Padahal berhadapan langsung dengan Melody saja belum. Atau apakah benar yang dibilang Naomi tentang aku, bahwa aku ini sudah menjadi anak yang cupu di kampus ini. Padahal, jika dekat dengan perempuan yang baru aku kenal, tidak seaneh ini. Aku berjalan melalui koridor lantai 2 yang menghubungkanantara gedung fakultas Sastra dan fakultas psikologi. Kulihat hujan turun sedang disertai suara gemuruh petir yang terdengar seperti sedang ingin menyambar sesuatu. Saat aku sudah dilantai 1, di koridor tapat didepan mading kampus aku bertemu dengan gerombolan anak perempuan yang hendak menuju pintu keluar kampus, ketika aku lihat lagi anak – anak perempuan yang ada dihadapan aku itu ternyata salah satunya ada Melody yang sedang berbincang – bincang dengan temannya sambil berjalan. Aku yang baru melihat wajahnya secara kebetulan saja detak jantungku yang semula biasa saja langsung berdetak dengan sangat kencang seperti orang yang sedang terkena serangan jantung, atau lebih tepatnya mungkin bisa dibilang terkena syndrome kagetisme ketika bertemu perempuan cantik. Tanpa basa – basi lagi, langsung kupanggil saja Melody yang mungkin tidak menyadari keberadaanku.
“Melody”. Panggilku dengan mata yang tertuju kearahnya.
Sebenarnya akupun memberanikan diri memanggil namanya dengan informasi seadanya dari Naomi. Dan jika Naomi memberitahu informasi yang salah tentang Melody, sudah tentu saat aku panggil nama Melody tidak aka nada yang menoleh, dan aku harus siap – siap memiliki muka tembok. Tidak berapa lama aku memanggil nama Melody, ada salah seorang dari gerombolan anak perempuan itu yang menoleh.
“iya”. Sahutnya singkat.
“bisa kita bicara sebentar? Aku ada perlu sama kamu”. Ucapku dengan penuh rasa percaya diri.
Atau lebih tepatnya bukan karena penuh rasa percaya diri, melainkan menjadi orang yang sok melankolis, berbicara lembut, sopan dan bernada sok romantis.
“ada apa ya?”. Tanya Melody penasaran.
“bisa minta waktunya sebentar engga’? kamu mau cepet – cepet pulang ya?”. Tanyaku lagi sedikit gugup.
“Mmm…engga’ cepet – cepet juga sih. Bisa kok emang mau bicara tentang apa?”. Tanya Melody lembut.
Mendengar Melody yang sudah mulai berbicara panjang lebar, rasanya kampus Cuma milik berdua aja saat ini, ditambah dengan suasana hujan yang menjadikan udara semakin dingin. Ingin sekali tubuhku yang diam ini loncat – loncat kegirangan, tapi itu engga’ mungkin aku lakuin tepat dihadapan Melody dan teman – temannya. Aku malah mesem – mesem engga’ jelas karena sudah tidak bisa menahan rasa senang yang aku rasakan. Melody sempet melihat kearahku sebentar dan tersenyum, entah karena ingin menertawakan aku karena aku senyum – senyum tidak jelas atau entah karena ada hal lain yang membuatnya ingin tertawa, but I don’t care. Kupikir kapan lagi hujan akan turun ketika aku sedang berdua bersama Melody.
“temen – temen, kalian duluan aja ya, nanti aku nyusul kalian di pintu keluar, aku mau ada perlu sebentar sama dia”. Ucap Melody pada teman – temannya sambil menunjuk kearahku.
Apa yang kulihat digerbang tadi dengan sekarang ternyata berbeda jauh, aku pikir Melody akan langsung mengacuhkan aku pada saat aku pertama kali memanggilnya. Perkataan Naomi mungkin memang ada yang harus aku ralat sedikit, Naomi sempat bilang jika Melody akan jadi sangat baik jika kita sudah kenal baik juga dengan dirinya, tapi yang kurasakan kini justru Melody juga bersikap baik terhadap orang yang belum dikenalnya dengan baik.
“oke, sekarang kamu mau bicara apa?”. Tanyanya yang seketika membuat lamunanku tentang dirinya berantakan.
“sebenernya engga’ usah nyuruh temen – temen kamu pergi juga engga’ apa – apa kok, aku Cuma pengen kenal sama kamu lebih jauh aja. Kamu engga’ keberatan kan?”. Tanyaku gugup.
