“ya udah Len, sekarang lo ikutin aja apa yang terbaik menurut lo. Saran gue, kalau emang lo udah ngerasa engga’ nyaman sama Lutfi mendingan lo akhirin aja hubungan kalian karena gue yakin lo Cuma akan paksain keadaan aja kalau lo terus tetep jalanin hubungan kalian”
Aku tidak tahu apakah aku egois atau tidak dengan sms terakhir yang baru saja aku kirimkan pada Helen. Apakah karena jempol tanganku yang sudah sangat letih yang sudah hampir 2 jam ini setia dengan Helen yang membuat aku dengan mudahnya mengirimkan sms seperti itu? Yang jelas aku tidak tahu pasti kenapa aku menuliskan kalimat yang menurutku saran yang sedikit egois, yang aku tahu adalah aku yang saat ini menjadi seorang pendengar setia dengan jempol tangan yang kulitnya sudah mulai berwarna merah karena pegal kemudian sahabat aku yang sedang bersedih karena hubungan dengan pacarnya yang mulai retak. Dan satu hal lagi yang baru saja aku ketahui, yaitu pulsa handphone-ku yang berkurang sangat drastis selama 2 jam ini, entah mungkin sudah berapa puluh kali aku smsan dengan Helen atau bahkan mungkin ratusan. Tapi yang namanya cinta memang begitu, seperti umur seseorang, tidak ada satupun yang tahu kapan umur dirinya akan berakhir, semua adalah misteri. So, 7 bahkan 11 tahun berpacaran tidak akan menjadi jaminan bahwa cinta mereka akan dibawa sampai mati. Kapanpun, dimanapun dan siapapun yang merasakannya, cinta memang membutuhkan pengorbanan, bahkan mungkin tetesan air mata bila itu memang pantas dikeluarkan demi cinta. Tapi jika air mata itu masih belum bisa berhenti selama 3 hari 3 malam, lalu menimbulkan rasa tidak nafsu makan, melamun seperti orang gila sepanjang hari, apakah itu masih wajar bila dikatakan demi cinta? Apa sih cinta itu? Dan apa yang diinginkan oleh cinta hingga terkadang menjadikan setiap orang serasa menjadi seperti orang yang kehilangan akal sehat? Jawaban umum dari setiap orang adalah cinta itu buta. Buta yang berarti cinta tidak mengenal usia, perbedaan, status, materi, warna bahkan yang membuat cinta itu terdengar lebih tidak masuk akal adalah ketika arwah orang yang sudah meninggal menghampiri orang yang sangat dicintainya yang masih hidup walau sekedar membuktikan bahwa dirinya benar – benar sangat mencintai orang yang masih hidup tersebut. That was crazy, tapi yang aku percaya itu adalah bahwa cinta itu gila. Entahlah, aku hanya bisa menilai cinta dari sudut pandang orang lain yang merasakannya, bukan aku. Jadi seperti apa gilanya cinta, aku belum benar – benar merasakan. Dan cinta yang kualami sewaktu SMP dulu aku rasa masih sebatas cinta monyet, yang terjadi karena adanya ledekan dari teman – teman, bukan karena adanya perasaan dari hati kita masing - masing.
