seolah – olah semua kenangan diriku bersama Tyo ini baru saja kualami kemarin.
Dan perlu aku akui juga, bahwa aku ini masih tidak bisa meninggalkan kebiasaan burukku untuk mengoleksi laki – laki lebih dari satu untuk menjadi pacarku. Selama aku duduk dibangku SMA dan berpacaran dengan Tyo, aku juga menjalin hubungan juga dengan 3 orang laki – laki lainnya, yaitu Adrian, Roby, dan Seno. Tapi seperti yang telah aku tuliskan sebelumnya bahwa walaupun begitu Tyo adalah yang terbaik yang pernah aku miliki. Senyumanku ini makin lama makin kurasakan sangat nyaman saat kulakukan itu sambil mengingat – ingat semua kejadian yang aku alami semasa aku SMA. Di masa itu aku lebih sering mengalami hal – hal yang buruk.
Pertengkaran demi pertengkaran yang kudengar dari kedua orangtuaku membuat kepalaku serasa akan pecah. Tidak hanya omongan – omongan keras yang keluar dari mulut kedua orang tuaku, tapi terkadang juga sering terdengar benda – benda pecah belah seperti piring, gelas dll jatuh dilantai akibat dibanting oleh kedua orang tuaku karena masing masing dari emosi mereka sudah sangat meluap. Dan pada akhirnya aku juga lah yang akan menjadi sasaran kemarahan dari kedua orang tuaku. Karena aku merupakan anak satu – satunya yang ada dalam keluarga ini.
Kemudian belum lagi tekanan dari kedua orang tuaku yang selalu memaksaku untuk mengikuti kemauan mereka untuk selalu menjadi juara dikelas dan kuliah disalah satu perguruan tinggi ternama, masuk kedalam jurusan kedokteran untuk menjadi dokter. Awalnya memang aku selalu menuruti segala kemauan kedua orang tuaku, akan tetapi semakin kesini aku merasa bahwa kedua orang tuaku selalu memaksa aku untuk menuruti kemauannya, apabila aku tidak menuruti kemauan mereka, kedua orang tuaku selalu memarahi aku habis – habisan dan terkadang juga memukulku hingga wajahku mulai terlihat kebiruan dibagian ujung bibir akibat tamparan keras dari orang tuaku.
“kenapa akhir – akhir ini mama selalu tampar aku? Selalu aja melampiaskan kemarahan mama yang engga’ jelas itu sama aku? Kenapa ma? Apa karena kemarahan ini semua akibat kekesalan mama terhadap perlakuan papa terhadap mama?”. Ujarku agak keras kepada mamaku setelah menampar pipiku.
“diam kamu Ghaida. Mama tampar kamu karena akhir akhir ini juga kamu selalu bersikap kurang ajar terhadap mama”. Bentak mamaku.
“apa salah aku ma? Apa selama ini Ghaida engga’ pernah turutin kemauan mama sama papa? Semua udah Ghaida lakuin ma, tapi please Ghaida mohon satu hal sama mama dan papa untuk tidak memaksakan kehendak mama dan papa untuk sepenuhnya mengatur kehidupan Ghaida. Karena Ghaida bukan boneka mainan papa dan mama yang bisa seenaknya mama perlakuin semau mama termasuk nyiksa Ghaida seperti ini”. Ucapku lagi.
Tanpa basa – basi lagi aku langsung meninggalkan mamaku dan pergi keluar rumah. Dengan spontan aku berjalan entah kemana, hanya mengikuti langkah kakiku pergi sesukanya dan hal yang sudah pasti kusadari namun tidak aku perdulikan adalah aku semakin jauh meninggalkan rumah. Padahal pada saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Karena aku merasa bosan sendirian, aku segera menghubungi Tyo untuk menemaniku disini. Setelah beberapa lama menunggu kedatangan Tyo, akhirnya dia datang sambil membawakanku sebuah minuman hangat yang mungkin dibawanya dari rumah.
“kamu kenapa harus keluar dari rumah sih Ghaida? Kamu kan bisa masuk aja kedalam kamar dan ngunci pintu. Besok kan hari senin, harus berangkat pagi buat ikut upacara”. Kata Tyo perlahan.
“ya mana aku tau say, aku spontan gitu aja keluar dari rumah. Kan tengsin kalau sekarang aku balik lagi ke rumah”. Ucapku dengan wajah sedikit cemberut.
“Terus sekarang kamu gimana? Nunggu semua orang dirumah kamu tidur terus kamu baru pulang ke rumah kamu dan masuk ngendap ngendap kayak maling?”. Ledek Tyo.
Walaupun situasi yang aku rasakan kurang baik, tapi jujur aku merasa sangat nyaman dan mulai sedikit melupakan kejadian yang baru saja aku alami dirumah. Hari yang semakin larut membuatku dan Tyo tidak menyadari sudah berapa lama Tyo menemaniku disampingku.