Lagi – lagi aku jadi orang yang melankolis, tapi mungkin ini sudah 1 tingkat diatas melankolis, yaitu tegarkolis. Perpaduan antara sikap tegar yang tanpa bersalah sudah membuat teman – temannya meninggalkannya hanya untuk sekedar pembicaraan yang tidak penting, yang ingin berkenalan dengannya dan sikap berbicara yang sok lembut dan romantis.
“boleh kok, oia kamu belum kenalin nama kamu ke aku?”. Ujarnya sambil tersenyum manis.
“oh iya, sampai lupa ngenalin diri, nama aku Rie”. Jawabku.
“nama kamu siapa?”. Tanyaku balik.
“lho, tadi bukannya udah manggil nama aku ya? Berarti tau dong nama aku siapa?”. Ujarnya sedikit kebingungan yang dibuat – buat.
“oh, maksud aku nama panjang kamu”. Sahutku dengan gugup.
Kini aku bisa menilai diriku sendiri seperti apa, Ternyata aku memang harus banyak – banyak bergaul, jika tidak ingin gelar mahasiswa cupu melekat kepadaku, hanya karena berbincang – bincang dengan perempuan saja aku sudah keteteran.
“just call me Melody, oke”. Jawabnya singkat sambil tersenyum padaku.
Nama yang indah dengan wajah yang cantik, jawaban Melody yang apa adanya itu membuat aku langsung kehabisan kata – kata untuk mengajaknya berbincang – bincang. Aku memang benar – benar payah, baru mengajukan pertanyaan tentang nama saja sudah langsung kehabisan perbendaharaan pertanyaan. Aku dan Melody sempat terdiam selama beberapa menit karena aku tidak tahu lagi harus berbicara apa. Tapi selama beberapa menit aku terdiam itu, aku benar – benar merasa melihat seorang putri sedang berdiri dihadapanku. Pandangan matanya yang sedikit kosong tengah tertuju pada taman bunga yang sedang basah karena air hujan dengan tangan kiri memegang beberapa buku dan sesekali tangannya menadahi air hujan tersebut dan memainkannya membuat aku benar – benar kehabisan kata – kata, sebenarnya cukup dengan seperti ini aku sudah merasa sangat dekat dengan Melody.
“Mmm…kamu kedinginan engga’ hujan – hujan gini?”. Tanyaku tiba – tiba.
“ya lumayan sih, lupa engga’ prepare jaket dari rumah, soalnya engga’ tau kalau bakalan hujan”. Jelasnya.
“kalau gitu kita ngobrol di koridor dalem ruangan aja gimana? Supaya kamu engga’ terlalu kedinginan”.
Ajakku.
Pertanyaan dalam benakku hanya 1, aku dibingungkan antara aku yang sedang gombal dan apakah aku yang sedang perhatian terhadap Melody yang benar – benar tidak ingin dirinya merasa kedinginan. Ini termasuk dalam permainan kata – kata ketika sedang berbicara dengan perempuan. Melody tidak akan benar – benar tahu apakah aku sedang menggombali dirinya atau benar – benar perhatian terhadapnya, terkecuali jika dirinya langsung berfikir jika semua laki – laki itu sama yaitu gombal. Aku berfikir yang bisa menutupi itu adalah ekspresi wajah, jika aku berbicara dengan ekspresi wajah yang biasa saja mungkin sudah pasti penilaian aku dari Melody adalah aku sedang menggombali dirinya, tapi jika aku lakukan dengan ekspresi wajah yang sedikit panik, itu akan terlihat lebih bagus, karena disitu aku menjadi orang yang polos.
“udah engga apa – apa kok disini aja, aku juga seneng bisa lihat hujan”. Jawabnhya.
“wah ada kepiting tuh jalan di genangan air, kamu lagi laper engga’? kayaknya enak yah kalau dingin – dingin gini makan kepiting rebus”. Ucapku sambil menunjuk kepiting itu.
“iya sih, kayaknya enak juga ya kepitingnya kalau di rebus, apalagi dimakan pas udara lagi dingin kayak gini”. Sahutnya sambil tersenyum.
“wah ya udah makan aja kepitingnya”. Ujarku.
“engga’ deh, kasian kepitingnya nanti kalau dimakan”. Sahutnya sambil melihat kepiting itu yang berjalan menjauh dari kita.