Pikiranku sejenak menjadi tidak menentu arah karena sahabatku yang sedang gelisah karena cinta yang dimilikinya. Sebenarnya aku ingin juga sesekali merasakan bagaimana cinta itu membuat diriku seperti orang gila yang tengah merasakan ketidakkaruan rasa yang ditimbulkan karena cinta, tapi saat ini aku ingin fokus terlebih dahulu untukbisa menjadi seorang penulis yang terkenal. Urusan pacar aku tidak mau ambil pusing, aku tidak mau semua target aku berantakan karena cinta. Sepintas terdengar seperti aku sangat tidak membutuhkan cinta, itu mustahil, karena aku percaya sewaktu kita masih dalam kandungan ibu, kita sudah memiliki cinta walau belum bisa berfikir cinta itu apa, tapi minimal kita sudah mendapatkan rasa cinta itu dalam kondisi yang berbeda. Aku ingin sekali menulis sebuah scenario untuk film yang bertema cinta, aku ingin semua orang bisa memahami pengertian tentang cinta lewat film yang ingin aku buat ini. Dan tidak perlu memulai dari awal untuk membuat penoton mengerti apa itu cinta, aku yakin orang lain yang akan menonton film ini sudah jauh lebih mengerti daripada aku yang membuat scenario ini. Jujur untuk membuat film bertema percintaan yang beda dari biasanya, aku melakukan gambling secara besar – besaran karena serumit dan perbedaan dalam cerita yang bertema percintaan pasti hanya akan menemui 3 klimaks, yaitu sad ending, happy ending yang endingnya pun sudah banyak dibuat oleh orang lain dengan berbagai macam ending yang menurut mereka bagus dan yang terakhir adalah Twist Ending. Hanya bagaimana setiap orang bisa mengemas cerita tersebut menjadi sebuah jalan cerita yang masuk akal dan cukup membuat para penonton puas menonton filmku ini nantinya, bukan untuk mendidik penonton masuk kedalam situasi percintaan dalam cerita film dan diterapkan di dunia nyata supaya bisa terkesan menjadi seorang yang sangat romantis. This is the real world, something must be thinking with logic, not just about feel.Contoh jika dalam film seorang laki – laki dengan sangat berani untuk melakukan bunuh diri hanya untuk menukarkan sebuah kepercayaan bahwa laki – laki tersebut sangat mencintai pacarnya, yang cerita ini nantinya mungkin akan menjadi sad ending yang sangat mengharukan jika memang pacarnya merasa menyesal karena membiarkan laki – laki itu bunuh diri, tapi jika pacarnya mencari laki – laki lain untuk dijadikan kekasihnya, mungkin cerita itu bisa lebih dari sekedar sad ending, tepatnya very sad ending banget, karena pengorbanan laki – laki yang sudah menukarkan nyawanya untuk sebuah kepercayaan dari pacarnya tidak ditanggapi dengan serius dan mati pun dia membawa dosa karena tuhan sangat membenci seseorang yang melakukan tindakan bunuh diri. Well, that just was an example. Cukup lama aku merebahkan tubuhku di tempat tidur dan berfikir sedikit mengenai gambaran percintaan yang selama ini ada didalam lingkungan sekitar kita yang beragam jenis dan tindakannya.
Kuraba - raba handphone yang tadi kuletakkan tidak jauh dari tangan, kulihat layar handphone untuk mengetahui apakah Helen membalas sms yang terakhir ku kirim padanya. Tidak ada pemberitahuan pesan yang masuk ke handphone-ku, itu menandakan mungkin Helen sudah bisa merasakan sedikit lebih tenang atau bahkan sedang menghabiskan air matanya demi seorang yang sudah mengisi hatinya selama 5 tahun ini. Aku tidak mau ambil pusing dengan masalah Helen, yang jelas tugasku sebagai seorang sahabat sudah kujalankan untuk mencoba menghibur perasaannya dan menenangkan hatinya selama ± 2 jam tadi. Kupejamkan mataku sebentar untuk beristirahat dan merefresh kembali otakku. Aku terkejut ketika dari kejauhan aku melihat seorang gadis yang sepertinya aku pernah melihat dia sebelumnya, sedang menatap ke arahku hanya sekian detik dengan tatapan mata yang tajam dan ekspresi wajah yang datar. Kutatap balik mata gadis tersebut dengan banyak pertanyaan yang muncul dalam benakku. Salah satu pertanyaan tersebut adalah mengapa dia menatap ke arahku seolah dia yang sedang marah padaku. Gadis yang kulihat itu berkulit putih, mempunyai wajah manis dan berambut panjang. Ketika gadis itu beranjak dari diamnya yang kemudian berjalan ke arahku dan hendak berpapasan, aku mencoba untuk ramah kepada dirinya dengan memberikan sedikit senyum walaupun mungkin jika orang sekarang bilang aku sedang mencari perhatian dari dirinya atau apapun namanya. Kira – kira pada saat jarak 2 m sebelum kita berpapasan, perempuan itu kembali melihat diriku dengan tatapan yang sama dengan sebelumnya namun kali ini dilakukannya sambil menyalakan sebuah rokok dan menghisapnya tepat didepanku. Memang sedikit terkejut diriku yang tiba – tiba melihat perempuan itu merokok, setelah perempuan itu berpapasan dengan aku, masih saja aku pandangi dirinya saat berjalan perlahan menjauh dariku. Tapi satu hal yang aku rasa aneh adalah ketika aku melihat dirinya yang sudah mulai menjauh dari diriku, aku merasakan seperti seseorang yang akan kehilangan sesuatu, rasa sedih itupun muncul dan ingin sekali rasanya menangis karena perempuan yang baru saja aku lihat itu menghilang dari pandangan mataku. Mungkinkah aku akan kembali bertemu dirinya? Ingin sekali harapan itu bisa terwujud untukku, yang ingin memberikan sesuatu kepadanya. Hadiah yang akan kuberikan dari langkah kaki yang mulai menjauh dariku.