“sekarang kamu pulang gih, udah malem banget. Besok kita harus berangkat pagi – pagi kesekolah kalau
engga’ mau disuruh bersihin taman karena telat datang ke sekolah”. Ujar Tyo sambil tersenyum padaku.
Setelah pada malam itu aku berpisah dengan Tyo, aku tidak lantas pulang ke rumah. Aku masih berjalan – jalan untuk bisa lebih menenangkan pikiranku. Karena jujur aku sempat merasa sedikit depresi dengan segala tekanan yang ada dirumah.
Dan akhirnya aku pulang kerumah disaat waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Dengan tidak banyak waktu untuk aku beristirahat lagi, aku segera bersiap siap untuk berangkat kesekolah.
“kemana saja kamu semalaman? Sudah jadi anak brandal kamu?”. Tanya papaku yang tiba – tiba keluar dari kamarnya disaat aku baru saja turun dari tangga.
“Ghaida engga’ ngerasa kalau Ghaida udah jadi brandalan kok. Ghaida Cuma engga’ betah dirumah”. Jawabku sedikit cuek.
“apa maksud kamu menjawab dengan nada seperti itu? Kamu sudah berani sama papa?”. Bentak papaku.
“tampar Ghaida pa ! papa engga’ perlu marah – marah kalau pada akhirnya Ghaida bakalan ditampar sama papa! Dan juga engga’ bikin cape papa, pagi – pagi gini udah teriak – teriak”. Ucapku.
Benar saja apa yang baru saja aku katakan kepada papa, aku langsung ditampar oleh papa karena nada bicaraku yang terlihat sedikit cuek.
“makasih pa atas tamparan papa untuk yang kesekian kalinya buat Ghaida”. Ujarku.
Dengan bibir yang semakin terasa sakit dan terlihat semakin biru pada kulit pipiku yang putih, aku segera berangkat ke sekolah tanpa memperdulikan luka yang membekas dipipiku. Mungkin juga teman – temanku disekolah juga akan menyangka kalau aku habis berkelahi. Karena berkelahi juga merupakan salah satu hal buruk yang sering aku lakukan, bagi seorang wanita khususnya.
Hal – hal yang buruk tidak hanya sampai disitu saja. Semenjak munculnya masalah diantara kedua orang tuaku, nilai – nilaiku disekolah menjadi turun semua. Disekolah aku menjadi murid yang sedikit nakal. Ada saja kenakalan – kenakalan yang sering aku lakukan disekolahan.hal itu aku lakukan semata – mata karena aku ingin menghilangkan rasa jenuhku dengan setiap permasalahan yang ada.
Selesai upacara bendera, aku pegi ke toilet sebentar untuk membasuh wajahku yang dari tadi terasa sangat tidak enak akibat terkena sinar matahari pagi saat upacara berlangsung. Dan setelah aku keluar dari toilet dan hendak kembali ke kelas, secara tidak sengaja aku membaca selebaran brosur yang ditempel dimading sekolah tentang adanya lomba penulisan novel yang diadakan oleh salah satu instansi terkait dalam rangka memperingati dan memeriahkan hari ibu. Aku begitu antusias untuk mengikuti lomba tersebut, mengingat hobbyku dari dulu adalah menulis, aku selalu menuangkan hal – hal yang ada dalam imajinasiku untuk kemudian aku jadikan beberapa macam tulisan seperti cerpen, lagu, puisi, dan novel.
Terhitung mulai dari hari itu setelah mengetahui tentang informasi lomba tersebut, fokus aku kini hanya tertuju pada lomba itu. Dan aku seakan tidak memperdulikan segala sesuatu yang kini sedang menjadi permasalahan didalam otakku.
“Ghaida, bapak perhatikan dari tadi kamu seperti tidak memperhatikan materi yang bapak sampaikan. Dan dari tadi kamu hanya menulis coretan – coretan yang tidak ada manfaatnya ini”. tegas pak guru yang tanpa aku sadari sudah ada disampingku.
Tanpa panjang basa – basi lagi pak guru mengambil paksa kertas yang ada dimejaku dan merobeknya hingga menjadi sobekan – sobekan kecil. Aku yang mengetahui hal itu langsung saja merasa kesal dan memukul meja dengan sedikit keras.
“apa maksud bapak menyobek kertas milik saya itu?”. Kataku dengan nada sedikit keras.
“karena kamu tidak pernah memperhatikan materi yang dari tadi bapak sampaikan. Kamu hanya mencoret – coret tulisan yang tidak ada manfaatnya”. Jawab pak guru.
“tau apa bapak tentang saya sehingga bapak bisa berbicara itu adalah tulisan yang tidak berguna?”.
“mungkin bagi bapak itu tulisan yang tidak berguna, tapi tidak buat saya”. Lanjutku.
“kalau begitu bapak akan berikan kamu tugas sebagai ganti dari kesalahan kamu ini yang sudah tidak memperhatikan materi yang bapak kasih selama pelajaran bapak”. Tegas pak guru itu lagi.
“saya tidak akan mengerjakan tugas yang bapak kasih!”. Sahutku segera.