“yah, kepitingnya udah jauh kan”. Ucapku yang sedang sedikit menyindirnya.
Melody hanya tersenyum mendengar aku sedang sedikit meledeknya, namun tidak beberapa lama, kepiting itu kembali lagi mendekat pada Melody.
“wah, ternyata kamu emang jodoh ya sama kepiting itu, dia balik lagi karena suka sama kamu mungkin, makanya dia engga’ bisa pergi jauh dari kamu”. Ledekku lagi.
Melihat kepiting itu yang benar – benar mendekat kepada Melody, dirinya hanya tertawa kecil mengetahui hal tersebut. Apalagi ketika kepiting itu berdiam diri tepat tidak jauh di depan Melody.
“hehehe, ditaksir sama kepiting tuh kamu, kok diem aja sih kepiting ceweknya?”. Ucapku.
Tanpa bisa berkata – kata lagi, Melody tersenyum lepas mendengar aku berkata seperti itu.
“mulai sekarang aku panggil kamu, kepiting ya?”. Tanyaku sambil meledeknya.
“ya ampun, jangan dong, masa di panggil kepiting”. Pintanya yang lagi – lagi dilakukannya sambil tersenyum lepas.
Selepas itu, aku dan Melody menjadi semakin dekat. Akupun memberanikan diriku untuk meminta nomer handphone-nya. Supaya bisa lebih mudah jika untuk menghubungi dirinya.
Sepulang dari kampus, aku selalu memikirkan kejadian yang belum lama aku alami bersama Melody. Hari ini aku senang bukan main. Senang yang aku rasaka pun aku tidak tahu sebabnya karena apa. Apakah aku sudah jatuh cinta pada Melody? Tapi kenapa bisa? Apa itu tidak terlalu cepat untuk bisa dibilang jatuh cinta? Apa tidak ada pendekatan yang lebih lagi untuk bisa memastikan perasaan bahwa aku benar – benar mencintai Melody. Dan apakah ini juga yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama? Aku tidak setuju, jika sekarang ini aku dibilang jatuh cinta pada pandangan pertama, karena menurutku, cinta itu tidak ada yang instant, kalaupun ada yang instant, mereka hanya merasakan cinta itu hanya dari fisik. Jika berbicara mengenai instant, dibelahan bumi manapun akan sama topiknya mengenai mie. Selain dalam kemasan juga sering di sertakan tulisan instant, mie tersebut enak jika dimakan dengan menggunakan nasi, kacang atom, baso, maupun yang dimakan masih mentah. Tapi logika-nya pun mie juga sebenarnya tidak instan, harus direbus dulu. Nggak mungkin kan makan mie mentah?. Tapi jika kembali lagi mengenai cinta instant, kemasan memang bisa menentukan orang tersebut bisa memunculkan cinta, tapi tidak menjamin itu baik bagi mereka atau tidak. Cinta instant lebih banyak yang menggunakan prinsip “bagaimana nanti” artinya mereka akan menyesuaikan perasaan mereka seiring berjalannya waktu. Banyak dari cinta instant ini yang berhasil, dalam arti berhasil membuat salah satu pasangannya merasa tersakiti karena keputusan yang terlalu tergesa – gesa, namun jika sudah siap akan resikonya, cinta instant pun tidak jadi masalah. Dan nampaknya malam ini aku akan tidur dengan dewi cinta berada disekelilingku.
Diary,
aku benar – benar seperti orang yang paling beruntung, karena dia masih setia denganku. Walaupun mungkin aku sedikit membosankan tapi sejujurnya aku tidak ingin dia pergi dari kehidupanku. Inilah caraku untuk membuat sesuatu yang berbeda, kulakukan hanya untuknya seorang. Keep me in your heart.