“…Kusuka, dirimu kusuka, kuberlari sekuat tenaga ... Kusuka selalu kusuka, kuteriak sebisa suaraku ... kusuka dirimu kusuka, walau susah untukku bernafas...tak akan kusembunyikan Oogoe Diamond …” terdengar lagi samar – samar lagu Oogoe Diamond, namun kali ini juga kurasakan bersamaan dengan getaran yang diatas perutku. Saat aku mulai tersadar, ternyata ada panggilan masuk dihandphoneku, dan setelah kulihat dilayar handphone, itu adalah Naomi.
“hallo Naomi, ada apa?”. Tanyaku dengan suara seperti orang yang baru bangun dari tidur.
“Rie, hari ini temenin gue jalan yuk? Bete banget nih gue. Ada waktu kan lo?”. Ajak Naomi.
“ada kok, boleh deh”. Jawabku singkat.
“oke kita langsung ketemu sport area jam 7 malem ya. Bye Rie, sampe ketemu nanti malem.
Kulihat sebentar ke arah jam dinding setelah aku menutup telpon dari Naomi. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, itu artinya masih ada waktu 3 jam lagi sebelum aku bertemu dengan Naomi. Aku sempat melamun sebentar memikirkan sesuatu yang sempat membuat aku merasa sedih, beberapa detik kemudian aku baru teringat akan seorang perempuan yang aku lihat dalam mimpku. Aku mencoba memutar memori otakku untuk melihat kejadian dimimpiku dalam lamunanku. Sambil menghela nafas, kubantingkan diriku di atas kasur yang kini aku duduki. Ku usap – usapkan kedua tanganku pada wajahku, kembali setelah itu aku merasakan sebuah rasa penyesalan yang cukup dalam tentang mimpiku tersebut. Entah apa yang sedang terjadi pada diriku ini, aku dibuat merasakan perasaan menyesal oleh seseorang yang belum ku kenal baik, dan yang lebih konyolnya lagi itu ku alami pada mimpiku sendiri. Mungkin aku sudah sedikit menjadi orang yang lebay kalau orang bilang sekarang. Terlalu mengambil hati hal – hal yang tidak jelas.