“apa kamu bilang?”. Tanya pak guru dengan terkejut
“apa pelajaran bapak penting bagi saya?”. Tegasku yang langsung meninggalkan pak guru.
Setelah keluar dari kelas, aku harus kembali membuat rangka novel yang tadi sudah disobek – sobek oleh pak guru. Aku tetap berada ditaman untuk mulai membuat novel hingga waktunya pulang sekolah telah tiba tanpa pernah masuk kedalam kelas lagi.
Aku pulang menuju ke rumah dengan perasaan yang tenang tanpa sedikitpun merasa khawatir dengan masalah yang sedang aku alami beberapa hari ini. dan sesampainya dirumah, aku dikejutkan dengan kemarahan kedua orang tuaku yang sudah menungguku.
“apa – apaan kamu selama disekolah kamu pergi – pergi dari kelas? Sudah merasa pinter kamu?”.
“apa itu?”. lanjut papaku sambil melihat kertas yang ada ditanganku.
“bukan apa – apa kok”. Jawabku singkat.
“apa itu?”. Paksa papaku.
Kemudian papaku langsung mengambil kertas novel yang sudah sedikit aku buat dan membacanya.
“Apa – apaan kamu ini?”. tanya papaku dengan sangat marah.
Papaku langsung saja merobek robek kertas novel yang aku buat seharian disekolah tadi. rupanya kedua orang tuaku sudah menerima laporan dari guru disekolah tentang apa yang sudah aku lakukan seharian ini disekolah.
“papa! Kenapa papa sobek – sobek kertas punya Ghaida itu?” tanyaku.
“sampai kapanpun papa engga’ akan pernah mengizinkan kamu jadi penulis seperti apa yang kamu inginkan. Apa kamu pikir jadi penulis itu akan membuat kamu banyak uang dan kaya akan materi?”. Bentak papaku sambil menampar pipiku.
“papa juga akan buang semua novel, cerpen, puisi yang kamu buat, agar kamu engga’ mikirin untuk jadi seorang penulis lagi”. tegas papaku.
Dengan perasaan yang sangat marah, papaku berjalan menuju kamarku dan langsung mengambil semua koleksi novel, cerpen dan puisi buatanku. Pada saat itu emosiku sudah tidak bisa aku tahan – tahan lagi. akupun mencoba untuk menghalangi papaku untuk melanjutkan membuang semua koleksi cerpen dan novelku.
“apa – apaan papa? Kenapa papa lakuin semua ini? apa semua yang papa lakuin semua ini akan bikin Ghaida menjadi bahagia? Sama sekali engga’ pa! Ini akan semakin membuat Ghaida menjadi gila”. Tegasku.
“untuk apa kamu menjadi seorang penulis? Lebih baik juga kamu menjadi seorang dokter yang lebih jelas lagi masa depannya”. Bentak papaku.
“kalau kamu masih keras kepala, papa akan usir kamu dari rumah, dan papa engga’ akan pernah enggap kamu sebagai anak papa lagi!!”. bentak papaku dengan keras sambil sekali lagi menampar aku.
“sampai kapanpun Ghaida akan cinta dengan hobby Ghaida ini, Ghaida engga’ akan pernah maksa diri Ghaida untuk bukan jadi diri Ghaida”. Sampai kapanpun Ghaida akan tetep jadi diri Ghaida sendiri”. Ucapku dengan yakin.
“kalau begitu kamu keluar dari rumah papa, dan jangan pernah kembali ke rumah ini lagi, karena mulai detik ini, kamu bukan anak papa lagi!!”. usir papaku.
Karena pada saat itu aku sudah tidak ingin merasa tersiksa lagi dengan tekanan – tekanan yang ada, aku mau tidak mau harus memilih satu – satunya pilihan papaku yang diberikan oleh papaku. Pikiranku pada saat itu semakin kacau, dan tidak tau harus berbuat apa dan tinggal dimana. Karena pada saat itu aku sudah memilih jalan hidupku sendiri untuk menjadi sorang penulis handal yang aku impikan, aku harus menjalani kehidupanku dengan apa adanya. Fokusku hanya satu, yaitu menjadi seorang penulis. Aku harus terus menjalani kehidupanku demi satu impianku. Karena aku yakin aku harus tetap berjalan kedepan untuk menghadapi keadaan yang lebih buruk, daripada harus berjalan kebelakang untuk hidup dalam kenangan yang buruk.
“............mengucapkan selamat tinggal tidak selalu harus menjadi hal yang buruk.......”.
Setelah aku selesai menuliskan kalimat terakhir itu dalam diaryku. Aku bisa tersenyum bahagia karena kebahagiaan yang selama ini aku impikan tidak hanya sekedar mimpi. Kini aku sudah menjadi penulis terkenal dan handal, seperti yang aku cita – citakan. Soal Tyo? Aku tidak tau. Karena semenjak aku pergi dari rumah, aku tidak pernah lagi berkomunikasi dengannya. So, thank you for Read a little story of me. Selamat tinggal Masa lalu .