Bangun dipagi hari pukul 05.00 pun rasanya kini terasa ada yang berbeda. Walaupun sebenarnya tidak ada perubahan berarti yang sudah terjadi dalam hidupku. Semua pernyataanku tentang cinta kemarin, sekarang sudah aku rasakan, everything’s. bukan aku selalu menjelekkan cinta, tapi aku hanya lebih sering bertanya dalam setiap percintaan kenapa harus begini? Kenapa harus begitu? Dan jika memang hari ini aku merasakan semua yang aku katakana kemarin tentang cinta, mungkin ini sudah lumrah terjadi di semua kalangan. “selamat pagi Melody, gimana tidur semalam? Kalau sudah bangun dari tidur, jangan lupa shalat subuh ya”. Dengan penuh rasa percaya diri layaknya seorang yang sedang berpacaran, aku langsung kirimkan sms tersebut pada Melody, kuingat – ingat hari ini jadwal masuk kampusku pada mata kuliah pertama adalah pukul 08.00, tapi dosen pada mata kuliah yang pertama biasanya tidak pernah datang tepat pada waktunya, jadi aku pun sedikit agak santai untuk berangkat ke kampus hari ini. Karena hari ini aku sedang merasakan kebahagiaan yang alasan tepatnya aku sendiri tidak tahu, akupun langsung bersemangat untuk kembali mengerjakan scenario filmku, selagi masih ada waktu sekitar 3 jam sebelum berangkat menuju kampus. Perasaan bahagia memang selalu berdampak positif bagi setiap kegiatanku. Hari ini juga mungkin aku akan jadi orang yang paling murah senyum dikampus.
“Rie, tunggu sebentar”. Panggil seseorang dari arah belakangku.
“oh, ada apa Naomi? Wah, pagi – pagi udah bawa bingkisan kado lumayan gede nih? Ada apaan? Emang temen kelas ada yang ulang tahun?”. Tanyaku sambil melihat bingkisan yang dibawa Naomi.
“oh engga’ kok, engga’ ada yang ulang tahun, hari ini gue mau nembak seseorang. Makanya gue bawa bingkisan buat dia”. Jelasnya singkat.
“oh ya? Mau nembak siapa lo? Kok lo engga’ pernah cerita – cerita sih sama gue?”. Tanyaku dengan penasaran.
“yee, emangnya kalau gue mau ngapa – ngapain, gue mesti ya update status sama lo? Ya udah ah, cepetan, lo tolong bawain kadonya ya?”. Pintanya samba memberikan kadonya padaku.
Sambil berjalan berbarengan menuju ke ruangan kelas, aku tidak habis pikir dengan Naomi. Dia benar – benar sudah jauh berubah dari yang aku bayangkan. Dulu dia yang kukenal adalah anak yang mempunyai gengsi yang sangat tinggi, sekarang sudah membuang jauh – jauh perasaan seperti itu. Apalagi jika mengenai urusan percintaan, dia adalah perempuan yang paling ribet yang pernah aku kenal selama hidupku. Memang yang pernah dia ceritakan dulu kepadaku adalah keinginan setiap perempuan yang terlebih dahulu harus seorang laki – laki yang bisa mengungkapkan perasaannya dulu kepadanya berikut dengan keinginannya, yaitu ditembak dengan cara yang sangat romantis. Kalau dipikir – pikir lagi memang umum sih, tapi yang aku bilang Naomi orang yang ribet dalam urusan itu adalah, ketika ada laki – laki yang ingin menembaknya, semua itu harus sudah terkonsep dan sekaligus bisa menjadi surprise untukknya. Karena Dari situ juga Naomi bisa melihat seberapa jauh pengorbanan yang dilakukan seseorang kepadanya. Lalu ketika sudah berpacaranpun, Naomi merupakan seorang yang memegang prinsip dia dalam berpacaran, yaitu laki – laki yang harus terlebih dulu dalam setiap melakukan apapun, termasuk jika laki – laki itu ingin mengajaknya berbicara dan juga harus menjaga konsistensi sikap romantisnya selama berpacaran. Bagi yang sudah biasa berpacaran mungkin itu tidak menjadi hal yang sulit, karena setiap hari mereka sudah melakukan hal itu, karena mereka tidak saja menerapkan itu ketika berpacaran, pada saat berbicara dengan perempuan yang baru dikenalnya bisa saja seseorang itu bergaya sok lemah lembut, cenderung pendiam dan hal umum lainnya. Tapi, bagi aku, sangat tidak bisa jika aku harus melakukan apa yang bukan dari diriku. Jika memang seseorang bisa menerimaku dan mencintaiku, maka apa yang menjadi kekuranganku itu adalah konsekuensi yang mau tidak mau seseorang itu harus menerimanya. Karena menurutku cinta