Sepintas aku mendapatkan ide untuk membuat scenario film bertema romantic dari mimpi yang baru saja aku alami, memang mimpi yang aku lihat sangat sangat simple, namun aku berfikir mungkin saja ada sesuatu hal dari mimpi itu yang aku tidak sadar bisa aku cari tahu tentang apa maksud dari mimpi tersebut. Dan jika memang ini akan berhasil menjadi sebuah film bertema romantis, aku tidak berharap banyak, semoga penonton akan puas melihat film ini. Langsung saja ku ambil laptopku untuk memulai menulis ide cerita yang akan aku tuangkan menjadi sebuah synopsis. Aku mulai dengan sebuah judul yaitu, MIMPI CERITA CINTA. Kutulis baris demi baris ide cerita yang kuingat dari mimpiku itu, dan setelah beberapa saat menjadi ide cerita yang utuh, aku baca kembali cerita tersebut dengan teliti. Di ide cerita yang aku baca tersebut, aku hanya menangkap jalan cerita seorang laki – laki yang merasa sedih ditinggal jauh seorang perempuan yang belum dikenalnya. Aku terus baca berulang – ulang cerita tersebut yang berharap untuk menemukan sisi lain dari ceritaku ini, tapi semakin terus berulang kali aku membaca ceritaku ini aku semakin pesimis dengan cerita yang aku buat ini. Aku berpikir sejenak setelah selesai membaca yang ke sekian kalinya, apakah cerita ini akan menjadi sebuah film yang menarik untuk dilihat. Ku acuhkan laptopku untuk sementara waktu dan mencoba berfikir berulang – ulang mengenai hal itu, semakin aku terus menerus berfikir maka yang ada rasa pesimis itu kian bertambah besar karena dalam cerita ini aku tidak menyuguhkan sesuatu cerita yang berbeda, dan mungkin ini akan menjadi film bertema romantis yang paling membosankan yang pernah ada dalam dunia perfilman. Kenapa laki – laki itu harus bersedih saat ditinggalkan seseorang yang belum dikenalnya? Apakah laki – laki itu mulai merasakan cinta pada pandangan pertama? Dan harus aku buat seperti apa supaya film ini bisa menyampaikan maknanya pada penonton. Untuk sementara aku dipusingkan oleh dua pertanyaan itu, tidak tahu lagi jika nanti akan muncul pertanyaan – pertanyaan lain dari benakku yang malah bisa membuat aku semakin berpikir 1000x untuk membuat film ini. Saat aku sedang serius berfikir mengenai ceritaku ini, handphone-ku berbunyi yang sontak saja membuat pikiranku mengenai cerita ini berantakan. Kulihat ada sms masuk ke handphone-ku, aku tebak mungkin ini Helen yang masih belum bisa mengatasi rasa sedihnya dan ingin bercerita lagi lewat sms kepadaku, dan aku harus siap – siap lagi untuk menjadi pendengar yang setia. “jangan lupa jam 7 malem kita ketemu di sport area ya, Rie. Sekarang gue mau anter adik gue ke tempat lesnya dulu, gue pastiin kali ini gue gak akan telat deh”. Setelah aku baca pesan itu aku baru teringat janjiku dengan Naomi malam ini, mataku langsung terarah pada jam dinding yang ada disebelah kananku, waku menunjukan pukul 18.10 . pandangan mataku seketika berubah seperti terkejut melihat hantu.
“mati deh gue udah jam segini, Naomi kan paling engga’ suka nunggu”. Gumamku sambil beranjak dari tempat tidurku.
Dalam waktu 40 menit aku harus sampai di sport area, padahal waktu yang harus ku tempuh dari rumahku menuju sport area pada jam seperti itu bisa hampir 30 menit, karena pada jam itu aku berada pada jalur yang searah dengan para pegawai pulang kantor. Aku sudah terbayang akan macet pada jalan yang akan ku lewati.
Selesai berbenah diri, aku langsung berangkat menuju sport area dengan menggunakan sepeda motor yang kumiliki sejak kelas 1 SMA ini. Dalam perjalanan perasaanku selalu tidak tenang, saat jalanan mulai macet, aku selalu melihat kearah jam tanganku untuk memastikan waktu. Hal itu selalu aku lakukan berulang kali ketika aku masih berada diperjalanan, bahkan selama 1 menit aku terus terpaku pada jam tanganku ini, dengan begitu aku bisa sedikit menghibur diriku, karena aku bisa melihat waktu yang berjalan dengan lambat. 19.17 aku baru tiba di sport area, cepat saja kuparkir motorku dan aku berkeliling mencari Naomi. Aku langsung menuju tempat duduk yang ada di depan air mancur, karena semenjak dari awal aku mengenal Naomi dikampus semester lalu, itu menjadi tempat favourite-nya saat pertama kali aku mengajaknya ke sport area ini, dan ternyata benar saja, dari kejauhan aku sudah melihat seorang perempuan yang sedang duduk sendirian.
“aduh, sorry ya Naomi gue telat. Lo tau sendiri kan kayak gimana macetnya jalanan kalau jam – jam segini?”. Ucapku dengan nafas yang masih terengah – engah.