itu tidak akan pernah meminta, namun akan senantiasa memberi. Seperti contoh ketika kita sedang sakit, pacar kita dengan penuh rasa sayang akan memberikan perhatian yang lebih terhadap kita, merawat kita tanpa pernah memintanya untuk merawat kita, semua itu akan dilakukan dengan tulus oleh pacar kita. Namun bila asumsi itu tidak benar, maka itu merupakan sisi lain yang ada dalam setiap persepsi seseorang. Bila ada yang sedang sakit dan seorang pacarnya dengan tegas meminta untuk diperhatikan, meminta untuk merawat kita ketika sedang sakit dan tidak memperdulikan kegiatan pasangan kita ketika mungkin pasangan kita sedang ada deadline pekerjaan yang belum selesai, maka hal itu akan cenderung terkesan memaksa. Memaksa untuk minta dirawat, memaksa untuk diperhatikan. Dan untuk sekedar mengingatkan juga, kita hidup didunia tidak hanya dengan pasangan kita, tapi ada orang terdekat lainnya yang juga akan memberikan kasih sayang yang tanpa pernah kita minta sedikitpun, kasih sayang orang tua, kasih sayang adik, kakak, sahabat, teman, mereka semua akan memberikan itu semua hanya untuk hal yang sama, yaitu kebahagiaan kita. Karena jika mungkin mereka teringat akan pada awal mereka menerima cinta pasangan mereka, tidak ada unsur paksaan dari berbagai pihak manapun untuk menerima cinta pasangan kita. Itu hanya sebagai gambaran umum hal – hal kecil yang mungkin bagi kita sendiri tidak sadar akan hal tersebut. Aku harap, ketika cinta Naomi diterima oleh orang yang dicintainya, Naomi bisa bersikap jauh lebihdewasa dan mengerti akan setiap kekurangan yang dimiliki pasangannya, begitu juga sebaliknya.
“Gue doain lo Naomi, semoga lo akan menemukan cinta lo dan menjadikan cinta ini adalah cinta terakhir dalam kehidupan lo”. Gumamku dalam hati.
Sini biar gue bukain pintunya”. Ucap Naomi.
Apa yang terjadi setelah itu ternyata adalah hal yang sangat tidak aku duga – duga sebelumnya. Anak – anak kelas ternyata sudah berkumpul didalam kelas untuk memberikan surprise kepadaku. Dan 1 hal mengejutkan lagi yang baru aku ketahui adalah bahwa laki – laki yang ingin ditembak Naomi untuk menyatakan cintanya adalah aku. Dengan keadaan yang pada saat ini sedang ramai dengan gaduhnya sorak sorai dari teman – temanku yang mengucapkan berbagai macam kalimat yang tentu saja mendukung niat Naomi.
“Rie, aku lakuin semua ini buat kamu. Aku tahu selama ini aku masih memiliki sifat seperti anak kecil, dan aku berubah Cuma buat kamu. Aku bener – bener ngerasa nyaman banget setiap ada disamping kamu, dan kamu selalu bisa membuat aku menjadi hal yang terindah yang sebelumnya tidak pernah aku rasakan. Aku sayang kamu Rie, dan sekarang giliran aku yang pengen banget bisa ngasih kebahagiaan buat kamu, ngasih semua rasa sayang aku buat kamu. Kamu mau…sekali lagi jadi hal yang terindah untuk seumur hidupku?”. Jelasnya panjang.
Setelah beberapa menit suasana kelas menjadi seperti ruangan kosong yang ada penghuninya karena ucapan Naomi kepadaku, saat ini kembali ricuh dengan sorakan sorakan yang bilang bahwa aku harus menerima cinta dari Naomi. Aku benar – benar sudah 2x dibuat jadi orang yang sangat pendiam oleh Naomi, yang pertama karena perubahan sikapnya saat bertemu di sport area dan kemudian aku lagi – lagi dibuat terdiam karena perlakuannya pagi hari ini. Aku sendiri tidak tahu harus memberi jawaban apa terhadap Naomi, jangankan untuk tahu memberi jawaban pada Naomi, aku sendiri saja tidak tahu sudah diam seberapa lama semenjak Naomi memberikan kejutan ini untukku.
“Rie? Kenapa kamu diam? oh iya, kado itu untuk kamu. Aku harap kamu mau buka sekarang ya? Kalau kamu mau terima cinta aku dan mau jadi pacar aku, kamu kasih itu ke aku dan aku anggap itu kamu telah memberikan hati kamu untuk aku, dan kado itu hanya symbol hati kamu aja untukku. Tapi jika kamu nolak aku, kamu bisa ambil kado itu buat kamu, dan kamu bisa simpan hati kamu untuk kamu berikan sama orang yang kamu anggap pantas untuk mendapatkan hati kamu”. Ucapnya panjang.