Kulihat wajah Naomi, dia merespon perkataanku hanya tersenyum dan dengan pandangan matanya yang tertuju pada satu titik di depannya, yang akupun tidak tahu apa yang sedang dilihatnya.
“engga’ apa – apa kok Rie, oia makasih ya lo udah ngenalin tempat ini sama gue. Nyaman banget kalo lagi ada disini, emang tempat ini rame sih, tapi mereka asyik dengan kegiatan mereka masing – masing. Gue jadi ngerasa sendiri tapi engga sendiri kalau lagi ada disini”. Jelasnya panjang.
“hah? Apa?”. Ucapku terkejut.
Aku coba langsung memegang kening Naomi, yang kupikir dia sedang sakit karena tiba – tiba berbicara seperti itu, tentunya dengan maksud untuk sedikit bergurau dengannya.
“lo lagi sakit ya?”.
“enak aja, lo pikir gue sesakit itu apa? Emang ada yang aneh sama gue malem ini?”. Tanyanya penasaran.
“ada”. Jawabku singkat.
“hah, apa?”.
“itu gaya ngomong lo kayak orang yang bener aja”. Ledekku sambil tertawa.
“ah, sialan lo. Gue pikir apaan”. Ucapnya sambil tersenyum.
Saat itu aku benar – benar merasakan perbedaan pada diri Naomi, dia yang pertama kali kukenal pada saat pertama kali masuk kuliah adalah orang yang cerewet dengan sifat kekanak – kanakan tapi sosok Naomi yang saat ini ada dihadapan aku adalah Naomi yang mungkin kukenal 10 tahun kemudian.Tapi jujur, aku suka dengan Naomi yang seperti ini, terlihat dewasa dan cantik. Kupandangi Naomi sejenak sambil sedikit tersenyum.
“kenapa lo? Jangan – jangan lo yang lagi sakit? Malem – malem gini senyum – senyum engga’ jelas”. Katanya sambil tertawa yang balik meledekku.
Disepanjang malam ini aku bertemu dengan Naomi, aku tidak henti – hentinya mengobrol tentang apa saja yang bisa aku bicarakan dengan Naomi, kadang kita membahas masalah cita – cita, sesekali kita membahas mengenai masa lalu kita masing – masing. Aku coba menebak mengapa malam ini Naomi mengajakku keluar untuk sekedar berbincang – bincang seperti ini, mungkin dia merasa jenuh dengan apa yang saat ini sedang dijalaninya dan proses menuju dewasa memang terkadang seperti itu. Beberapa jam sudah dilalui tanpa terasa, sebentar aku mengalihkan pandangan mataku kea rah jam tangan yang ada di tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 21.35, malam yang cukup indah kulewati bersama Naomi. Entah darimana aku mendapatkan pemikiran seperti itu, perempuan yang biasa ketika bersama aku ini selalu terbuka dan apa adanya, tiba – tiba berubah drastis menjadi perempuan yang pendiam dan mampu memaksa aku menjadi seperti bukan aku yang juga terbuka dan blak – blakan ketika bersama dirinya.
“udah malem ya? engga’ kerasa yah Rie? Kalau gitu ngobrolnya kita lanjut lain waktu ya. Besok kan kita ada kuliah pagi”. Ucap Naomi santai.
“oh, i…iya juga ya, udah malem, ya udah kalau gitu kita pulang aja, besok kan dosennya engga’ ada toleransi buat terlambat walau Cuma 1 menit”. Sahutku dengan sedikit gugup.
Dengan senyuman yang menghiasi bibir Naomi menandakan bahwa sebentar lagi kita akan berpisah, dan belum puas aku melihat senyum Naomi yang manis itu, Naomi sudah beranjak dari tempat duduknya. Malam ini benar – benar menjadi malam yang tidak kuduga – duga sebelumnya. Baru kali ini aku dibuat diam oleh perubahan sifat Naomi yang begitu tiba – tiba. Dalam perjalanan menuju pulang kerumah aku masih saja berpikir tentang perubahan sikap yang Naomi tunjukkan padaku dan hal lain yang bisa kulakukan selain memikirkan perubahan sifat Naomi adalah selalu tersenyum tanpa sebab. Ketika aku masuk dalam kamar, aku langsung merebahkan tubuhku pada tempat tidur. Walaupun badanku terasa lelah dengan kegiatan seharian ini, namun aku masih saja memikirkan Naomi. Apakah aku sudah jatuh cinta pada Naomi? Dan jika memang aku sudah jatuh cinta pada Naomi, apa alasannya? Apakah perubahan sifatnya yang begitu tiba – tiba? Aku langsung mengalihkan semua kata – kata jatuh cinta pada Naomi dengan rasa kagumku padanya. Ya, itu yang paling tepat. Aku memikirkan Naomi karena memang aku merasa kagum atas perubahan sifatnya, dia bisa mendapatkan apa yang diinginkannya dengan usaha dan kerja keras dari dirinya sendiri. Saat pikiran tentang Naomi sudah tidak menggangguku lagi, aku langsung teringat dengan cerita film yang aku buat. Aku pun segera terbangun dari tempat tidurku dan mendekati laptopku untuk mengerjakan sinopsis dari cerita tersebut. Berurusan dengan perempuan memang bisa melupakan segala hal termasuk melakukan hal yang gila sekalipun. Aku langsung menghela nafasku sebelum aku berfikir yang semakin jauh tentang perempuan, karena biar bagaimanapun kita tetap akan membutuhkan seorang perempuan, karena alasan umumnya hidup didunia sudah ditakdirkan hidup secara berpasangan walaupun pasangan itu adalah musuh sekalipun. Langit dan bumi, kucing dan anjing, air dan minyak, begitu juga laki – laki dan perempuan seperti pada kisah cinta legendaris Romeo dan Juliet.
“Rie, thank’s ya buat malem ini, lo udah mau luangin waktu lo buat gue. Gue sedikit ngerasa tenang dan nyaman sekarang. Have a wonderfull dream ya buat tidur kamu malam ini. Bye”.
Kali ini aku benar – benar mempertanyakan maksud dari pesan yang dikirim oleh Naomi tersebut. Tidak biasanya dia seperti ini. Tapi sudahlah, aku ingin fokus untuk membuat scenario film yang sudah aku rencanakan sebelumnya. Akan semakin tidak tentu arahnya jika aku selalu memikirkan masalah yang sebenarnya sepele ini.
Synopsis
Judul : Mimpi Cerita Cinta
Ali yang merupakan mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta sudah tinggal selama 2 tahun di Jakarta. Dirinya merupakan pribadi yang tidak mudah jatuh cinta dengan sangat mudah, hingga pada suatu waktu secara tidak sengaja Ali melihat seorang gadis yang membuatnya cukup penasaran. Nama gadis itu adalah Desi, Ali mengetahui Desi dari jejaring social Facebook. Andreas yang merupakan teman Ali ternyata merupakan teman lama Desi. Disini, pribadi Ali yang tadinya merupakan seorang yang tidak mudah jatuh cinta pada seoang perempuan sudah tidak berlaku lagi, karena Perkenalan yang dilakukan oleh Andreas secara tidak sengaja itu ternyata membuat Ali sudah merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Lalu Ali pun melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan hati Desi, salah satunya memberikan Surprise dengan datang ke kost – kostan Desi yang tidak berada jauh dari kampusnya. Namun, dengan usaha – usaha Ali yang sudah dilakukannya untuk Desi tidak membuat hati Desi menjadi luluh, melainkan menjadikan Desi merasakan sedikit Risih dengan itu semua, hingga sampaipada akhirnya Ali menembak Desi, Ali pun mendapatkan jawaban yang membuat hatinya sedikit merasa kecewa. Desi menolak untuk menjadi pacar Ali.
Dengan penuh rasa keyakinan didalam hatiku, aku memberanikan diri untuk terus maju dengan cerita yang aku angkat dari mimpiku. Bermodalkan cerita yang sangat simple, aku akan membuat kemasan cerita ini menjadi beda. Akan banyak pesan yang ingin kusampaikan pada para penonton setelah menonton filmku ini. Well, sudah cukup larut malam sampai aku menyelesaikan synopsisku ini, sekarang aku ingin beristirahat, dan siap memulai hari esok dengan pengalaman yang berbeda.