Untuk sementara waktu, minimal aku bisa bergerak dan melakukan suatu hal dan tidak selalu terdiam seperti robot yang sedang kehabisan baterai. Aku turuti kemauan Naomi untuk memintaku membuka isi dari bingkisan yang saat ini ada ditanganku. Satu persatu bingkisan kado itu kurobek dan kubuang begitu saja dilantai depan kelas, itu bukan berarti menandakan aku yang tidak cinta kebersihan, aku cinta kebersihan, tapi untuk lebih tepatnya aku tunda dulu cinta kebersihan itu untuk permintaan Naomi. Hal itu bisa aku lakukan nanti setelah semua ini selesai, namun jika aku lupa masih ada petugas kebersihan kampus yang selau membersihkan seluruh isi gedung kampus ini. Setelah kertas kado itu telah aku sobek, aku baru mengetahui isi dari kado itu ternyata adalah sebuah kaos basket Original LA Lakers, Aku terkejut bagaimana Naomi bisa mengetahui bahwa aku pecinta basket dan LA Lakers? Berbagai pertanyaan mulai berunculan dikepalaku dengan kata pertama apa, bagaimana, mengapa, siapa, dengan kalimat yang tentu saja menyesuaikan dengan kata depan pertanyaan yang muncul tersebut.
“kalau kamu Tanya mengapa aku bisa tahu, itu karena favourite kita sama. Aku juga suka team basket LA Lakers. Rie, setelah aku perhatikan selama ini, banyak sekali persamaan diantara kita, tentang makanan kesukaan kamu yang sama denganku, minuman kesukaan kamu, warna kesukaan kamu, hobi kita yang juga sama – sama menulis. Aku harap dengan itu kita bisa menjalani ini secara bersama – sama dan kalau ditanya hal yang paling aku suka dari kamu itu adalah ketika kamu bisa membuat aku ngerasa nyaman dengan sikap kamu”. Jelas Naomi lagi.
Aku kembali terdiam karena perkataan yang diucapkan oleh Naomi, dan kini aku menjadi tahu alasan kenapa dia menyatakan perasaannya kepadaku.
“Naomi, aku bener – bener terima kasih banget kamu udah mau ngasih surprise ini buat aku, tapi aku harap kamu bisa terima apapun yang menjadi jawaban aku”. Ujarku pelan.
“iya Rie, aku akan terima apapun jawaban dari kamu”. Sahutnya singkat.
“maaf, aku engga’ bisa menerima cinta kamu, karena selama ini aku sama sekali tidak pernah ada perasaan yang lebih selain hubungan antara teman, dan aku juga sudah sangat mengagumi kamu dengan perubahan sikap menjadi lebih dewasa dalam waktu yang singkat. Namun, aku harap kamu jangan melakukan perubahan kamu atas dasar seseorang, tapi kamu harus lakukan itu mulai dari diri kamu sendiri yaitu hati kamu, untuk bisa mendapatkan lebih apa yang kamu inginkan. Sekali lagi aku minta maaf, kalau kamu kecewa dengan jawaban yang aku berikan buat kamu. Dan sesuai dengan permintaan kamu, aku akan simpan pemberian kamu ini sebagai symbol hati aku”. Kataku sambil memegang pundak Naomi.
Saat itu juga Naomi langsung menundukkan kepalanya kebawah untuk beberapa saat dan mengangkatnya kembali untuk tersenyum kepadaku.
“iya Rie, aku ngerti. Maafin aku juga ya kalau hal – hal seperti ini membuat kamu risih, karena aku juga tahu kalau kamu engga’ terlalu suka dengan surprise ini. Ya, dengan begitu kamu bisa simpan dan jaga hati kamu untuk kamu berikan kepada seseorang yang kamu anggap pantas untuk kamu cintai”. Ujarnya pelan.