Diary,
Hari ini aku sangat beruntung bisa mengenal orang yang baru dalam kehidupan aku, aku sudah mengenal dia sebelum malam ini, tapi tetap saja bagiku dia baru dalam keehidupan aku. Mampu membuat aku merasa seperti benar – benar hidup. Aku harap dia akan tetap seperti itu. Memberi warna dan inspirasi dalam setiap langkahku. Diary,aku ingin kamu mendengar harapan aku, malam ini aku berharap dia selalu ada untuk aku, begitu juga kamu yang selalu ada untuk aku, karena kamu nyata untukku.
Karena terlalu lelah dengan hari kemarin, hari ini aku bangun kesiangan dan aku kembali melakukan hal yang tergesa – gesa sama seperti saat semalam aku yang tergesa – gesa ingin bertemu Naomi karena tidak melihat waktu. Dan hal yang sama pun harus sama lagi kualami, yaitu terlambat.
“permisi pak, maaf saya terlambat. Apakah saya boleh masuk?”. Tanyaku sambil mengetuk pintu kelas.
“peraturannya sudah jelas kan? Di awal kuliah saya memberikan keterangan bahwa siapa saja yang terlambat masuk pada kelas saya walaupun itu hanya 1 menit, tidak ada konsekuensi sedikitpun tanpa terkecuali”. Jelas dosen itu sambil menatapku dari depan kelas.
“tapi, saya benar – benar ingin belajar di mata kuliah anda pak. Saya mohon, saya janji minggu depan saya tidak akan telat lagi”. Bujukku.
“sebelum kamu belajar di mata kuliah saya, coba anda belajar untuk menghargai waktu terlebih dahulu, setelah itu anda akan saya izinkan untuk bisa kembali mengikuti mata kuliah saya”. Jelas Dosen itu lagi.
“kalau begitu saya permisi pak”. Ucapku pelan sambil menundukkan kepalaku kebawah.
Bodohnya yang kulakukan tadi sampai mencoba membujuk dosen itu untuk mengizinkan aku masuk kedalam kelasnya, sudah jelas – jelas aku terlambat dan peraturannya pun sudah sangat aku mengerti, Tapi apa salahnya jika mencoba walaupun sebagian besar aku sudah mengetahui hasilnya. Untuk menghibur perasaanku yang sedang tidak karuan karena terlambat kesekolah, aku duduk di koridor gedung kelas. Walau nilai negatifnya aku tidak diizinkan masuk kelas karena terlambat, setidaknya aku mendapatkan nilai positifnya juga, yaitu aku bisa menghirup udara pagi yang masih sejuk ini, lalu disela –sela waktu ini aku bisa meneruskan cerita film ku untuk tahap pembuatan Skenario. Aku buka laptopku dan mulai untuk membuat Skenario filmku ini.
Saat aku sudah menyelesaikan beberapa scene dalam skenarioku, pandangan mataku sempat teralihkan dengan seseorang yang juga duduk dikoridor yang sama namun perempuan itu duduk di bagian ujung koridor. Sempat kulihat sebentar perempuan cantik yang memakai kerudung tersebut, tidak kusangka dia peka ketika aku sedang melihat dirinya. Dirinya menatap balik kearahku dengan tatapan mata yang tajam namun ekspresi wajah yang datar. Ketika aku sadar akan hal itu, langsung saja aku mengalihkan pandanganku lagi menuju laptop yang ada didepanku untuk melanjutkan scenario yang aku buat.
“Hei Rie, lo ada disini ternyata”. Ujar perempuan yang tiba – tiba saja mengagetkanku.
“ya ampun, lo bikin gue kaget aja, iya mau kemana lagi gue, mendingan gue duduk dikoridor aja sambil bikin scenario, dari pada ngalor – ngidul engga’ jelas”. Kataku sambil menghela nafas karena terkejut.
“gue minta maaf ya Rie sama lo, gara – gara kita ketemuan semalem, lo jadi telat dan engga’ dibolehin masuk ruang kelas”. Ucap Naomi dengan ekspresi wajah yang sedih.
“bukan salah lo kok, lagian emang gue aja yang bangunnya kesiangan”. Sanggahku.
“ya tapi kan kalau misalnya gue engga’ ngajak lo pergi semalem kan minimal lo bisa istirahat”. Ucap Naomi lagi.
“ya ampun Naomi, kalau lo bersalah itu, misalkan lo tinggal satu rumah sama gue dan lo sengaja engga’ bangunin gue buat berangkat kuliah, santai lah”. hiburku lagi padanya.
Ketika aku masih sedang berbincang – bincang dengan Naomi, aku melihat perempuan itu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kearahku dan Naomi. Saat perempuan itu hendak melewati aku dan Naomi, matanya sempat menatap ke arahku dengan tatapan yang sama saat tadi aku melihat dirinya di ujung koridor. Setelah perempuan itu melewatiku, pandangan mataku tidak lepas dari dirinya sebelum tembok ujung koridor yang 1 lagi menghalangi pandanganku terhadapnya.
“hei, kenapa sih lo ngelihatin Melody sampe segitunya?”. Tanya Naomi yang membuat pandanganku terhadap perempuan tadi lepas.
“oh, engga’ kok, gue Cuma heran aja. Pandangan matanya itu kok kayak yang jutek gitu sewaktu gue tadi engga’ sengaja ngelihat dia”. Jawabku.
“dia emang begitu, kelihatan sekilas emang jutek sih, tapi kalau lo kenal dia deket, dia baik kok orangnya”. Jelas Naomi yang tanpa sengaja memberitau sedikit informasi tentang perempuan itu.
“emangnya lo kenal sama dia?”. Tanyaku lagi penasaran.
“ya ampun, Melody itu terkenal kok di kampus ini, lo aja yang emang jarang update sama cewek cantik di kampus. Banyak yang suka sama dia, malah berita yang gue denger sekarang ini hampir semua anak cowok fakultas dia itu suka sama dia, gila kan”. Jelasnya lagi.
“emangnya dia anak fakultas mana?”. Tanyaku lagi.
“ya ampun Rie, wake up, What are you doing in here?”. Tanyanya terkejut.
“belajar”. Jawabku singkat.
“yes I know, but you must update too, babe. Kalo gini terus lo bakalan jadi mahasiswa paling cupu di kampus ini. Dia itu anak fakultas Sastra. Tepatnya dia ambil sastra inggris”. Jelasnya dengan ekspresi keheranan.
Hari ini kampus selesai pukul 15.30 sore, dan masih ada waktu sekitar 6 jam sebelum aku bisa bertemu dengan Melody untuk bisa berkenalan dengannya. Pikiranku disisa waktu 6 jam itu benar – benar tidak karuan, selalu saja aku membayangkan kejadian ketika aku melihat Melody dikoridor tadi pagi. Jika aku telaah lagi lebih teliti, kejadian ini hampir sama persis dengan apa yang aku mimpikan kemarin, hanya saja perbedaannya Melody tidak merokok ketika berpapasan denganku. Tidak salah jika Naomi bilang Melody salah satu perempuan yang paling cantik di kampus ini. Wajahnya yang manis, kulitnya yang putih, serta ditunjang dengan kondisi fisik yang proporsional, hanya laki – laki dengan memakai kacamata kuda yang tidak tertarik dengan Melody. Apakah kini aku benar – benar terjebak dengan perasaan cinta? Tapi kenapa bisa aku jatuh cinta terhadap Melody? Apa karena cantik wajahnya? Atau karena dia berhasil membuat aku menjadi merasa penasaran? Jam mata kuliah terakhir yang kosong tidak kupergunakan untuk melanjutkan membuat scenario filmku. Tapi tanpa sadar aku hanya diam melamun memikirkan Melody sambil membayangkan aku sudah bisa dekat dengan dirinya. Tinggal 20 menit lagi sebelum Melody keluar dari kelasnya. Aku segera menuju gedung Sastra yang letaknya bersebelahan dengan gedung fakultasku. Kali ini detak jantungku berdetak tidak seperti biasanya. Kali ini berdetak lebih cepat dari biasanya. Kenapa ini?
to be continued....
-RIE-