Saat itu juga aku langsung meninggalkan Naomi dengan teman – teman dikelas. Apakah aku sudah menjadi laki – laki paling jahat bagi Naomi? Aku rasa tidak juga, karena aku juga punya hak untuk menolak cinta Naomi. Apakah aku adalah laki – laki yang tidak mempunyai hati? Tidak juga, karena jika aku memaksakan keadaan untuk menerima cinta Naomi, maka kedepannya aku akan merasa semakin terpaksa untuk memberikan hatiku yang seharusnya tidak kuberikan untuk orang yang tidak aku cintai. Kalau sudah begitu, mana yang dibilang tidak punya hati? Aku atau Naomi? Jawabannya bisa juga Naomi yang secara halus memaksa hatiku untuk menjalani hubungan yang tidak aku sukai. Dan sampai kapanpun Naomi tidak bisa mengetahui keterpaksaan yang aku rasakan, karena dia asik – asik saja menjalani hubungan itu, dan kalau sudah begitu tentu saja aku yang akan merasakan sakitnya menjalani hubungan yang tidak seharusnya dijalani, dan secara tidak langsung aku membuat Naomi sakit hati, tapi yang semua itu berawal dari Naomi juga yang memaksakan kehendaknya. Namun alasan aku yang paling utama menolak cinta Naomi adalah karena banyak persamaan diantara kita. Secara sekilas aku terlihat orang yang sangat bodoh dalam sejarah cinta – cintaan. Orang yang ingin membangun cinta pasti akan mencari persamaan dari diri mereka masing – masing, karena mereka pikir itu yang akan membuat hubungan mereka menjadi awet. Kalau aku tidak, dalam membangun sebuah rasa cinta aku malah cenderung mencari perbedaan yang ada diantara pasangan aku. Karena menurutku jika aku dan pasangan aku memiliki banyak kesamaan, itu sama saja dengan aku mencintai diriku sendiri namun dengan cerminan orang lain yang berbeda. Dan dalam hubungan percintaan itu akan cenderung cepat menimbulkan rasa jenuh diantara pasangan. Lalu alasan aku yang kedua menolak Naomi adalah terlihat dari perkataannya yang mengucapkan “yang paling aku suka dari kamu adalah ketika kamu bisa membuat aku menjadi merasa sangat nyaman” jika dipikirkan kata – kata tersebut memang tidak bermasalah sedikitpun, tapi yang menjadi permasalahanku adalah jika dia hanya suka ketika aku membuat dirinya nyaman, bagaimana jika suatu saat aku sudah tidak bisa membuat dirinya nyaman? Apakah hubungan itu akan langsung berakhir? Bisa iya, bisa juga tidak. Namun yang jelas dalam perkataan itu yang paling aku mengerti adalah, bahwa Naomi mencintaiku masih dengan suatu hal yang membuatnya tertarik bagi dirinya. Dan bagi aku jelas saja itu perhitungan dalam sebuah percintaan.
Sudahlah, mungkin saat ini Naomi menjadi sangat kecewa sekali dengan aku, tapi aku juga tidak bisa berbuat apa – apa, yang kulakukan itu juga untuk kebaikan dirinya dan khususnya juga kebaikanku sendiri. Selama beberapa jam aku hanya duduk memikirkan hal itu sendirian dikantin tanpa satupun makanan dan minuman dihadapanku. Hari yang benar – benar gila. Biar saja aku yang dianggap gila, karena cinta memang begini. Sesuai dengan dugaanku, antara perkataanku dan kenyataan ketika perasaan sudah mengungkapkan kata cinta, itu tidak akan pernah bisa kita tebak akan seperti apa akhirnya. Alasan aku menolak Naomi hanya segelintir pernyataan real yang aku rasakan dan aku pikirkan selama aku diam saat surprise itu ditujukan kepadaku. Sebenarnya masih ada banyak pernyataan yang berbeda namun dengan maksud yang sama untuk menolak cinta Naomi, ada puluhan bahkan mungkin ratusan pernyataan yang bisa tidak masuk akal dan tentunya dengan orang yang berbeda. Cinta memang selalu tidak pakai logika, namun perasaan. Oleh karena itu banyak pemikiran – pemikiran yang logis tentang cinta yang tidak bisa diterapkan dalam membina hubungan sebuah percintaan, karena banyak orang menjalani percintaan itu sekitar 99% menggunakan perasaan dan 1% memakai logika. Itu sebabnya juga terjawab kenapa setiap ada yang tersakiti karena cinta, air mata selalu keluar walaupun sekuat apapun kita menahannya.
“aku engga bermaksud untuk menyakiti perasaan kamu, Naomi”.
to be continued...
- RIE -